Kisah Seorang Zen / Lima
30 Mei, 2006
Tatapan
“Ida, kamu suka ya, sama cowok yang kemarin?” tanya Tante Nana.
Ida hanya bersiul sembari meneruskan masakannya.
“Gitu ih! Eh, masak apa nih?”
“Ada deh…”
Sebal, Tante Nana meninggalkan Ida, menuju ruang keluarga. Ia menyalakan televisi dan menonton berita. Tante Nana terpaku pada layar televisi itu. Hingga keluarlah air mata, dan sebuah teriakan keras:
“IDA!”
“Ya?”
“Ada gempa di Jogja!”
“Wah?”
“Cepat, telepon Om Heru!”
“Ngga ada pulsa, ih!” Emangnya kenapa dengan Om Heru?
“Ya pake telepon rumah, atuh!”
“Itu, di tangan Tante apaan?”
“Handset telepon.”
Muka Tante Nana berubah merah. Dengan cepat ia menekan nomor ponsel Om Heru, dengan harapan bakal diangkat.
Sibuk.
Tante Nana terus mendial nomor itu berkali-kali, hingga akhirnya berhasil. Om Heru selamat, karena kebetulan lagi minum kopi di kafe. Tentu saja, karena Om Heru masih di Jakarta, bukan Jogja.
“Di sini nggak ada gempa kok, say. Aku kan masih di Jakarta! Kok bisa lupa sih?” cetus Om Heru, tertawa.
Muka Tante Nana bertambah merah. Hingga akhirnya pingsan. Aku mengambil handset itu dan melanjutkan percakapan.
“Halo Om, ini Ida, Tante pingsan.”
“Aku tahu. Itu kebiasaan dia. Bentar lagi juga bangun, kok. Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam.”
Ida kembali memasak, hingga kemudian badannya terasa tak enak.
Sampai saat Tante Nana bangun, saat itulah Ida yang giliran pingsan. Tubuhnya sangat panas. Tante Nana langsung memanggil Dono, supir keluarga, untuk mengantar Ida ke rumah sakit.
Starbucks, Cilandak Town Square
“Hai Ben” kataku sambil menyeruput capuccinoku.
“Hei,” jawab Iben, “ Film bentar lagi udah mulai nih!”
“Nyantai…”
Hari ini aku sedang tidak mood. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk nonton film di XXI bareng SCT. Film action katanya, tapi aku tidak begitu peduli, yang penting bisa bikin mood lagi. Sebentar lagi UNAS, dan kita butuh refreshing. Namanya juga ‘hari tenang’.
Ternyata aku ditipu. Filmnya bukan action sama sekali, malah justru film drama romantis. Katanya, buat dua pria yang sedang dimabuk cinta. Ya, nggak apa-apa. Menonton film itu aku jadi teringat Ida… sedang apa ya, dia?
Setelah film selesai, kita punya acara masing-masing. Iben harus menjemput Sinta, Terry harus menjemput Santi, sementara Anto, Arie, dan Adri berencana untuk ke ‘panti pijat’. Paling tidak begitu katanya. Kata mereka, tubuh mereka lagi pegal, tapi entah apa maksud mereka sebenarnya. Aku ada urusan administrasi rumah sakit yang harus diselesaikan dulu. Maka bergegaslah aku ke Medistra.
Di jalan, perasaanku berubah menjadi tidak enak. Tanpa kusadari, tahu-tahu aku sudah mengambil ponselku dan menekan nomor Ida, dan ponsel itu sudah tertempel di telinga. Terdengar beberapa kali nada sambung, tapi akhirnya masuk mailbox. Ida tidak mengangkat telepon. Apa artinya? Seorang Ida tidak pernah menolak telepon dariku. Karena aku makin cemas saja, aku telepon Tante Nana.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam.”
“Ida dimana, Tante?”
“Ida…”
“Kenapa?”
“Ida masuk rumah sakit, Zen. Tubuhnya panas banget.”
Aku tidak percaya.
“Rumah sakit mana, tante?”
“Medistra”
“Ya udah, aku ke sana ya!”
Kutancap gas, melewati begitu banyak mobil, bahkan polisi yang mencegatku karena melanggar 3in1. Aku tidak peduli. Yang aku pikirkan saat ini hanyalah Ida seorang. Aku hanya berhenti saat berada di pintu masuk Medistra. Aku parkirkan mobilku dan menuju meja resepsionis.
“Mbak, boleh tanya, pasien Nur Fa’idah ka—“
“Tiga Kosong Empatbelas”
Tiga kata itu dan aku melesat menuju lift. Lantai tiga, aku keluar. Mencari-cari kamar 314. Aku sudah lumayan hapal rumah sakit ini, karena aku sendiri pernah dirawat disini.
Ketemu!
Aku ketok pintunya. “Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam,” Tante Nana membuka pintunya.
“Ida gimana, Tante?”
“Baik, jumlah trombositnya tidak terlalu drastis.”
“Trombosit? Ida kena DB, Tante?”
“Iya. Tante khawatir, minggu depan kan latihan UNAS…”
“Nanti saya atur susulannya, Tante.”
“Makasih ya Zen. Tante mau pulang dulu sekarang, Assalamu’alaikum.”
Dan Tante Nana pergi meninggalkan Ida denganku seorang. Aku terus berdo’a agar Ida diberi kesembuhan.
***
Ida siuman. Zen tertidur lelap di sebelah kanannya. Ida tersenyum. Dia lucu kalau lagi tidur. Ida membetulkan jaket yang menutupi Zen, kemudian menonton TV.
“Acara gosip. Bosen ah!”
Zen tiba-tiba mengigau, “MTV aje…”
“Bener juga ya.”
Ida mengganti saluran TV menjadi MTV, namun ia lebih memilih untuk hanya mendengarkan lagu-lagunya saja. Ia lebih suka membaca sebuah novel bertema filsafat islami sambil minum jus jambu ketimbang nonton TV. Selesai beberapa chapter, pandangannya beralih ke Zen.
Imut juga ni anak.
“Dor,” cetusku tiba-tiba, namun dengan nada datar.
“Hei Zen, udah bangun ya? Udah shalat subuh belum?”
“Enak aja, orang gue baru tidur jam empat… setelah shalat malam sama subuh.”
“Alhamdulillah.”
Zen angkat kaki ke wastafel dan mencuci muka, kemudian mengambil sebuah roti untuk sarapan.
“Mau?”
“Nggak, makasih. Perutku masih belum bisa mencerna.”
“Maksudku, jambu biji, o’on,” balas Zen gemas.
Muka Ida memerah saat Zen mengambil pisau dan mengiris sebuah jambu biji dengan lihai. Terbagilah jambu itu menjadi delapan irisan sama besar. Ida bertepuk sebelah tangan, karena tangan yang satu lagi diinfus.
***
“Sinta…”
“Iben…”
“Sinta…”
“Iben…”
“Sinta…”
Sinta mengambil sebuah roti ukuran besar dan memasukkannya kepada mulut Iben.
***
“Aku pulang dulu ya, ambil baju sama makanan dikit-dikitan. Mau nitip ngga?” tanyaku pada Ida.
“Yaah… jangan pergi dulu…” jawab Ida pelan.
“Apa?”
“Oh, nggak, nggak, nggak mau nitip.”
“Oke… aku kembali nanti siang, ya.”
“Oks. Jazakallah.”
“Amin. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Aku memutar gagang pintu, tapi Ida memanggilku.
“Eh, Iben, selamat ulang tahun!”
“Tadinya sih aku mau bikin surprise, tapi karena kamu kayak gini… happy birthday juga.”
“Terima kasih.”
Kisah Seorang Zen / Empat
29 Mei, 2006
Arti
Huaaah… aku bangun. Ibu dan Ida sudah bangun dari tadi. Ibu sedang di kamar mandi, sementara Ida sedang menyikat gigi. Terdengar suara Ida sedang bersenandung samar-samar di balik busa pasta gigi. Lucu. Ini pertama kali aku melihatnya menggosok gigi. Tak lama kemudian, Ibu keluar dari kamar mandi.
“Pagi, Zen. Baru bangun?”
“Pagi, Bu. Ya iya lah… susternya belum dateng? Infusnya hampir habis nih…”
“Bentar lagi kok. Sekarang baru jam 6 kurang seperempat.”
Ida tampaknya sudah selesai menggosok gigi.
“Eh, Zen, Ibu sama Ida mau ke bawah dulu ya, cari makan.”
Aku hanya mengangguk. Aku juga sudah lapar, tapi sarapan paginya belum diantar.
Walau aku di rumah sakit, aku cukup bahagia. Ibu dan Ida tampak sangat akrab, entah kenapa.
Tiba-tiba terdengar suara kaki-kaki yang berjalan di koridor. Mungkin itu suster, pikirku. Tapi lama-lama aku sadar bahwa kaki kecil suster-suster disini tidak seperti itu suaranya. Aku mulai cemas. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, sedikit demi sedikit. Terlihat seseorang, berpakaian serba tertutup, seperti pencuri yang akan menyusup. Tapi, tidak seperti layaknya seorang penyusup, orang ini pakaiannya begitu… rapih, dan… matching! Mana warna-warna yang dipakainya sangat ‘in’ untuk bulan ini. At least, begitu kata Sheila. Kemudian dia memberi aba-aba seperti menyuruh aku diam. Kalau dia benar-benar preman, aku dalam posisi sangat terdesak. Kalau ia benar-benar preman.
Kemudian ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya padaku. Setelah kuamati lagi, pistol itu hanyalah pistol mainan. Aku dikerjai. Maka aku berusaha menahan tawa, biar rencana berjalan seperti yang ia inginkan.
Dor! Pistol itu mengeluarkan bunga. Aku tertawa. Aku bosan dengan trik ini. Tapi, dia menarik pelatuknya sekali lagi. Bunga-bunga plastik tadi menyemprotkan air ke mukaku. Kali ini ‘preman’nya yang tertawa. Tapi ia tidak membuka balaclava nya.
“Benny, lo ngapain pake itu? Lepasin dong!”
Benny. Salah satu ‘mitra’ geng SCT, dan seorang ninja penganut aliran transvestisme, alias ‘bencong’. Hingga kini, orientasi seksualnya masih diperdebatkan.
“Ih, ogah deh, situ pasti ngga mau lihat yang dibawah indang! Menyeramkan, bow!”
Aku hanya tertawa. “Ngomong-ngomong, lo begimana bisa ngelewatin satpam di bawah?”
“Rahasia perusahaan.”
Benny menghilang, meninggalkan dompetnya.
***
Suster akhirnya datang, membawa sekantong penuh cairan infus. Ia mengganti kantong yang sudah kosong dengan yang penuh, mencatatnya, mengambilnya, kemudian pergi. Tanpa sepatah kata pun. Dingin sekali. Suhu ACnya aku ubah menjadi sedikit lebih tidak dingin (alias sedikit lebih panas). Kemudian datang seorang ibu yang membawakanku sarapan. Akhirnya perutku berhenti berteriak.
Makan!
Akan tetapi, saat sendoknya sudah berada di depan mulutku, aku malah berkhayal. Andaikan Ida yang menyuapku pagi ini. Andai saja. Semua orang tahu itu tidak mungkin! Lagipula, aku bukan bayi.
Ibu dan Ida kembali, bersama seorang ibu berkerudung.
“Assalamu’alaikum,” salam Ibu.
“Wa’alaikum salam,” jawabku, mulut masih penuh dengan bubur.
“Perkenalkan, ini Tante Nana,” kata Ida, “Beliau tante saya.”
Aku dan Tante Nana berkenalan.
“Cepat sembuh ya, Zen. Aku pulang dulu, Assalamu’alaikum,” pamit Ida.
“Wa’alaikum salam.”
Setelah Ida pergi, aku ngobrol dengan Ibu. Ternyata, Ibu telah lama kenal dengan Tante Nana, juga ibu dan bapaknya Ida. Tapi, mereka menghilang dalam bencana Tsunami Desember 2004 silam. Ida dan keluarga besarnya sudah berusaha mencari informasi tentang kedua orang tua Ida, tapi gagal. Ida sendiri pada saat itu sedang di Jakarta, dan selamat. Sejak peristiwa itulah, Tante Nana beserta suaminya, Om Heru, yang mengasuh Ida, dengan tabungan keluarga Ida yang bujubune besarnya. BMW peraknya? Oh, bukan, itu hadiah dari sebuah lomba yang ia menangkan.
Ida yatim piatu. Siapa yang menyangka? Jelas bukan aku.
***
Seminggu kemudian…
Akhirnya aku keluar dari rumah sakit dan kembali sekolah. Tidak banyak temanku yang datang menjengukku saat aku di rumah sakit. Ketika aku bertanya kepada mereka, ternyata kebanyakan tidak tahu bahwa aku masuk rumah sakit.
“Ben, kenapa gak lo kasih tau kalo gue masuk rumah sakit?”
“Lo sendiri ngapain ngunci gue di dalem UKS bareng Sinta?”
Aku tidak dapat menjawab, dan Iben pergi menuju kantin sambil bersiul. Aku menyusulnya. Tanpa berpikir panjang, kita berdua memesan menu favorit kita, nasi timbel dengan teh botol. Sambil menunggu, aku menanyakannya soal bagaimana ia bisa jadian sama Sinta.
Dan aku berhasil membujuknya untuk menceritakannya. Dengan syarat, aku membayar semua makanan dia.
Iben bersiap-siap
Hari Kamis, tanggal 24 Januari. Angin sepoi-sepoi. Cuaca cerah, temperatur 24 derajat Celsius. Kelembapan udara… kurang tahu.
Toilet Pria alias Kamar Mandi Cowok. Iben sedang menyiapkan strategi. Berkali-kali ia berlatih di depan cermin.
“Ketahuilah bahwa aku mencintaimu, sayangku.”
Tidak, tidak, tidak. Itu masih kurang untuk mendapatkan hati seorang bidadari yang bernama Sinta.
“Aku cinta kamu! Maukah kau jadi kekasihku?”
Terlalu mendramatisir. Kurang cuco.
“Gue suka elo.”
Apa itu?
“Kamu cantik, deh.”
Itu sih cuman memuji!
“Sudah beribu-ribu cewek yang aku temui, tapi baru kali ini aku lihat seorang bidadari.”
Lumayan. Tapi masih kurang.
Iben sempat terpikir untuk membuat sebuah puisi. Tapi ia tidak berbakat.
Bagaimana kalau ia ajak Sinta untuk jalan-jalan? Tidak.
Bagaimana kalau ia beri hadiah, dan hal-hal lainnya yang membutuhkan duit? Berat di ongkos. Dompet Iben diambil Benny, dengan jurus ninjanya.
Akhirnya Iben memutuskan untuk pergi apa adanya, dengan sisa hayat yang masih dikandung badan.
Iben bertemu Sinta
Agak deg-degan memang, tapi ia harus melakukannya.
Akhirnya ia ketemu Sinta, di dekat mading. Iben berusaha menenangkan diri.
Iben mulai membuka mulutnya, berniat untuk mengungkapkan perasaannya, saat itu juga.
“A…”
Sinta tertawa sedikit. “Tenang, aku menerimamu, kok.”
Kemudian datang saja Benny dari langit dan menampar Iben.
“Selamat, ya!” katanya.
Tanpa satu patah kata (oke, ada satu huruf yang dikorbankan) pun, Iben mendapatkan seorang pacar.
Kembali ke Kantin…
“Begitulah,” kata Iben.
Tapi aku sudah melahap habis nasi timbelku, dan kembali ke kelas.
Kisah Seorang Zen / Tiga
27 Mei, 2006
Farfetched
Iben mendatangiku dengan muka yang merah sekali, seperti ditampar.
“Ben, kenapa muka lo?”
“Habis ditampar anak-anak seangkatan. Hampir semuanya.”
Wah, ternyata ramalanku benar. Jangan-jangan aku bakat peramal? Tidak! Aku tidak sudi
menjadi peramal! Apalagi dukun!
“Wah, emangnya lo ngapain?”
“Oh iya, gue belum ngasih tahu elo. Sorry, man. Gue baru jadian.”
“Sama siapa?”
“Sinta. XII Sos-2”
Aku tidak mau menampar dia. Itu sudah pasaran. Kujambak rambutnya, dan kucabut sehelai
rambut — putih. Iben, sahabatku, ubanan.
“Apa ini? Lo ubanan, Ben!”
Mata Iben menunjukkan ketidakpercayaan. Aku hanya tertawa sedikit.
“Ibeeen… Ibeeen… ini sih bukan uban.”
“Apa, dong?”
“Ada burung pup di rambut lo.”
Bruk! Iben, sahabatku, pingsan. Aku berniat menggotong tubuh ceking dia ke UKS, tapi tibatiba
datang beberapa anak PMR dengan stretcher. Sebelum mengangkut Iben, mereka melihatku
dengan tampang menggoda dulu. Sekalian say hi, kali ya. Aku hanya membalas dengan
senyuman, itu pun dipaksa. Walaupun Iben pingsan, aku tetap cuek. Bagi Iben, hal ini sudah
biasa. Selain di-taik-in burung, tentunya.
***
Aku kembali ke kelas. Pelajaran terakhir di minggu pertamaku di sekolah ini. Bahasa Prancis.
Guru yang mengajarnya tidak diperkenalkan oleh Iben, menandakan bahwa ia disegani. Atau,
Iben saja yang tidak mengerti bahasa Prancis. Dan sepertinya yang kedua. Ternyata gurunya, Pak
Leo, baik-baik saja. Asalkan kamu mengerti bahasa Prancis. Pak Leo ternyata sangat narsis dan
suka makan fish sama buncis. Bagaimana saya tahu? Rahasia perusahaan, my friend.
Setelah pelajaran Bahasa Prancis, bel terakhir berbunyi, menandakan waktu belajar sudah
selesai. Setelah merapihkan tas, aku langsung menuju UKS. Terlihat Sinta sedang bermesraan
dengan Iben. Terlihat pula kunci UKS yang tergantung di pintu. Iseng, aku ambil kunci itu, dan
mengunci ruangan dari luar. Tapi kuncinya aku simpan di bingkai jendela. Aku tak sabar menanti
wajah mereka yang… entah bagaimana ekspresinya.
Ketika aku berbalik, aku terkejut. Ida, rupanya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” balasku. Sudah mulai terbiasa.
“Ngapain kamu?”
“Oh, ini… si Iben tadi pingsan gara-gara ada burung tiba-tiba pup di kepalanya.”
“Terus, kok dikunci?”
Sebelum menjawab pertanyaan Ida, aku sudah kabur. Menuju tempat parkir. Tapi aku
berhenti di mading dekat ruang serbaguna. Tertempel di situ, sebuah poster tentang lomba
renang antar SMA se-Jakarta Raya.
“Ehem,” cetus Ida, berusaha menarik perhatian.
“Eh, ada Ida. Ini ada lomba renang… kalo gue ikut gimana ya?”
“Emangnya kamu suka renang?”
“Me pardonner… gue dulu atlit renang… pas di Prancis.”
“Tapi itu dulu kan? Berapa tahun yang lalu”
Dengan ragu-ragu dan sedikit rasa malu, aku menjawab, “Tiga.”
Ida tertawa kecil. “Itu sudah kelamaan! Ayo, latihan sana!”
Mukaku memerah. Ida seperti menjadi ibuku.
“Tapi lo temenin gue!”
Namun Ida sudah pergi. Murung, aku angkat kaki menuju mobilku. Ternyata Ida ada di sana,
menghalangi aku. “Nggak solat Jum’at?” tanyanya.
Aku mencari alasan. “Aku mau naro tas dulu,” jawabku terpatah-patah.
“Oh, begitu. Saya duluan ya, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Aku bergegas menuju masjid. Adzan sudah berkumandang.
***
Di UKS
“Iben?”
“Ya?”
“Kita nggak bisa keluar dari sini!”
“Bukannya elo anak PMR?”
“Iya, tapi ini pintu dikunci dari luar!”
“Sin…”
“Ya?”
“Gue cinta elo.”
“Gombal.” Wajah Sinta menjadi sedikit ‘nakal’. Paling tidak, menurut Iben.
“Lo udah cuci rambut belum?”
Muka Iben memerah…. sangat merah… dan ia jatuh pingsan. Lagi.
***
Di Lapangan Parkir
Aku buka kunci mobil dan masuk. Aku buka kaca spion yang terlipat di kiri-kanan mobil.
Kemudian aku nyalakan mobil dan keluar sekolah. Terlihat Ida yang sedang jalan kaki di trotoar,
dan berhenti sejenak untuk memberi — bukan uang, melainkan beberapa bungkus nasi bungkus
untuk seorang ibu-ibu pengemis dan anaknya. Aku sangat kagum dengan ‘ritual’ — tapi bukan
ritual — itu. Sampai-sampai beberapa mobil di belakangku menglaksoniku. Aku tidak berhenti,
melainkan melaju dengan sangat lamban.
Dan aku teringat akan Ibel dan Sinta. UKS belum aku buka kuncinya. Seingatku, Ida juga
tidak membukanya. Aku putarkan mobilku.
BRAK! Itu suara terakhir yang aku dengar.
***
RS Medistra, kamar 302
Mataku membuka, setelah selama lima jam terpejam.
Wajah pertama yang aku lihat… cantik. Manis. Ibu.
“Aku di rumah sakit ya, Bu?”
Biasanya, orang bertanya-tanya dimana mereka berada, tapi aku beda.
“Man, kena karma lo!” sindir Iben.
Aku tertawa sedikit. Kepalaku sedikit pusing.
Pintu terbuka. Ida masuk. “Assalamu’alaikum,” sapanya.
“Wa’alaikum salam,” serentak semua yang berada di ruangan menjawab. Kecuali Iben, dia
atheis. Tapi mata ia tampak berbinar, kagum.
“Wa— selamat malam, Ida.”
Apakah aku salah dengar? Iben seolah-olah ingin menjawab salam Ida.
“Halo Zen. Lain kali, kalo muterin mobil, hati-hati ya!”
“Emangnya aku kenapa?”
“Minor concussion. Sangat ringan, untungnya.” Iben menjawab dengan gaya sok jadi dokter.
“Geger otak. Untungnya, sangat ringan. Tidak ada kerusakan permanen pada otakmu,” jawab
Ida, sembari meletakkan keranjang buah di meja, “tapi kamu harus bedrest selama seminggu
disini.”
“Anehnya, mobilnya nggak rusak,” kata Ibu aku.
Seminggu bedrest… tidak apa-apa, jadi nggak usah belajar di sekolah. Lagipula, kamarnya
pewe. VVIP gitu! Ada TV… AC… lengkap.
Kemudian pak satpam memberitahu, waktu kunjungan sudah selesai. Iben pamit, dan pulang.
Tapi Ida tidak pergi.
“Zen, aku boleh nungguin kamu kan? Kata ibu kamu boleh, kok.”
“Bo-bo-boleh, boleh. Thanks ya.”
“Sama-sama.”
Dan Ida tersenyum manis lagi. Senyumannya seolah dapat menghilangkan rasa sakitku.
Kisah Seorang Zen / Dua
25 Mei, 2006
Delapan
KRIIIINNGGG! Alarmku berbunyi. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Aku langsung keluar dari tempat tidur, dan… ADAW! Aku terpeleset sebuah kulit pisang, yang terletak tepat di samping tempat tidurku. Entah bagaimana kulit pisang itu bisa sampai di sana. Dengan kesadaran penuh (aku benar-benar terbangun karena terpeleset), aku beranjak ke kamar mandi. Namun aku lupa dimana kamar mandinya. Baru satu hari aku berada di rumah baruku ini. Dan karena kemarin aku sibuk mengurus Eno, mobilku yang rusak, dan tentunya Ida yang manis, aku tidak sempat ke kamar mandi. Bahkan, seingat aku, aku tidak buang air kemarin.
Aku tidak mengerti mengapa Ayah dan Ibu memutuskan untuk memindahkan sekolah aku, sementara Eno tidak. Memang, kita pindah rumah, tapi tetap di kota yang sama! Katanya sih, biar aku lebih pintar, karena sekolahnya lebih ‘bagus’. Padahal tahun ini aku sudah kelas XII, jadi terasa kagok… Tapi biarlah, karena aku tergolong cepat menyesuaikan diri.
Setelah kujelajahi rumah baruku, akhirnya ketemu juga kamar mandinya. Tepatnya, di depan kamarku. Buset. Aku bergegas mandi, buru-buru. Setelah 30 menit, baru aku keluar. Maklum, pintunya bermasalah. Aku langsung makan sarapan dan gosok gigi. Setelah pamit kepada Ayah dan Ibu, aku langsung menyalakan mobil dan berangkat ke sekolahku yang baru. SMA 8. Tidak lupa, aku bawa selembar kertas yang berisi ‘pidato’ singkatku alias perkenalan diri. Formalitas yang kadang memalukan, tapi buat aku, mungkin justru bisa menaikkan pamor. Aku kan keren (™).
***
Sesampainya aku di sekolah, aku langsung disambut oleh satpam dan tukang parkir yang belum pernah melihatku sebelumnya. Juga para adik kelas cewek yang tampak terkagum-kagum melihatku. Itu semua sudah biasa bagiku.
Aku masuk kelasku. Kelas XII Bahasa 1. Mengapa bahasa? Karena aku (sok) tergila-gila dengan filsafat. Terlihat lagi cewek-cewek yang menatapku. Ada pula seorang cowok yang menghampiriku, berkenalan. Namanya Iben. Dia bilang dia akan mengajakku berkeliling sekolah saat istirahat kedua.
Istirahat Kedua
Iben mengajakku keliling sekolah. Ia memperkenalkanku pada kurang lebih semua guru, yang tersenyum padaku. Tepatnya, guru-guru yang tidak ia perkenalkan adalah guru-guru yang kurang asik. Saat kita berdua ke kantin, aku tidak percaya pada apa yang kulihat.
Ida.
Aku sungguh tidak percaya. Ternyata dia sekolah di SMA ini. Aku langsung bertanya pada Iben.
“Ben, lo kenal sama anak itu ngga?”
“Mana? Yang berkerudung itu? Namanya Ida. Kelas Aksel, semester ini dia setara dengan kita, kelas duabelas.”
Aku terpana.
“Hoi, bangun!”
Aku berjalan menuju Ida. Dia terlebih dahulu menyapa aku.
“Assalamu’alaikum,” sapanya.
“Wa’alaikum salam.” Hore! Aku berhasil menjawab salamnya langsung!
“Ternyata kamu sekolah disini juga ya, z… eh, siapa nama kamu? Saya lupa.”
“Zen. Aku murid pindahan. Kamu aksel ya? Berarti nanti kita lulus seangkatan, dong!”
Tampak berpuluh-puluh cewek berbaju indis menatap aku dan Ida, sinis.
“Itu kalau lulus. Kalau kamu lulus.”
“Nyindir nih?”
“Gitu deh.”
“Eh, lo nyetirnya gimana? Udah mendingan?”
“Hehe… belum… sekarang saya terpaksa diantar kemana-mana.”
“Bagaimana kalau gue ajarin?”
“Hehe… lihat saja nanti. Eh, bel sudah bunyi tuh! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Dia benar-benar cantik. Dan benar. Bel telah berbunyi, menandakan sudah waktunya untuk kembali ke kelas. Tapi suara bel hanya aku dengar samar-samar, karena ada satu bunyi yang mengalahkannya — perutku yang keroncongan. Aku belum makan sedikitpun. Ternyata Iben sudah mendahuluiku, ia duluan ke kelas.
Pulang Sekolah
Aku sungguh lapar. Ingin sekali aku makan banyak-banyak dengan tingkah super rakus, kebalikan 180 derajat dari table manners, tanpa diperhatikan orang lain. Ingiiin sekali. Apabila aku makan di kantin sekolah, pasti bakal banyak yang menertawakan, maka aku ajak lima orang teman (cowok), yang aku pilih secara acak, dan Iben, untuk makan di restoran all-you-can-eat. Borju, katamu? Tidak juga, aku pakai kupon kok. Lagipula, aku bisa lebih mengenal mereka disana.
Di dalam mobil, kita ngobrol sampah. Nama-nama mereka ada Dhimas, Terry, Anto, Arie, dan Adri. Ternyata mereka semua itu anak satu geng, dan mengajak aku untuk masuk. Tapi geng mereka itu geng baik-baik, rajin menabung, dan berbakti kepada orang tua. Jadi, why not? Saat itulah aku resmi masuk geng ‘S.C.T.’. Singkatan dari: Sekumpulan Cowok Tampan. Kenapa harus SCT? Kenapa tidak SLT? ‘Cowok’ dan ‘cewek’ kan sama-sama diawali dengan huruf ‘C’! Bisa saja kan, diterjemahkan sebagai ‘sepuluh cewek tercantik’! Biarlah. Yang penting, MAKAN!
Setelah semuanya selesai, aku urus pembayarannya, dan membuka pintu mobil. Sungguh capek. Aku berniat langsung meloncat ke atas kasur saat sampai di rumah. Tapi jalanan macet. Jakarta, oh Jakarta.
Kisah Seorang Zen / Satu
25 Mei, 2006
Terpaku
Hari ini panas. Sangat panas. Cuaca yang sangat menyebalkan. Tidak hanya itu, ada saja orang yang bikin tambah ‘panas’ suasana. Eno, adikku, terus mengajakku untuk pergi ke Ancol. Memang, di sana ada beragam wahana yang bisa bikin dingin, tapi aku capek. Sangat capek. Jangan tanya kenapa, pokoknya capek. Biarkan saja dia menangis disitu! Tapi… kakak macam apa aku ini?
Tiba-tiba bel berbunyi. Ayah dan ibuku baru pulang dari supermarket. Aku berniat membuka pintunya duluan, tapi Eno lebih cepat. Begitu pintu dibuka dan Ibu mengucap salam, Eno langsung menangis, complain soal kakaknya yang gak becus ini. Tapi sebelum dia berkata terlalu banyak, langsung kubungkam mulutnya dengan wajah sok polos dan senyum iklan sikat gigi kepada Ibu. Apa boleh buat, akhirnya kita berdua ke Ancol. Yang satu sangat gembira, yang satu lagi terpaksa. Mobil pun melesat menuju jalan raya, dan terjebak disana. Persetan kota Jakarta yang membiarkan penduduknya mati muda di jalanan. Jalan tol tidak jauh berbeda. Macet. Macet…cet…cet… (dengan efek bergema) Setelah berjam-jam berlalu, akhirnya mobil berhasil masuk jalan tol, yang kini lega.
“Siap?”
Eno menelan ludah.
Dan mobil pun melesat dengan kecepatan tinggi! Sangat cepat, saudara-saudara! Tapi itu tidak berlangsung lama. Bruk! Mobilku tertabrak. Atau tidak, melainkan mobilku ditabrak. Oleh BMW pula. Sebagai tipe orang yang tidak suka dengan situasi begini, aku hadapi saja dengan kepala dingin dan gaya secuek-cueknya. Tetapi, orang yang menabrakku ternyata seorang perempuan berkerudung. Cantik. Ekspresiku berubah menjadi seorang fanboy di hadapan idolanya. Mulut menganga, terpesona. Di pinggir bibir ada setetes air liur, tertarik oleh gravitasi. Untung saja itu hanya konotasi, tapi aku sungguh terpesona. Ia meminta maaf berkali-kali dengan wajah yang alangkah gemasnya tapi aku hanya bisa terdiam. Akhirnya saat ia menawarkan ganti rugi, saya tolak, dengan suara yang sedikit canggung. Ia berterima kasih, dan aku membalasnya. Kemudian ia masuk ke mobilnya, dan langsung melesat cepat. Semoga ia selamat di jalan. Lalu aku sadar bahwa aku lupa meminta nomor teleponnya. Sial.
***
Mobil derek berhenti di bengkel. Raut wajah Eno tampak jengkel. Sampai rumah, pasti Ayah bakal ngomel. So what? Aku terus ingat perempuan tadi. Apakah ini cinta? Gitu deh. Tapi kenapa aku tidak minta nomor teleponnya? Bego, bego, bego! Tapi, namanya jodoh tidak akan pergi jauh-jauh kan? Emang bener. Tampak ada mobil derek yang masuk ke penataran bengkel. Mobil itu menderek sebuah sedan mewah — BMW berwarna perak yang menabrakku. Dunia ini memang begitu sempit. Secepat benda kuantum yang tidak bergerak, secepat itulah rasa dendam terkalahkan oleh cinta. Karena memang sebetulnya aku tidak pernah dendam. Begitu perempuan itu keluar dari mobil derek, aku hampiri dia. Aku menawarkan untuk berjabat tangan, tapi ia hanya tersenyum.
“Halo, Anda yang tadi saya tabrak ya? Sekarang saya kena impasnya juga, deh…”
“Oh, eh, iya. Nggak apa-apa kok. Kamu mengemudinya cepet banget! Lain kali, hati-hati ya!”
“Hehehe… maaf, maklum, baru belajar.”
“Oh, begitu. Oh ya, perkenalkan. Nama saya Zen. Lengkapnya Kaizen Malik.”
“Nama saya Nur Fa’idah. Panggil saja Ida. Ngomong-ngomong, nama kamu kok an… eh, unik banget?”
Aku tertawa ringan. Ida ikut tertawa. Kuakui, namaku memang aneh. Beginilah jadinya kalau punya orang tua yang kawin muda. Saat masih kuliah, mereka menikah. Ibuku seorang bintang kampus yang baik-baik dan ayahku seorang geek informatika. Saat itu Ayah sedang tergila-gila akan Jepang. Awalnya dari anime, hingga akhirnya begitu tertarik dengan budaya, bahasa, dan segala tentang mereka. Bahkan Ayah sempat mencoba menelusuri silsilah keluarganya. Ayah percaya bahwa, walaupun sedikit, ia punya hubungan darah dengan warga negara matahari tersebut. Ia terus mencari… dan mencari… dan mencari… hingga Ayah mengenal Ibu. Kata Ibu, Ibu sempat melanjutkan ‘penelitian’ Ayah. Sayang sekali, cerita selengkapnya tidak dapat saya publikasikan. Oh iya, konon, bagaimana Ayah yang begitu kuper bisa mendapatkan hati Ibu yang dambaan cowok-cowok sekampus adalah misteri. Hanya mereka yang tahu.
Kita terus ngobrol, sampai Eno menepuk bahuku, mencubit lenganku, dan menjambak rambutku. Monster! Monster yang kelaparan. Monster itu mengancam akan lapor kepada Ibu bahwa ia kelaparan karena tidak diberi makan oleh kakaknya. Setelah kalimat itu, kucabut julukan ‘monster’, karena apabila Eno adalah monster, berarti kakaknya yang tampan beserta ibunya ini monster juga! Itu penghinaan namanya! Ida tertawa lepas. Mukaku memerah, tapi karena marah, atau malu? Mobil kita rupanya sudah selesai dibetulkan. Adzan Maghrib mulai berkumandang.
“Eh, bol–” tanpa menyelesaikan kalimatku, Ida mendiamkanku. Baru setelah adzan selesai, dia mempersilahkanku berbicara kembali.
“Coba, kau renungkan adzan itu. Suaranya sungguh indah. Mobil kita tampaknya sudah selesai, saya ke masjid dulu ya!”
“Tunggu! Bolehkah saya minta nomor HP kamu?” tanyaku. Aku tak mau melakukan kesalahan dua kali.
“Boleh. Jangan tinggalkan Sholat ya.”
Aku langsung meng-save nomornya, tanpa memperhatikan perkataannya sebelumnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” jawab Eno. Namun Ida harus mengulang ucapannya sebanyak tiga kali sebelum aku menjawab.
Ida tersenyum manis. Maniiiis sekali. Aku ragu apakah gula dapat menandinginya atau tidak. Kemudian dia menegurku. “Lain kali, kalau orang mengucapkan salam, kamu langsung jawab ya!” seperti seorang Ibu yang memarahi anaknya. Aku pun mengangguk, pasrah. Saat itu juga ekspresiku berubah menjadi tampang fanboy terhadap idolanya, hanya saja kali ini benar-benar terjadi, bukan sekedar konotasi belaka. Senyum itu… sungguh indah.
“EHEM! Earth to Kak Zen!”
Dan Eno pun menarik aku kembali ke dunia nyata.
“Kak Zen suka ya, sama Kak Ida?”
Apa itu? Siswa SD kelas 5, masih manja, mengerti tentang cinta? Untuk zaman sekarang sih wajar, tapi tetap saja aku harus mendramatisir, selama hayat masih dikandung badan.
“Hus! Anak kecil nggak akan ngerti! Ayo, kita makan di restoran favorit kamu!”
Mata Eno berbinar, seolah berkata: Mauuuuuu!
Eno memang aneh. Dari kecil dia begitu. Nama lengkap dia sebenarnya Raffi Anwar, tapi entah kenapa saat dia mulai berbicara, dia memanggil dirinya ‘Eno’. Entah dari mana dia dapat nama itu. Orang tua kita selalu menentang dengan memanggilnya Raffi. Tapi tidak berhasil. Eno terus memaksa, hingga akhirnya dia berhasil menaklukkan Ayah dan Ibu, juga aku dan pembantu kita. Betapa dahsyatnya adikku ini.
Dan kini, Kaizen Malik telah berhasil menaklukkan Raffi Anwar.