Delapan

KRIIIINNGGG! Alarmku berbunyi. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Aku langsung keluar dari tempat tidur, dan… ADAW! Aku terpeleset sebuah kulit pisang, yang terletak tepat di samping tempat tidurku. Entah bagaimana kulit pisang itu bisa sampai di sana. Dengan kesadaran penuh (aku benar-benar terbangun karena terpeleset), aku beranjak ke kamar mandi. Namun aku lupa dimana kamar mandinya. Baru satu hari aku berada di rumah baruku ini. Dan karena kemarin aku sibuk mengurus Eno, mobilku yang rusak, dan tentunya Ida yang manis, aku tidak sempat ke kamar mandi. Bahkan, seingat aku, aku tidak buang air kemarin.

Aku tidak mengerti mengapa Ayah dan Ibu memutuskan untuk memindahkan sekolah aku, sementara Eno tidak. Memang, kita pindah rumah, tapi tetap di kota yang sama! Katanya sih, biar aku lebih pintar, karena sekolahnya lebih ‘bagus’. Padahal tahun ini aku sudah kelas XII, jadi terasa kagok… Tapi biarlah, karena aku tergolong cepat menyesuaikan diri.

Setelah kujelajahi rumah baruku, akhirnya ketemu juga kamar mandinya. Tepatnya, di depan kamarku. Buset. Aku bergegas mandi, buru-buru. Setelah 30 menit, baru aku keluar. Maklum, pintunya bermasalah. Aku langsung makan sarapan dan gosok gigi. Setelah pamit kepada Ayah dan Ibu, aku langsung menyalakan mobil dan berangkat ke sekolahku yang baru. SMA 8. Tidak lupa, aku bawa selembar kertas yang berisi ‘pidato’ singkatku alias perkenalan diri. Formalitas yang kadang memalukan, tapi buat aku, mungkin justru bisa menaikkan pamor. Aku kan keren (™).

***

Sesampainya aku di sekolah, aku langsung disambut oleh satpam dan tukang parkir yang belum pernah melihatku sebelumnya. Juga para adik kelas cewek yang tampak terkagum-kagum melihatku. Itu semua sudah biasa bagiku.

Aku masuk kelasku. Kelas XII Bahasa 1. Mengapa bahasa? Karena aku (sok) tergila-gila dengan filsafat. Terlihat lagi cewek-cewek yang menatapku. Ada pula seorang cowok yang menghampiriku, berkenalan. Namanya Iben. Dia bilang dia akan mengajakku berkeliling sekolah saat istirahat kedua.

Istirahat Kedua

Iben mengajakku keliling sekolah. Ia memperkenalkanku pada kurang lebih semua guru, yang tersenyum padaku. Tepatnya, guru-guru yang tidak ia perkenalkan adalah guru-guru yang kurang asik. Saat kita berdua ke kantin, aku tidak percaya pada apa yang kulihat.

Ida.

Aku sungguh tidak percaya. Ternyata dia sekolah di SMA ini. Aku langsung bertanya pada Iben.

“Ben, lo kenal sama anak itu ngga?”

“Mana? Yang berkerudung itu? Namanya Ida. Kelas Aksel, semester ini dia setara dengan kita, kelas duabelas.”

Aku terpana.

“Hoi, bangun!”

Aku berjalan menuju Ida. Dia terlebih dahulu menyapa aku.

“Assalamu’alaikum,” sapanya.

“Wa’alaikum salam.” Hore! Aku berhasil menjawab salamnya langsung!

“Ternyata kamu sekolah disini juga ya, z… eh, siapa nama kamu? Saya lupa.”

“Zen. Aku murid pindahan. Kamu aksel ya? Berarti nanti kita lulus seangkatan, dong!”

Tampak berpuluh-puluh cewek berbaju indis menatap aku dan Ida, sinis.

“Itu kalau lulus. Kalau kamu lulus.”

“Nyindir nih?”

“Gitu deh.”

“Eh, lo nyetirnya gimana? Udah mendingan?”

“Hehe… belum… sekarang saya terpaksa diantar kemana-mana.”

“Bagaimana kalau gue ajarin?”

“Hehe… lihat saja nanti. Eh, bel sudah bunyi tuh! Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Dia benar-benar cantik. Dan benar. Bel telah berbunyi, menandakan sudah waktunya untuk kembali ke kelas. Tapi suara bel hanya aku dengar samar-samar, karena ada satu bunyi yang mengalahkannya — perutku yang keroncongan. Aku belum makan sedikitpun. Ternyata Iben sudah mendahuluiku, ia duluan ke kelas.

Pulang Sekolah

Aku sungguh lapar. Ingin sekali aku makan banyak-banyak dengan tingkah super rakus, kebalikan 180 derajat dari table manners, tanpa diperhatikan orang lain. Ingiiin sekali. Apabila aku makan di kantin sekolah, pasti bakal banyak yang menertawakan, maka aku ajak lima orang teman (cowok), yang aku pilih secara acak, dan Iben, untuk makan di restoran all-you-can-eat. Borju, katamu? Tidak juga, aku pakai kupon kok. Lagipula, aku bisa lebih mengenal mereka disana.

Di dalam mobil, kita ngobrol sampah. Nama-nama mereka ada Dhimas, Terry, Anto, Arie, dan Adri. Ternyata mereka semua itu anak satu geng, dan mengajak aku untuk masuk. Tapi geng mereka itu geng baik-baik, rajin menabung, dan berbakti kepada orang tua. Jadi, why not? Saat itulah aku resmi masuk geng ‘S.C.T.’. Singkatan dari: Sekumpulan Cowok Tampan. Kenapa harus SCT? Kenapa tidak SLT? ‘Cowok’ dan ‘cewek’ kan sama-sama diawali dengan huruf ‘C’! Bisa saja kan, diterjemahkan sebagai ‘sepuluh cewek tercantik’! Biarlah. Yang penting, MAKAN!

Setelah semuanya selesai, aku urus pembayarannya, dan membuka pintu mobil. Sungguh capek. Aku berniat langsung meloncat ke atas kasur saat sampai di rumah. Tapi jalanan macet. Jakarta, oh Jakarta.

Tinggalkan Balasan