Terpaku

Hari ini panas. Sangat panas. Cuaca yang sangat menyebalkan. Tidak hanya itu, ada saja orang yang bikin tambah ‘panas’ suasana. Eno, adikku, terus mengajakku untuk pergi ke Ancol. Memang, di sana ada beragam wahana yang bisa bikin dingin, tapi aku capek. Sangat capek. Jangan tanya kenapa, pokoknya capek. Biarkan saja dia menangis disitu! Tapi… kakak macam apa aku ini?

Tiba-tiba bel berbunyi. Ayah dan ibuku baru pulang dari supermarket. Aku berniat membuka pintunya duluan, tapi Eno lebih cepat. Begitu pintu dibuka dan Ibu mengucap salam, Eno langsung menangis, complain soal kakaknya yang gak becus ini. Tapi sebelum dia berkata terlalu banyak, langsung kubungkam mulutnya dengan wajah sok polos dan senyum iklan sikat gigi kepada Ibu. Apa boleh buat, akhirnya kita berdua ke Ancol. Yang satu sangat gembira, yang satu lagi terpaksa. Mobil pun melesat menuju jalan raya, dan terjebak disana. Persetan kota Jakarta yang membiarkan penduduknya mati muda di jalanan. Jalan tol tidak jauh berbeda. Macet. Macet…cet…cet… (dengan efek bergema) Setelah berjam-jam berlalu, akhirnya mobil berhasil masuk jalan tol, yang kini lega.

“Siap?”

Eno menelan ludah.

Dan mobil pun melesat dengan kecepatan tinggi! Sangat cepat, saudara-saudara! Tapi itu tidak berlangsung lama. Bruk! Mobilku tertabrak. Atau tidak, melainkan mobilku ditabrak. Oleh BMW pula. Sebagai tipe orang yang tidak suka dengan situasi begini, aku hadapi saja dengan kepala dingin dan gaya secuek-cueknya. Tetapi, orang yang menabrakku ternyata seorang perempuan berkerudung. Cantik. Ekspresiku berubah menjadi seorang fanboy di hadapan idolanya. Mulut menganga, terpesona. Di pinggir bibir ada setetes air liur, tertarik oleh gravitasi. Untung saja itu hanya konotasi, tapi aku sungguh terpesona. Ia meminta maaf berkali-kali dengan wajah yang alangkah gemasnya tapi aku hanya bisa terdiam. Akhirnya saat ia menawarkan ganti rugi, saya tolak, dengan suara yang sedikit canggung. Ia berterima kasih, dan aku membalasnya. Kemudian ia masuk ke mobilnya, dan langsung melesat cepat. Semoga ia selamat di jalan. Lalu aku sadar bahwa aku lupa meminta nomor teleponnya. Sial.

***

Mobil derek berhenti di bengkel. Raut wajah Eno tampak jengkel. Sampai rumah, pasti Ayah bakal ngomel. So what? Aku terus ingat perempuan tadi. Apakah ini cinta? Gitu deh. Tapi kenapa aku tidak minta nomor teleponnya? Bego, bego, bego! Tapi, namanya jodoh tidak akan pergi jauh-jauh kan? Emang bener. Tampak ada mobil derek yang masuk ke penataran bengkel. Mobil itu menderek sebuah sedan mewah — BMW berwarna perak yang menabrakku. Dunia ini memang begitu sempit. Secepat benda kuantum yang tidak bergerak, secepat itulah rasa dendam terkalahkan oleh cinta. Karena memang sebetulnya aku tidak pernah dendam. Begitu perempuan itu keluar dari mobil derek, aku hampiri dia. Aku menawarkan untuk berjabat tangan, tapi ia hanya tersenyum.

“Halo, Anda yang tadi saya tabrak ya? Sekarang saya kena impasnya juga, deh…”

“Oh, eh, iya. Nggak apa-apa kok. Kamu mengemudinya cepet banget! Lain kali, hati-hati ya!”

“Hehehe… maaf, maklum, baru belajar.”

“Oh, begitu. Oh ya, perkenalkan. Nama saya Zen. Lengkapnya Kaizen Malik.”

“Nama saya Nur Fa’idah. Panggil saja Ida. Ngomong-ngomong, nama kamu kok an… eh, unik banget?”

Aku tertawa ringan. Ida ikut tertawa. Kuakui, namaku memang aneh. Beginilah jadinya kalau punya orang tua yang kawin muda. Saat masih kuliah, mereka menikah. Ibuku seorang bintang kampus yang baik-baik dan ayahku seorang geek informatika. Saat itu Ayah sedang tergila-gila akan Jepang. Awalnya dari anime, hingga akhirnya begitu tertarik dengan budaya, bahasa, dan segala tentang mereka. Bahkan Ayah sempat mencoba menelusuri silsilah keluarganya. Ayah percaya bahwa, walaupun sedikit, ia punya hubungan darah dengan warga negara matahari tersebut. Ia terus mencari… dan mencari… dan mencari… hingga Ayah mengenal Ibu. Kata Ibu, Ibu sempat melanjutkan ‘penelitian’ Ayah. Sayang sekali, cerita selengkapnya tidak dapat saya publikasikan. Oh iya, konon, bagaimana Ayah yang begitu kuper bisa mendapatkan hati Ibu yang dambaan cowok-cowok sekampus adalah misteri. Hanya mereka yang tahu.

Kita terus ngobrol, sampai Eno menepuk bahuku, mencubit lenganku, dan menjambak rambutku. Monster! Monster yang kelaparan. Monster itu mengancam akan lapor kepada Ibu bahwa ia kelaparan karena tidak diberi makan oleh kakaknya. Setelah kalimat itu, kucabut julukan ‘monster’, karena apabila Eno adalah monster, berarti kakaknya yang tampan beserta ibunya ini monster juga! Itu penghinaan namanya! Ida tertawa lepas. Mukaku memerah, tapi karena marah, atau malu? Mobil kita rupanya sudah selesai dibetulkan. Adzan Maghrib mulai berkumandang.

“Eh, bol–” tanpa menyelesaikan kalimatku, Ida mendiamkanku. Baru setelah adzan selesai, dia mempersilahkanku berbicara kembali.

“Coba, kau renungkan adzan itu. Suaranya sungguh indah. Mobil kita tampaknya sudah selesai, saya ke masjid dulu ya!”

“Tunggu! Bolehkah saya minta nomor HP kamu?” tanyaku. Aku tak mau melakukan kesalahan dua kali.

“Boleh. Jangan tinggalkan Sholat ya.”

Aku langsung meng-save nomornya, tanpa memperhatikan perkataannya sebelumnya.

Assalamu’alaikum.

Wa’alaikum salam,” jawab Eno. Namun Ida harus mengulang ucapannya sebanyak tiga kali sebelum aku menjawab.

Ida tersenyum manis. Maniiiis sekali. Aku ragu apakah gula dapat menandinginya atau tidak. Kemudian dia menegurku. “Lain kali, kalau orang mengucapkan salam, kamu langsung jawab ya!” seperti seorang Ibu yang memarahi anaknya. Aku pun mengangguk, pasrah. Saat itu juga ekspresiku berubah menjadi tampang fanboy terhadap idolanya, hanya saja kali ini benar-benar terjadi, bukan sekedar konotasi belaka. Senyum itu… sungguh indah.

“EHEM! Earth to Kak Zen!

Dan Eno pun menarik aku kembali ke dunia nyata.

“Kak Zen suka ya, sama Kak Ida?”

Apa itu? Siswa SD kelas 5, masih manja, mengerti tentang cinta? Untuk zaman sekarang sih wajar, tapi tetap saja aku harus mendramatisir, selama hayat masih dikandung badan.

“Hus! Anak kecil nggak akan ngerti! Ayo, kita makan di restoran favorit kamu!”

Mata Eno berbinar, seolah berkata: Mauuuuuu!

Eno memang aneh. Dari kecil dia begitu. Nama lengkap dia sebenarnya Raffi Anwar, tapi entah kenapa saat dia mulai berbicara, dia memanggil dirinya ‘Eno’. Entah dari mana dia dapat nama itu. Orang tua kita selalu menentang dengan memanggilnya Raffi. Tapi tidak berhasil. Eno terus memaksa, hingga akhirnya dia berhasil menaklukkan Ayah dan Ibu, juga aku dan pembantu kita. Betapa dahsyatnya adikku ini.

Dan kini, Kaizen Malik telah berhasil menaklukkan Raffi Anwar.

5 Tanggapan ke “Kisah Seorang Zen / Satu”

  1. anggie berkata

    Oke…!!!

    ;)

  2. mau tau aja berkata

    dic?id’tc!

  3. BieLa berkata

    Lanjutkan sgera! :D

  4. ninies berkata

    izinkan aqu tuk membacanya dulu!

  5. nur zen berkata

    yah lumayan…..kali tempo aku juga mo share tentang kisah tentang ku juga

Tinggalkan Balasan