Farfetched

Iben mendatangiku dengan muka yang merah sekali, seperti ditampar.

“Ben, kenapa muka lo?”

“Habis ditampar anak-anak seangkatan. Hampir semuanya.”

Wah, ternyata ramalanku benar. Jangan-jangan aku bakat peramal? Tidak! Aku tidak sudi

menjadi peramal! Apalagi dukun!

“Wah, emangnya lo ngapain?”

“Oh iya, gue belum ngasih tahu elo. Sorry, man. Gue baru jadian.”

“Sama siapa?”

“Sinta. XII Sos-2”

Aku tidak mau menampar dia. Itu sudah pasaran. Kujambak rambutnya, dan kucabut sehelai

rambut — putih. Iben, sahabatku, ubanan.

“Apa ini? Lo ubanan, Ben!”

Mata Iben menunjukkan ketidakpercayaan. Aku hanya tertawa sedikit.

“Ibeeen… Ibeeen… ini sih bukan uban.”

“Apa, dong?”

“Ada burung pup di rambut lo.”

Bruk! Iben, sahabatku, pingsan. Aku berniat menggotong tubuh ceking dia ke UKS, tapi tibatiba

datang beberapa anak PMR dengan stretcher. Sebelum mengangkut Iben, mereka melihatku

dengan tampang menggoda dulu. Sekalian say hi, kali ya. Aku hanya membalas dengan

senyuman, itu pun dipaksa. Walaupun Iben pingsan, aku tetap cuek. Bagi Iben, hal ini sudah

biasa. Selain di-taik-in burung, tentunya.

***

Aku kembali ke kelas. Pelajaran terakhir di minggu pertamaku di sekolah ini. Bahasa Prancis.

Guru yang mengajarnya tidak diperkenalkan oleh Iben, menandakan bahwa ia disegani. Atau,

Iben saja yang tidak mengerti bahasa Prancis. Dan sepertinya yang kedua. Ternyata gurunya, Pak

Leo, baik-baik saja. Asalkan kamu mengerti bahasa Prancis. Pak Leo ternyata sangat narsis dan

suka makan fish sama buncis. Bagaimana saya tahu? Rahasia perusahaan, my friend.

Setelah pelajaran Bahasa Prancis, bel terakhir berbunyi, menandakan waktu belajar sudah

selesai. Setelah merapihkan tas, aku langsung menuju UKS. Terlihat Sinta sedang bermesraan

dengan Iben. Terlihat pula kunci UKS yang tergantung di pintu. Iseng, aku ambil kunci itu, dan

mengunci ruangan dari luar. Tapi kuncinya aku simpan di bingkai jendela. Aku tak sabar menanti

wajah mereka yang… entah bagaimana ekspresinya.

Ketika aku berbalik, aku terkejut. Ida, rupanya.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” balasku. Sudah mulai terbiasa.

“Ngapain kamu?”

“Oh, ini… si Iben tadi pingsan gara-gara ada burung tiba-tiba pup di kepalanya.”

“Terus, kok dikunci?”

Sebelum menjawab pertanyaan Ida, aku sudah kabur. Menuju tempat parkir. Tapi aku

berhenti di mading dekat ruang serbaguna. Tertempel di situ, sebuah poster tentang lomba

renang antar SMA se-Jakarta Raya.

“Ehem,” cetus Ida, berusaha menarik perhatian.

“Eh, ada Ida. Ini ada lomba renang… kalo gue ikut gimana ya?”

“Emangnya kamu suka renang?”

“Me pardonner… gue dulu atlit renang… pas di Prancis.”

“Tapi itu dulu kan? Berapa tahun yang lalu”

Dengan ragu-ragu dan sedikit rasa malu, aku menjawab, “Tiga.”

Ida tertawa kecil. “Itu sudah kelamaan! Ayo, latihan sana!”

Mukaku memerah. Ida seperti menjadi ibuku.

“Tapi lo temenin gue!”

Namun Ida sudah pergi. Murung, aku angkat kaki menuju mobilku. Ternyata Ida ada di sana,

menghalangi aku. “Nggak solat Jum’at?” tanyanya.

Aku mencari alasan. “Aku mau naro tas dulu,” jawabku terpatah-patah.

“Oh, begitu. Saya duluan ya, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Aku bergegas menuju masjid. Adzan sudah berkumandang.

***

Di UKS

“Iben?”

“Ya?”

“Kita nggak bisa keluar dari sini!”

“Bukannya elo anak PMR?”

“Iya, tapi ini pintu dikunci dari luar!”

“Sin…”

“Ya?”

“Gue cinta elo.”

“Gombal.” Wajah Sinta menjadi sedikit ‘nakal’. Paling tidak, menurut Iben.

“Lo udah cuci rambut belum?”

Muka Iben memerah…. sangat merah… dan ia jatuh pingsan. Lagi.

***

Di Lapangan Parkir

Aku buka kunci mobil dan masuk. Aku buka kaca spion yang terlipat di kiri-kanan mobil.

Kemudian aku nyalakan mobil dan keluar sekolah. Terlihat Ida yang sedang jalan kaki di trotoar,

dan berhenti sejenak untuk memberi — bukan uang, melainkan beberapa bungkus nasi bungkus

untuk seorang ibu-ibu pengemis dan anaknya. Aku sangat kagum dengan ‘ritual’ — tapi bukan

ritual — itu. Sampai-sampai beberapa mobil di belakangku menglaksoniku. Aku tidak berhenti,

melainkan melaju dengan sangat lamban.

Dan aku teringat akan Ibel dan Sinta. UKS belum aku buka kuncinya. Seingatku, Ida juga

tidak membukanya. Aku putarkan mobilku.

BRAK! Itu suara terakhir yang aku dengar.

***

RS Medistra, kamar 302

Mataku membuka, setelah selama lima jam terpejam.

Wajah pertama yang aku lihat… cantik. Manis. Ibu.

“Aku di rumah sakit ya, Bu?”

Biasanya, orang bertanya-tanya dimana mereka berada, tapi aku beda.

“Man, kena karma lo!” sindir Iben.

Aku tertawa sedikit. Kepalaku sedikit pusing.

Pintu terbuka. Ida masuk. “Assalamu’alaikum,” sapanya.

“Wa’alaikum salam,” serentak semua yang berada di ruangan menjawab. Kecuali Iben, dia

atheis. Tapi mata ia tampak berbinar, kagum.

“Wa— selamat malam, Ida.”

Apakah aku salah dengar? Iben seolah-olah ingin menjawab salam Ida.

“Halo Zen. Lain kali, kalo muterin mobil, hati-hati ya!”

“Emangnya aku kenapa?”

“Minor concussion. Sangat ringan, untungnya.” Iben menjawab dengan gaya sok jadi dokter.

“Geger otak. Untungnya, sangat ringan. Tidak ada kerusakan permanen pada otakmu,” jawab

Ida, sembari meletakkan keranjang buah di meja, “tapi kamu harus bedrest selama seminggu

disini.”

“Anehnya, mobilnya nggak rusak,” kata Ibu aku.

Seminggu bedrest… tidak apa-apa, jadi nggak usah belajar di sekolah. Lagipula, kamarnya

pewe. VVIP gitu! Ada TV… AC… lengkap.

Kemudian pak satpam memberitahu, waktu kunjungan sudah selesai. Iben pamit, dan pulang.

Tapi Ida tidak pergi.

“Zen, aku boleh nungguin kamu kan? Kata ibu kamu boleh, kok.”

“Bo-bo-boleh, boleh. Thanks ya.”

“Sama-sama.”

Dan Ida tersenyum manis lagi. Senyumannya seolah dapat menghilangkan rasa sakitku.

Tinggalkan Balasan