Kisah Seorang Zen / Empat
29 Mei, 2006
Arti
Huaaah… aku bangun. Ibu dan Ida sudah bangun dari tadi. Ibu sedang di kamar mandi, sementara Ida sedang menyikat gigi. Terdengar suara Ida sedang bersenandung samar-samar di balik busa pasta gigi. Lucu. Ini pertama kali aku melihatnya menggosok gigi. Tak lama kemudian, Ibu keluar dari kamar mandi.
“Pagi, Zen. Baru bangun?”
“Pagi, Bu. Ya iya lah… susternya belum dateng? Infusnya hampir habis nih…”
“Bentar lagi kok. Sekarang baru jam 6 kurang seperempat.”
Ida tampaknya sudah selesai menggosok gigi.
“Eh, Zen, Ibu sama Ida mau ke bawah dulu ya, cari makan.”
Aku hanya mengangguk. Aku juga sudah lapar, tapi sarapan paginya belum diantar.
Walau aku di rumah sakit, aku cukup bahagia. Ibu dan Ida tampak sangat akrab, entah kenapa.
Tiba-tiba terdengar suara kaki-kaki yang berjalan di koridor. Mungkin itu suster, pikirku. Tapi lama-lama aku sadar bahwa kaki kecil suster-suster disini tidak seperti itu suaranya. Aku mulai cemas. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, sedikit demi sedikit. Terlihat seseorang, berpakaian serba tertutup, seperti pencuri yang akan menyusup. Tapi, tidak seperti layaknya seorang penyusup, orang ini pakaiannya begitu… rapih, dan… matching! Mana warna-warna yang dipakainya sangat ‘in’ untuk bulan ini. At least, begitu kata Sheila. Kemudian dia memberi aba-aba seperti menyuruh aku diam. Kalau dia benar-benar preman, aku dalam posisi sangat terdesak. Kalau ia benar-benar preman.
Kemudian ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya padaku. Setelah kuamati lagi, pistol itu hanyalah pistol mainan. Aku dikerjai. Maka aku berusaha menahan tawa, biar rencana berjalan seperti yang ia inginkan.
Dor! Pistol itu mengeluarkan bunga. Aku tertawa. Aku bosan dengan trik ini. Tapi, dia menarik pelatuknya sekali lagi. Bunga-bunga plastik tadi menyemprotkan air ke mukaku. Kali ini ‘preman’nya yang tertawa. Tapi ia tidak membuka balaclava nya.
“Benny, lo ngapain pake itu? Lepasin dong!”
Benny. Salah satu ‘mitra’ geng SCT, dan seorang ninja penganut aliran transvestisme, alias ‘bencong’. Hingga kini, orientasi seksualnya masih diperdebatkan.
“Ih, ogah deh, situ pasti ngga mau lihat yang dibawah indang! Menyeramkan, bow!”
Aku hanya tertawa. “Ngomong-ngomong, lo begimana bisa ngelewatin satpam di bawah?”
“Rahasia perusahaan.”
Benny menghilang, meninggalkan dompetnya.
***
Suster akhirnya datang, membawa sekantong penuh cairan infus. Ia mengganti kantong yang sudah kosong dengan yang penuh, mencatatnya, mengambilnya, kemudian pergi. Tanpa sepatah kata pun. Dingin sekali. Suhu ACnya aku ubah menjadi sedikit lebih tidak dingin (alias sedikit lebih panas). Kemudian datang seorang ibu yang membawakanku sarapan. Akhirnya perutku berhenti berteriak.
Makan!
Akan tetapi, saat sendoknya sudah berada di depan mulutku, aku malah berkhayal. Andaikan Ida yang menyuapku pagi ini. Andai saja. Semua orang tahu itu tidak mungkin! Lagipula, aku bukan bayi.
Ibu dan Ida kembali, bersama seorang ibu berkerudung.
“Assalamu’alaikum,” salam Ibu.
“Wa’alaikum salam,” jawabku, mulut masih penuh dengan bubur.
“Perkenalkan, ini Tante Nana,” kata Ida, “Beliau tante saya.”
Aku dan Tante Nana berkenalan.
“Cepat sembuh ya, Zen. Aku pulang dulu, Assalamu’alaikum,” pamit Ida.
“Wa’alaikum salam.”
Setelah Ida pergi, aku ngobrol dengan Ibu. Ternyata, Ibu telah lama kenal dengan Tante Nana, juga ibu dan bapaknya Ida. Tapi, mereka menghilang dalam bencana Tsunami Desember 2004 silam. Ida dan keluarga besarnya sudah berusaha mencari informasi tentang kedua orang tua Ida, tapi gagal. Ida sendiri pada saat itu sedang di Jakarta, dan selamat. Sejak peristiwa itulah, Tante Nana beserta suaminya, Om Heru, yang mengasuh Ida, dengan tabungan keluarga Ida yang bujubune besarnya. BMW peraknya? Oh, bukan, itu hadiah dari sebuah lomba yang ia menangkan.
Ida yatim piatu. Siapa yang menyangka? Jelas bukan aku.
***
Seminggu kemudian…
Akhirnya aku keluar dari rumah sakit dan kembali sekolah. Tidak banyak temanku yang datang menjengukku saat aku di rumah sakit. Ketika aku bertanya kepada mereka, ternyata kebanyakan tidak tahu bahwa aku masuk rumah sakit.
“Ben, kenapa gak lo kasih tau kalo gue masuk rumah sakit?”
“Lo sendiri ngapain ngunci gue di dalem UKS bareng Sinta?”
Aku tidak dapat menjawab, dan Iben pergi menuju kantin sambil bersiul. Aku menyusulnya. Tanpa berpikir panjang, kita berdua memesan menu favorit kita, nasi timbel dengan teh botol. Sambil menunggu, aku menanyakannya soal bagaimana ia bisa jadian sama Sinta.
Dan aku berhasil membujuknya untuk menceritakannya. Dengan syarat, aku membayar semua makanan dia.
Iben bersiap-siap
Hari Kamis, tanggal 24 Januari. Angin sepoi-sepoi. Cuaca cerah, temperatur 24 derajat Celsius. Kelembapan udara… kurang tahu.
Toilet Pria alias Kamar Mandi Cowok. Iben sedang menyiapkan strategi. Berkali-kali ia berlatih di depan cermin.
“Ketahuilah bahwa aku mencintaimu, sayangku.”
Tidak, tidak, tidak. Itu masih kurang untuk mendapatkan hati seorang bidadari yang bernama Sinta.
“Aku cinta kamu! Maukah kau jadi kekasihku?”
Terlalu mendramatisir. Kurang cuco.
“Gue suka elo.”
Apa itu?
“Kamu cantik, deh.”
Itu sih cuman memuji!
“Sudah beribu-ribu cewek yang aku temui, tapi baru kali ini aku lihat seorang bidadari.”
Lumayan. Tapi masih kurang.
Iben sempat terpikir untuk membuat sebuah puisi. Tapi ia tidak berbakat.
Bagaimana kalau ia ajak Sinta untuk jalan-jalan? Tidak.
Bagaimana kalau ia beri hadiah, dan hal-hal lainnya yang membutuhkan duit? Berat di ongkos. Dompet Iben diambil Benny, dengan jurus ninjanya.
Akhirnya Iben memutuskan untuk pergi apa adanya, dengan sisa hayat yang masih dikandung badan.
Iben bertemu Sinta
Agak deg-degan memang, tapi ia harus melakukannya.
Akhirnya ia ketemu Sinta, di dekat mading. Iben berusaha menenangkan diri.
Iben mulai membuka mulutnya, berniat untuk mengungkapkan perasaannya, saat itu juga.
“A…”
Sinta tertawa sedikit. “Tenang, aku menerimamu, kok.”
Kemudian datang saja Benny dari langit dan menampar Iben.
“Selamat, ya!” katanya.
Tanpa satu patah kata (oke, ada satu huruf yang dikorbankan) pun, Iben mendapatkan seorang pacar.
Kembali ke Kantin…
“Begitulah,” kata Iben.
Tapi aku sudah melahap habis nasi timbelku, dan kembali ke kelas.