Tatapan

“Ida, kamu suka ya, sama cowok yang kemarin?” tanya Tante Nana.

Ida hanya bersiul sembari meneruskan masakannya.

“Gitu ih! Eh, masak apa nih?”

“Ada deh…”

Sebal, Tante Nana meninggalkan Ida, menuju ruang keluarga. Ia menyalakan televisi dan menonton berita. Tante Nana terpaku pada layar televisi itu. Hingga keluarlah air mata, dan sebuah teriakan keras:

“IDA!”

“Ya?”

“Ada gempa di Jogja!”

“Wah?”

“Cepat, telepon Om Heru!”

“Ngga ada pulsa, ih!” Emangnya kenapa dengan Om Heru?

“Ya pake telepon rumah, atuh!”

“Itu, di tangan Tante apaan?”

“Handset telepon.”

Muka Tante Nana berubah merah. Dengan cepat ia menekan nomor ponsel Om Heru, dengan harapan bakal diangkat.

Sibuk.

Tante Nana terus mendial nomor itu berkali-kali, hingga akhirnya berhasil. Om Heru selamat, karena kebetulan lagi minum kopi di kafe. Tentu saja, karena Om Heru masih di Jakarta, bukan Jogja.

“Di sini nggak ada gempa kok, say. Aku kan masih di Jakarta! Kok bisa lupa sih?” cetus Om Heru, tertawa.

Muka Tante Nana bertambah merah. Hingga akhirnya pingsan. Aku mengambil handset itu dan melanjutkan percakapan.

“Halo Om, ini Ida, Tante pingsan.”

“Aku tahu. Itu kebiasaan dia. Bentar lagi juga bangun, kok. Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam.”

Ida kembali memasak, hingga kemudian badannya terasa tak enak.

Sampai saat Tante Nana bangun, saat itulah Ida yang giliran pingsan. Tubuhnya sangat panas. Tante Nana langsung memanggil Dono, supir keluarga, untuk mengantar Ida ke rumah sakit.

Starbucks, Cilandak Town Square

“Hai Ben” kataku sambil menyeruput capuccinoku.

“Hei,” jawab Iben, “ Film bentar lagi udah mulai nih!”

“Nyantai…”

Hari ini aku sedang tidak mood. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk nonton film di XXI bareng SCT. Film action katanya, tapi aku tidak begitu peduli, yang penting bisa bikin mood lagi. Sebentar lagi UNAS, dan kita butuh refreshing. Namanya juga ‘hari tenang’.

Ternyata aku ditipu. Filmnya bukan action sama sekali, malah justru film drama romantis. Katanya, buat dua pria yang sedang dimabuk cinta. Ya, nggak apa-apa. Menonton film itu aku jadi teringat Ida… sedang apa ya, dia?

Setelah film selesai, kita punya acara masing-masing. Iben harus menjemput Sinta, Terry harus menjemput Santi, sementara Anto, Arie, dan Adri berencana untuk ke ‘panti pijat’. Paling tidak begitu katanya. Kata mereka, tubuh mereka lagi pegal, tapi entah apa maksud mereka sebenarnya. Aku ada urusan administrasi rumah sakit yang harus diselesaikan dulu. Maka bergegaslah aku ke Medistra.

Di jalan, perasaanku berubah menjadi tidak enak. Tanpa kusadari, tahu-tahu aku sudah mengambil ponselku dan menekan nomor Ida, dan ponsel itu sudah tertempel di telinga. Terdengar beberapa kali nada sambung, tapi akhirnya masuk mailbox. Ida tidak mengangkat telepon. Apa artinya? Seorang Ida tidak pernah menolak telepon dariku. Karena aku makin cemas saja, aku telepon Tante Nana.

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam.”

“Ida dimana, Tante?”

“Ida…”

“Kenapa?”

“Ida masuk rumah sakit, Zen. Tubuhnya panas banget.”

Aku tidak percaya.

“Rumah sakit mana, tante?”

“Medistra”

“Ya udah, aku ke sana ya!”

Kutancap gas, melewati begitu banyak mobil, bahkan polisi yang mencegatku karena melanggar 3in1. Aku tidak peduli. Yang aku pikirkan saat ini hanyalah Ida seorang. Aku hanya berhenti saat berada di pintu masuk Medistra. Aku parkirkan mobilku dan menuju meja resepsionis.

“Mbak, boleh tanya, pasien Nur Fa’idah ka—“

“Tiga Kosong Empatbelas”

Tiga kata itu dan aku melesat menuju lift. Lantai tiga, aku keluar. Mencari-cari kamar 314. Aku sudah lumayan hapal rumah sakit ini, karena aku sendiri pernah dirawat disini.

Ketemu!

Aku ketok pintunya. “Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam,” Tante Nana membuka pintunya.

“Ida gimana, Tante?”

“Baik, jumlah trombositnya tidak terlalu drastis.”

“Trombosit? Ida kena DB, Tante?”

“Iya. Tante khawatir, minggu depan kan latihan UNAS…”

“Nanti saya atur susulannya, Tante.”

“Makasih ya Zen. Tante mau pulang dulu sekarang, Assalamu’alaikum.”

Dan Tante Nana pergi meninggalkan Ida denganku seorang. Aku terus berdo’a agar Ida diberi kesembuhan.

***

Ida siuman. Zen tertidur lelap di sebelah kanannya. Ida tersenyum. Dia lucu kalau lagi tidur. Ida membetulkan jaket yang menutupi Zen, kemudian menonton TV.

“Acara gosip. Bosen ah!”

Zen tiba-tiba mengigau, “MTV aje…”

“Bener juga ya.”

Ida mengganti saluran TV menjadi MTV, namun ia lebih memilih untuk hanya mendengarkan lagu-lagunya saja. Ia lebih suka membaca sebuah novel bertema filsafat islami sambil minum jus jambu ketimbang nonton TV. Selesai beberapa chapter, pandangannya beralih ke Zen.

Imut juga ni anak.

“Dor,” cetusku tiba-tiba, namun dengan nada datar.

“Hei Zen, udah bangun ya? Udah shalat subuh belum?”

“Enak aja, orang gue baru tidur jam empat… setelah shalat malam sama subuh.”

“Alhamdulillah.”

Zen angkat kaki ke wastafel dan mencuci muka, kemudian mengambil sebuah roti untuk sarapan.

“Mau?”

“Nggak, makasih. Perutku masih belum bisa mencerna.”

“Maksudku, jambu biji, o’on,” balas Zen gemas.

Muka Ida memerah saat Zen mengambil pisau dan mengiris sebuah jambu biji dengan lihai. Terbagilah jambu itu menjadi delapan irisan sama besar. Ida bertepuk sebelah tangan, karena tangan yang satu lagi diinfus.

***

“Sinta…”

“Iben…”

“Sinta…”

“Iben…”

“Sinta…”

Sinta mengambil sebuah roti ukuran besar dan memasukkannya kepada mulut Iben.

***

“Aku pulang dulu ya, ambil baju sama makanan dikit-dikitan. Mau nitip ngga?” tanyaku pada Ida.

“Yaah… jangan pergi dulu…” jawab Ida pelan.

“Apa?”

“Oh, nggak, nggak, nggak mau nitip.”

“Oke… aku kembali nanti siang, ya.”

“Oks. Jazakallah.”

“Amin. Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”

Aku memutar gagang pintu, tapi Ida memanggilku.

“Eh, Iben, selamat ulang tahun!”

“Tadinya sih aku mau bikin surprise, tapi karena kamu kayak gini… happy birthday juga.”

“Terima kasih.”

Tinggalkan Balasan