Kisah Seorang Zen / Tujuh
23 Juni, 2006
Ada
Iben memandang sekitarnya. Sepertinya seorang ibu sedang bersalin. Iben sempat melihat wajah ibu itu, dan ternyata ibunya. Ia bertanya pada orang-orang di sekitarnya, tapi tidak ada satu pun yang menjawab, bahkan menanggapi. Iben seperti tidak ada bagi mereka. Di sekitar ruangan itu, hanya ibunya saja yang ia kenal. Selain dokter dan asisten-asistennya, mereka berseragam seperti Men in Black dengan kacamata hitam. Pemandangan yang ia rasa tidak lazim untuk sebuah persalinan.
Kemudian satu bayi mungil terlahir ke dunia. Bayi itulah yang kelak akan menjadi Iben. Tapi rupanya belum berakhir. Satu bayi lagi lahir. Ternyata Iben anak kembar. Tapi dimanakah, dan siapakah kembarannya itu?
Bingung, Iben memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Tapi ketika tangannya berusaha memutar gagang pintu, malah tembus bersama tubuhnya. Seperti di bagian flashback pada film. Di luar, ada dua orang penjaga berseragam serupa dengan yang di dalam menjaga pintu. Kemudian ada Benny.
“Benny, siapa sih sebenarnya elo? Elo suka muncul di mana aja, tiba-tiba. Sekarang, disini? Tempat apa juga ini?”
“Oh, tunggu, pertunjukan belum selesai. Mari, kita kembali ke dalam,” ajak Benny.
Iben kembali ke dalam ruang bersalin dengan menembus pintu, begitu pula Benny. Saat itulah, Iben kecil mendapatkan nama Ibenista Triandika. Kemudian bayi yang satu lagi diambil begitu saja oleh pria yang tampak seperti bos.
“Ben, lo bukan bayi itu kan?”
“Betul sekali boo, itu eike.”
Apa itu? Gue kembar sama seorang banci? pikir Iben. Ia sangat ingin muntah sekarang juga.
“Kamu lihat, pria itu?” Iben menunjukkan pria yang dari tadi berlagak misterius.
“Ya?”
“Dia ayah kita. Beliau seorang ninja yang cerai setelah kita tumbuh di rahim Ibu.”
“Ninja, katamu?”
“Kamu pikir darimana aku bisa melakukan hal-hal kayak ninja?”
***
First date aku dan Ida, dan kita tidak jadi nonton. Rencana yang sudah aku impikan, dambakan, inginkan, pupus sudah. Tapi aku harus bisa positive thinking. Aku tinggal ajak lagi Ida nonton, kali ini film romantis.
“Bagus, Zen! Lo bisa nikmati dia habis itu!” goda malaikat jahat dalam diriku.
“Tidak, Zen! Ingat janjimu pada dia? Lagipula, itu curi-curi kesempatan namanya!” balas malaikat baik.
“Zen, ngaku aja, Ida seksi kan?”
“Zen, kalo lo cinta Ida, jangan dengarkan orang jelek ini!” kata malaikat baik sambil menunjuk malaikat jahat.
Kemudian Cupid mampir kencing di toilet hatiku. Biasanya aku tidak akan membiarkan kejadian seperti ini, tapi panahnya sudah menancap dalam hatiku, membuatku jatuh cinta pada perempuan di sampingku, yang menyadarkanku kembali.
“Iben sakit,” jelas Ida.
Penduduk hati mungilku terkejut. Kecuali Cupid tentunya, yang cuman numpang doang.
“Ah, masa’?”
“Iya, tadi Sinta yang nelpon.”
“Sakit apa gitu?”
“Ya meneketehe !”
“Oh, ya udah, kita balik lagi yuk ke PIM, belum telat kok.”
Ida menatapku serius. “Iben koma, Zen.”
Mendengarnya, pedal gas kutancap lebih keras. Vrum vrum vrum dan kita sampai Medistra. Oh betapa bosannya aku mendengar nama rumah sakit ini. Aku, Ida, dan sekarang Iben.
“Tapi, Zen, Iben nggak dirawat disini!”
D’oh!
Malaikat jahat dan malaikat baik tertawa. Cupid baru saja keluar dari toilet, sambil bersiul dengan polos.
“Bilang kek dari tadi!” teriakku sebel.
“Ya kamu nggak nanya apa-apa!” jawab Ida geli.
Benar juga. Akhirnya mobil kembali ke jalan raya.
***
“Benny, ini kayak flashback di film-film gitu ya?”
“Betul.”
“Keren banget! Gue yang asli gimana dong?”
“Lagi koma.”
“Buset dah! gimana dong?”
“Gimana kumaha? Elo koma, dan elo bakal sadar saat waktunya tiba.”
“Emangnya kenapa gitu?”
“Masih inget ngga, pas lo bikin truk yang remnya oleng berhenti di Puncak?”
“Masih.”
“Setelah itu, inget lagi ngga?”
Iben diam. Ia berusaha mengingat apapun setelah kejadian itu, tapi gagal. Ia sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa sampai berhentiin truk yang lajunya amat cepat, dengan tangan kosongnya.
“Lo make jurus ninja, Iben.”
Iben seharusnya sudah pingsan, tapi berhubung ia sedang berada di dalam alam kesadarannya sendiri, sementara ia tidak sadarkan diri. Maksudnya, ia terbata di depan Benny. Ujian Nasional sebentar lagi, dan ia harus masuk perguruan tinggi. Mengapa? Karena harus aja! Emangnya harus ada alasan khusus ya?
Benny menjentikkan jarinya. Kini mereka berdua di kamar Iben, dengan Iben dalam kondisi tidak sadar, namun tubuh tidak terluka sama sekali.
“Sekarang lo bisa keliling-keliling, jalan-jalan, tapi kayak di flashback barusan. Bagi orang lain, kamu tidak ada,” jelas Benny.
“Gila, gue cakep banget kalo tidur!” canda Iben tanpa memperhatikan omongan Benny.
Tapi Benny sudah tidak ada.
“Yah, pergi. Tapi harus gue akui, gue emang cakep.” tegas roh Iben pada tubuh Iben dengan penuh percaya diri. Tentu saja, ia tak mendapatkan jawaban.
***
Sinta hanya diam dimana ia berdiri. Di depannya, seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya sedang terbaring tak sadar. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana Iben melakukannya, yang jelas nyawanya selamat. Perlahan, ia tak dapat menahan tetesan air mata. Tapi ia gadis yang tabah. Ia gadis yang kuat. Iben masih hidup, tidak apa-apa. Di tubuhnya, tidak ada luka sekecil apapun. Hanya saja, ia tidak siuman.
Lalu, untuk apa ia menangis?
Di sudut ruangan, Benny sedang mengiris bawang merah. Untuk mendramatisir, katanya. Tapi bagi Sinta, hal itu sangat tidak penting dan membuat bau ruangan. Benny pun meminta maaf dan menyemprot Glade di sana-sini.
“Iben masih hidup, kok,” kata Benny.
“Iya! Gue masih hidup, Sin!” kata roh Iben, namun tidak ditanggapi.
“Gue tahu kok,” kata Sinta sambil memberi Benny sebuah apel. “Kira-kira bakal berapa lama ya?”
“Meneketehe!” roh Iben mencoba untuk menjawab pertanyaan Sinta.
“Iben, lo diem nape?” ujar Benny. “Eh, komanya nggak tahu sampai kapan, Sinta. Yang jelas ia akan bangun saat waktunya tiba.”
“Makasih, Benny.”
Sinta termenung di samping Iben, mencoba mengingat apa yang terjadi di Puncak. Apakah itu sebuah mimpi atau benar-benar nyata? Kalau mimpi, bagaimana Iben bisa sampai pingsan dan koma?
“Nyata,” kata Benny tiba-tiba. “Iben pingsan karena menghentikan truk yang hampir menabrak kalian.”
Sinta tidak bertanya lagi, karena tahu akan dijawab dengan dua kata: Rahasia Perusahaan. Ia menyalakan televisi dan nonton MTV. Tapi Benny mengambil remotnya dan mengubah saluran ke yang sedang menayangkan berita.
“Sebentar lagi, kalian tampil.”
Meskipun heran, Sinta memandang layar tv. Setelah iklan usai, ternyata benar, berita tentang kejadian di Puncak kemarin malam ditayangkan.
Truk dengan rem blong dihentikan oleh anak muda. Apabila tak ada Iben, warung-warung dan orang di sekitar lokasi kejadian bisa hancur. Termasuk Sinta. Betapa bangganya ia dengan pacarnya.
“Iben, makasih ya,” katanya pada tubuh Iben.
“Sama-sama,” balas roh Iben. “Eh, kok gambar gue nggak ditayangin ya?”
Benny berdehem kemudian pamit. Tinggal Sinta dan Iben di kamar itu.
***
Sebelum menjenguk Iben, aku dan Ida mampir dulu ke sebuah toko buah di daerah Kebayoran. Setelah membeli beberapa buah-buahan untuk Iben, kita berdua bergegas ke kasir. Sampai kasir, saat itulah, aku berantem sedikit sama Ida. Siapa yang bakal bayar? Kita saling ngotot buat bayar, sampai Eno datang.
Eno?
Iya, Eno. Juga Ayah dan Ibu. Mereka bertiga juga mau beli buah. Waduh, bagaimana ini? Mereka bakal tahu kalau aku dan Ida jadian!
Eno berdehem sejenak, kemudian kembali ke mobil.
“Zen, ini buah buat siapa?” tanya Ayah.
“Bu…buat Iben,” jawabku.
“Iben sakit apa?” tanya Ibu.
“Ngga tau tante… tapi dia koma sekarang,” jawab Ida.
“Tapi, Ida, bukannya kalo orang lagi koma nggak bisa ngapa-ngapain?” tanya Ibu lagi.
Ida mengangguk kecil.
Benar juga, kalau si Iben lagi koma, bagaimana dia bisa makan buah? Ida juga bingung mau menjawab apa.
“Formalitas,” bisikku padanya, dan Ida melontarkan kata yang sama pada Ibu.
“Oh, begitu. Ya udah, Tante yang bayarin.”
Ibu memberi kartu kreditnya pada kasir. Akhirnya Ibu yang bayar, sehingga pertikaian pun usai. Aku dan Ida pamitan kemudian keluar dari toko buah itu.
***
Puf! Roh Iben berpindah ke mobil Zen. Keren banget, pikirnya. Zen dan Ida berdua di bagian depan Kijang Innova itu. Buah-buahan dipangku Ida.
“Woi, duaan aje!” katanya, walaupun tak mungkin ditanggap oleh Zen dan Ida. Ia sedikit sebal dengan kenyataan itu, walaupun benar, ia bisa kemana saja tanpa dilihat oleh orang lain. Termasuk kamar ganti wanita dan tempat lain dimana seorang cewek seksi ganti baju. Waktu itu Sinta sedang ganti baju di kamar Iben, namun Iben tidak tega melihatnya, dan pergi kesini. Hanya untuk melihat sepasang kekasih baru.
Lho? Darimana Iben tahu kalau Zen dan Ida jadian? Seperti kata Benny, Rahasia Perusahaan. Oh, betapa ironis dan anehnya dunia ini. Tapi, apabila ditelaah, Benny tahu, dan kemungkinan Iben tahu dari Benny.
Aktivitas di mobil itu tergolong statis. Ida dan Zen tidak melakukan apa-apa, hanya mengobrol ringan dan memandang ke luar jendela masing-masing. Iben pun merasa jenuh dan pergi.
***
Aku tiba di kamar Iben. Di dalam, hanya ada Sinta yang tertidur di sofa. Wajar saja, sudah jam sepuluh malam. Aku sendiri sudah menguap meskipun tadi kami sempat mampir di kafe. Ida membangunkan Sinta dan menyodorkannya apel yang baru saja ia cuci. Bersamaan mereka menggigit apel masing-masing sambil tersenyum.
“Eh, sebentar lagi UNAS ya…”
Ida dan Sinta sinkron diam sejenak, menelan, kemudian mengangguk. “Banget. Gimana ya?”
“Udah pada siap belum?” tanya Sinta.
Aku berniat memamerkan tanda-tanda kesombongan yang memandang rendah Ujian Nasional yang menentukan lulus atau tidaknya kita dari SMA. Gerakan tangan yang bermakna meremehkan akan kutunjukkan pada Sinta, kalu saja Ida tidak memberi sinyal padaku untuk berhenti.
“Lumayan,” kataku kecut.
Ida memelototiku dengan pipi tembem.
“Gue sih bisa aja, tapi Iben ini…” kata Sinta.
“Biarin,” ujarku santai.
Lantas semua mengangguk setuju.
Roh Iben mengacungkan jari tengah pada Zen. Pada Zen seorang, karena walaupun dirinya tak terlihat, ia harus menjaga sopan santun .
“Eh, kalian berdua duaan ni yee? Jangan-jangan pasangan baru nih?”
Aku dan Ida bertatapan dan tersenyum.
“Y-G-D” sahut kami berdua kompak.
***
“Pah, Mamah cantik ngga pake baju ini?”
“Terserah Mamah lah.”
Nana cemberut.
Kemudian Nana berjalan ke counter lainnya, dan mencoba-coba baju di sana. Ia akan meminta komentar, namun,
“Aduh Mah, tadi kan Mamah udah coba yang ini, SEJAM yang lalu!”
Nana mengalah.
“Pulang yuk?” kata Heru seiring dengan bunyi perutnya yang kosong.
Raut muka Nana kembali tersenyum, walaupun sedikit jengkel karena tingkah suaminya yang bisa dibilang memalukan.
Heru mengambil ponselnya dan mencari contact bernama Ida, tanpa menyadari bahwa ia tidak bawa ponsel. Nanalah yang lebih waras dan menelepon Ida dengan ponsel miliknya. Tapi ternyata keduanya tidak cukup waras karena sesungguhnya ponsel mereka berdua tertinggal di mobil Zen.
“Naik taksi?”
Nana kecewa namun sekaligus terhibur, mengangguk pasrah.
***
“Lapor! Sasaran sampai di tempat parkir, menuju BMW hitam!”
“HOMOK! Mobilnya Innova biru!”
“Lapor lagi. Sasaran menuju kandang bebek, nomor dua dari kiri.”
“Posisi lo mane?”
“Kostan elu.”
“Sasaran akan ditembak! Mayday! Mayday!”
“APA KAMUH?”
“Sasaran sedang di tempat parkir, menuju toilet.”
“Sumpe lo?”
“Bener.”
“Cuci muka dulu sono.”
“Oh, tidak, persembunyianku bisa terbuka! AKU TERNOOODAAAA! ”
“Gak ada yang tega menodari homok sejati seperti lo.”
“Lega.”
“HOMOK KELIEN! SING BENER NAPEH?”
“Elo sendiri ngapain ngutus kita buat mbuntutin si Zen iki? Elo kan ninja!”
“Formalitas. Lagipula, ada di skrip. ”
“Yo wis.”
“Batalyon 4 segera belok kanan!”
BRUK!
“Lapor, batalyon empat tak sadarkan diri.”
“FMPMPOPD. ”
Lemparan kaleng Zen tepat mengenai seorang homok.
***
“Hei, jangan buang sampah sembarangan!” Ida mulai marah.
“Tenang kok, itu masuk tempat sampah!” tapi bohong.
Kupencet tombol pada remot dan mobil terbuka. Aku mendengar suara aplaus di kejauhan tapi tak kuacuhkan.
Vrum! Mobil meluncur di jalan-jalan Jakarta.
“Eh, kalian pada mau ambil jurusan apa nih ntar?”
“Seni Rupa di ITB,” jawab Ida.
“Gue belum milih jurusan, tapi yang jelas di UI.”
“Elo, Zen?” tanya Ida.
“Oh, ehm… Informatika di…”
“Kok gak nyambung sih sama Bahasa?” tanya Sinta.
“Dimana? ITB?”
“Aussie.”
Kedua cewek itu bersorak kagum. Aku mendengar pula suara sorakan di bagasi mobil.
“Beasiswa?”
“Iya… doain biar diterima ya!” sahutku optimis.
“Sip!” Sinta tampak bersemangat.
Ida tersenyum tapi terdiam.
“Eh, ngomong-ngomong, kalian bener nih jadian?”
Dengan cepata aku lontarkan 3 huruf: “YGD”
“Iya,” jawab Ida. Kalau dia yang ngomong, biarlah. Tapi?
Sorak-sorai terdengar samar lagi dari bagasi.
“Itu bagasi lo kenapa sih, Zen?”
Aku mengangkat bahu, tak tahu.
“Comro?” tawar Benny tiba-tiba.
“Lo jangan muncul tiba-tiba kenapa?”
“Sorry bo’. Mau comro gak nih?”
Cewek-cewek yang di belakang menatap Benny penuh amarah.
“Mau,” kata Ida.
Kalau saja tempatnya memungkinkan, mungkin sudah terjadi adegan GUBRAK! seperti di film anime.
“Meong,” begitulah suara yang terdengar dari bagasi.
“RESEK BANGET SIH?” teriakku sebel.
Sekarang giliran suara jangkrik menjajah keheningan.
“So… Sinta rumahnya di mana?”
“Cipete.”
“Ok, berarti belok kiri ya?”
“Meneketehe.”
“Atau belok kanan?”
“Lurus, bego!” Benny sepertinya sudah hapal hiruk-pikuk jalanan kota. Bagaimana tidak? Dia selalu bisa pergi ke mana aja dengan ilmu ninjanya.
“Oh, right.”
“Bukan right, bego! Straight!”
Benny agaknya tidak mengerti maksudku.
“Yo wis, yo wis.”
15 menit berlalu dan kita sampai di daerah Cipete. Ya, paling tidak begitulah kata Benny. Sementara Sinta, empu dari rumah yang kita tuju, tertidur pulas di belakang.
“Houston, we have a problem.”
“Gue bukan Houston.”
“Kan mendramatisir.”
“Ya udah, problem sampeyan opo?”
“Rumahnya yang mana ya?”
“Belok kiri, belok kanan, di sana ada bundaran, masuk!”
“Copy that, Houston.”
“Kopi? Lo suka kopi apa? Kopi Brazil?”
“…”
“Eh, ngomong-ngomong soal Brazil, aku pernah tersesat di hutan Amazon!”
“Terus?”
“Gila bo, banyak banget cewek aduhai di sana!”
“Lo bukannya waria?”
“Oh iya, lupa.”
Sinta terbangun mendengar percakapan aku dan Benny yang konyol.
“Oh, makasih ya, ini rumah gue.”
Ternyata rumah di mana kita parkir adalah rumah Sinta.
D’oh!
“Eh, cewek situ tuw kedinginan di belakang!”
Menyadari itu, aku ambil jaketku dan kuletakkan di atas tubuh Ida.
“Thanks, dear,” igaunya.
“Five”
“For”
“Four, bukan For.”
“Oh, maaf”
“Two”
“Lho, bukannya tadi baru empat?”
“Elonya sih lelet!”
Aku tancap gas, dan…
Kita sampai di rumah Ida! Perjalanan ke sana kurang menarik, jadi kurasa agaknya tidak usah diceritakan.
“Wah, udah sampai lagi nih?” Ya iya lah. Emang di mana lagi?
“Mimpiin aku ya,” kataku pada Ida.
“Sip.”
Ida sudah sampai di teras rumahnya ketika ia kembali ke mobil.
“Zen, Om Heru sama Tante mana?”
“Bruk!” sebuah taksi menabrak mobilku.
“Panjang umur,” cetus Benny melirik ke luar jendela.
“MOBILKUUU!” penuh pendramatisiran.
“Ups,” supir taksi bertampang cengo.
“Adaow!” bagasiku berteriak lagi.
“Keren!” Ida bersorak.
Tante Nana pingsan.
Om Heru tertidur lelap.
Kemudian aku keluar untuk melihat kondisi bagian belakang mobil.
“Mayday! Mayday!”
“Saturday! Saturday!”
“Siomay, siomay, siomay…”
“Bang siomay! Tunggu!” Tante Nana yang baru bangun dari pingsannya memanggil… – tentunya – tukang siomay.
Tukang siomay itu memarkirkan sepedanya di halaman rumah Ida.
“Bentar ya, Bang.”
Kembali ke mobil, mobilku tidak apa-apa. Taksinya juga tidak apa-apa. Singkat kata, nggak ada kerusakan. Setelah supir taksi memundurkan taksinya, aku buka pintu bagasi mobilku untuk melihat sebetulnya ada apa di dalamnya.
“HOMOK JUGA MANUSIA”
Sebuah spanduk, rupanya.
Kisah Seorang Zen / Enam
4 Juni, 2006
Akan
Tin tin! Bunyi klakson Camry milik Iben, yang menyerupai nama seorang tokoh kartun, mempercepat detak jantung Sinta dalam seketika.
“Sebentar!”
Sinta terburu-buru membetulkan sepatunya dan mengambil tasnya. Setelah pamitan kepada kedua orangtuanya, Sinta bergegas menuju sedan merah yang telah menunggunya. Saat ia baru hendak membuka pagar rumahnya, lampu sorot mobil kekasihnya tiba-tiba menyala begitu terang, hingga yang dapat ia lihat hanyalah sebuah siluet. Siluet itu mendekat hingga pada jarak satu meter dari Sinta, lampu sorot dimatikan.
Sinta berada antara terkejut, terkagum-kagum, dan… rasa ingin muntah. Iben memakai celana jeans biru, t-shirt distro putih, dan blus merah. Dengan kacamata serta gaya rambut baru, ia menggigit sebuah mawar merah.
“Selamat malam, Sinta.”
“Malam juga, dasar penjajah. ”
Warna-warna pakaian Iben memang tampak seperti bendera Belanda. Sedangkan t-shirt merah Sinta dengan rok putih berempel sepahanya, menyerupai bendera Indonesia.
“Aku tidak ada maksud untuk menjajah dirimu kok, wahai patriot cantikku.”
“Eh?”
Iben tersenyum lebar dan menarik tangan lembut orang yang disayanginya ke dalam mobil. Mobil melaju menuju jalan raya, tanpa tujuan. Benar, tanpa tujuan. Keduanya lupa akan tujuan mereka malam itu. Betapa konyolnya sepasang kekasih saat sedang dimabuk cinta.
“Kita mau kemana sih?” tanya Sinta geli.
“Nggak tau ya. Ngomong-ngomong, ini udah dua putaran keliling Jakarta, lho,” jawab Iben.
“Gimana kalo kita ke Puncak? Aku udah ijin kemana aja kok.”
“Boleh, tapi…”
“Ya?”
“Satu putaran lagi ya?”
***
Perjalanan ke puncak malam minggu itu tergolong lama. Banyak sekali mobil asal Jakarta di jalanan membuat perjalanan semakin lama saja. Dengan hawa yang dingin, akhirnya Sinta tertidur lelap di sebelah Iben yang menyetir. Takut kekasihnya kedinginan, Iben mengambil baju hangat miliknya di jok belakang dan meletakkannya di atas tubuh Sinta. Di balik seatbeltnya, Sinta tersenyum, namun Iben tidak melihatnya. Pandangannya terfokus ke jalanan Puncak Pass. Akhirnya mobil berhenti di sebuah villa biru muda. Villa kepunyaan keluarga Iben. Sinta terbangun.
“Udah sampai, nih?”
“Guess. Tapi, tutup mata dulu!”
Penasaran, Sinta membiarkan kedua bola matanya tertutup oleh bandana hitam Iben. Iben membawa perempuan itu ke lantai dua, di balkon sebuah kamar di villa tersebut.
“Sabar, ya, bentar lagi kok,” ucap Iben dengan nada romantis.
Sinta merasa malu sekaligus penasaran. Ketika matanya terbuka, dia memandang pemandangan di depannya dengan takjub. Sungguh indah, kemilau bintang-bintang malam yang berkerlip-kerlip, saat dilihat dari sebuah tempat yang bernama Puncak. Selain itu, Iben sudah menyiapkan sebuah candlelight dinner untuk dirinya. Ia tersipu melihat kekasihnya begitu romantis.
“Terima kasih, Iben,” kata Sinta, “dari dulu aku pengen banget candlelight dinner kayak gini.”
“Sama-sama,” jawab Iben. Melihat mata perempuan di hadapannya berkaca-kaca, ia refleks mengusap setetes air mata yang baru saja keluar. “Hei, kok nangis sih? Bukannya seneng?”
“Nggak, bukannya sedih, tapi…”
“Kenapa? Ada yang kurangkah?”
“Bagaimana kamu bisa tahu kalau kita bakal kesini?”
“Tahu dong, aku kan cowokmu yang selalu setia mendampingimu, dimanapun engkau berada.”
“Thanks, dear.”
Iben hanya tersenyum sekilas.
“Eh, ngomong-ngomong, kita mau makan apa nih?”
“Let’s see… untuk appetizer ada Zupa Zupa, main course ada steak tenderloin, terus ada jagung bakar kesukaanmu, dan buat dessert… banana split dengan es krim coklat dan vanila.”
“Wah… tahu aja kamu!”
“Gue gitu!”
Mereka berdua tertawa, sampai Iben mengambil sebuah bun dan menyumbat mulut Sinta.
“Ah, kamu ih!” Sinta mencubit keras kedua pipi Iben hingga membiru.
“Pasti sakit ya?”
Iben hanya mengerang kesakitan.
***
Ida sudah kembali sehat. Untuk merayakan kesembuhannya sekaligus ulang tahun kita berdua, aku ajak dia untuk belajar menyetir. Aku sebagai pemandunya, dan Tante Nana sebagai korbannya. Pertama, aku menghitung mundur dari angka lima, dan setelah aku selesai menghitung, Ida akan menancap pedal gas.
“Lima”
“Empat”
“Tiga”
“Dua”
“Satu. Pelan-pelan dulu ya.”
VRUM! BMW perak Ida dengan cepat sudah melaju pada kecepatan 180 kilometer per jam. Kemampuan akselerasi mobilnya benar-benar bagus.
“PELAN-PELAN DULU!!!”
Bukannya melambat, mobil malah melaju lebih cepat. Ketika aku melihat ada seorang kakek-kakek tua di depan, aku langsung ambil kendali. Kubanting setir ke kanan sambil menginjak rem kuat-kuat. Ban mobil terbakar saat mobilnya berputar-putar di tengah jalan. Tante Nana puyeng, ingin muntah, tapi Ida justru bertepuk tangan. Aku bernapas lega. Sementara kakek tua yang nyaris kami tabrak tidak tahu menahu apa-apa. Untung saja ia selamat.
***
Seorang pelayan berpakaian a la butler Inggris datang saat Iben menjentikkan jarinya. Pelayan itu mengambil dua mangkok Zupa Zupa. Setelah berdoa, Iben dan Sinta saling menyuapkan sesendok sup krim hangat itu. Panas! Keduanya langsung meminum air minum bersamaan, seolah mereka berdua sinkron.
Sinta tertawa geli.
Setelah berkali-kali meniup makanan masing-masing agar cepat dingin, mereka lelah.
“Sin, coba dulu, udah dingin belum?”
“Gak mauuuuu!!!” kata Sinta, ngambek.
“Ladies first.”
“Kalo lidah aku kebakar, gimana, ayo? Mau nggak?”
Iben mengalah dan mencicipi Zupa Zupanya.
“Enak.”
“Bener?”
“Coba aja sendiri!”
Sinta mengikuti entah perintah atau ajakan kekasihnya.
“Enak juga. Siapa yang buat? Pembantumu? Koki sewaan?”
“Yee… enak aja! Aku sendiri yang buat tau!”
“Masa’?”
“Bener. Kalo bohong, aku rela dicium kamu.”
Sinta menjambak-jambak rambut Iben hingga Iben meminta ampun. Setelah itu mereka memakan makanan masing-masing. Dilanjutkan dengan hidangan-hidangan selanjutnya, hingga keduanya puas. Tepatnya, hingga Iben puas dan kenyang.
“Bagaimana, puas?”
“Belum. Kita jalan-jalan yuk!”
“Serius? Nggak kedinginan?”
“Kan ada kamu! Aku bawa jaket kok!”
“Tapi, rok kamu? Entar kedinginan!”
Sinta senang melihat Iben begitu perhatian kepadanya. “Jangan alasan gitu deh, aku tahu kamu beliin aku celana panjang baru.”
Iben tertangkap basah, hanya bisa diam.
***
“Eh, Zen, kok les nyetirnya malam-malam sih?”
“Habis, kamu tidur seharian dari pagi!”
“Kamu juga!”
Aku yang manyun membuat Ida tertawa.
“Nonton yuk!”
“Nonton apaan?”
“Entar lah, kita pilih filmnya disana!”
Tante Nana angkat bicara, “Boleh, Tante juga pengen shopping!”
“Shopping sama siapa, Tante?” tanyaku.
“Om Heru! Iya kan, Pah?”
Om Heru yang baru pulang dari Medan tersedak kopi panasnya.
“Sebentar, aku ganti baju dulu,” ucapnya malas.
Om Heru ternyata tidak bisa menyetir, maka jadilah aku supirnya.
“Mau pake BMW Ida atau mobil kamu, nak?”
Mengingat ban BMW Ida yang aus terbakar, aku putuskan untuk memakai Kijang Innovaku.
***
Iben mengunci pintu villanya. Ia dan Sinta berjalan kaki mengarungi tanaman-tanaman teh yang ditanam di tanah berhektar-hektar luasnya. Mereka berdua berjalan, bergandengan tangan dengan mesranya diiringi cahaya lembut bulan purnama dan kerlap-kerlip bintang malam. Syal pemberian Iben yang dikenakan Sinta terbang ditiup sepoi-sepoi angin malam, tapi Iben langsung menangkapnya. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah batu nisan.
Iben meletakkan setangkai mawar putih di atas makam itu. “Apa kabar, Papah?”
“Iben… kamu…?”
“Sudahlah. Ayo, kita jalan lagi!”
***
“Mau nonton apa?” tanya Ida.
“Heart,” jawabku. Aku ingin nonton film romantis, biar suasananya… gitu lah!
“Nggak mau ah, aku pengennya X-Men!”
“Heart!”
“X-Men”
“Heart!”
“X-Men atau kita putus!” tegas Ida.
Aku heran. Putus? Pacaran aja belum!
“Kidding. Tapi pokoknya saya mau nonton X-Men!” Ida bergegas menuju antrian.
“Eh eh eh, ya udah, tapi aku yang ngantri!”
Ida tersenyum, kemudian pergi.
“Be right back!”
“Hati-hati ya!”
Aku terpaksa mengalah. Antriannya cukup panjang. Baru sekitar lima menit kemudian, Ida kembali dan memberiku sebuah es krim. Kemudian ia ikut mengantri.
Setelah seperempat jam menunggu, kita dapat tiketnya. Sambil menunggu film, aku ajak Ida ke lantai 2. Kemudian aku minta dia menungguku di luar Toys City, dan raut wajahnya berubah cuek. Cuek. Bukan penasaran, bukan sebal, tapi cuek. Tiga menit kemudian aku keluar dengan memeluk sebuah boneka sapi yang bujubune besarnya, kira-kira sebesar tubuh Ida, yaitu 160cm tinggi. Wajah Ida tampak senang, tapi kemudian…
“Kurang besar,” komentarnya.
Aku terkejut mendengarnya. Kurang besar? Masa’ segede gaban gini kurang besar?
Aku taruh bonekanya di dekat pintu keluar, bingung.
“Sebentar…”
Setelah aku tanyakan, boneka yang kubeli sudah yang paling besar, baik dari segi harga maupun ukuran. Itu pun harus kupesan dari saat Ida masih di rumah sakit. Bagaimana dong? Bingung, aku kembali ke Ida, yang kini sedang berfoto-foto narsis bersama boneka barunya.
“Maaf saudari Ida, tapi tampaknya tidak ada boneka yang lebih besar daripada yang sedang Anda foto.”
Ida tertawa. “Nggak apa-apa kok. Tapi ini beneran, ini buat aku?”
“Andai saja ada perempuan cantik lain yang aku kenal di gedung ini…”
Ida tersipu.
Aku menghela nafas sejenak.
“Nur Fa’idah, aku sayang kamu. Aku tidak ingin pergi jauh darimu, dan paras cantikmu hilang dari pandanganku. Maukah kau jadi pacarku?” kataku mantap.
Dari kejauhan, terdengar suara tepuk tangan. Kemudian suara itu mendekat. Ternyata Ida.
Kalau begitu, siapa yang barusan aku tembak?
Perempuan di sampingku berubah wujud menjadi Benny.
“Hai boo… Eike mau kok, jadi pacar situ.”
Mukaku memerah. Ida tertawa.
“Kaizen Malik, simpan dulu boneka itu ke dalam mobilmu dan kita bicara.”
Aku memanggil seorang pria untuk membawa boneka Ida, tapi Ida melarangku.
“Nggak boleh, harus kamu yang bawa.”
Aku pasrah, sekaligus optimis akan jawaban Ida.
***
Iben dan Sinta berhenti di sebuah warung di pinggir Puncak Pass. Iben memesan dua porsi poffertjes saat Sinta sibuk memandang langit malam di tepi bukit. Matanya terfokus pada satu rasi bintang terang.
“Orion,” ujar Benny.
“Sang Pemburu.”
“Betul.”
“Darimana kau datang?”
“Rahasia perusahaan.”
Benny menghilang lagi, digantikan oleh Iben yang berdiri di samping kanan Sinta.
“Poffertjes?” tawar Iben.
“Makasih, Ben,” jawab Sinta, mengambil sebiji poffertjes.
“Bintang kalau dilihat dari sini memang lebih terang daripada Jakarta.”
Sinta dengan lahap memakan poffertjesnya.
“Kamu bisa nggak, bikin poffertjes kayak gini?” tanya Sinta
“Bisa aja, kamu mau?”
“Mau deh, nanti pas kita balik ke villa kamu ya.”
“Oke. Aku janji aku bakalan bikin poffertjes yang terlezat yang pernah kamu coba.”
“Bener?”
“Aku usahain.”
Terdengar bunyi klakson panjang disertai cahaya lampu sorot di sebelah kiri Sinta. Sebuah truk yang remnya blong tengah melaju kencang ke arah mereka.
“Selamat tinggal, bintang kejoraku,” Iben memeluk erat kekasihnya dan mencium keningnya. Kemudian Iben mendorong Sinta menuju keselamatan.
***
“IBEEEEEEEEN!!!!!!!!!!” Sinta terbangun di kamarnya.
“Tenang, tenang, aku ada disini,” kata Iben mengusap kening Sinta, “kamu tadi pingsan pas pelajaran olahraga, jadi aku antar pulang.”
Mendengar itu, Sinta bernapas lega. Ia meneguk air putih yang disodorkan Iben.
Mimpi tadi begitu nyata, pikir Sinta. Kepalanya sedikit pusing.
Sosok Iben di sampingnya hilang.
***
Aku mengunci kembali mobilku setelah memasukkan boneka baru Ida yang mengambil tempat setengah mobil, termasuk jok tengah.
“Kamu tahu kan, pacaran banyak resikonya?”
Aku menelan ludah.
“Tapi, kamu pingin aku jadi pacarmu, betul?”
Aku mengangguk.
“Kamu janji, tujuan kamu bukan hanya nafsu?”
Aku mengangguk lagi.
“Kamu benar-benar menyayangiku?”
Aku mengangguk lagi, mantap.
“Kamu tahu tidak, kalau aku juga menyayangimu?”
Aku tersenyum.
“Aku bersedia menjadi pacarmu.”
“Terima kasih.”
HP Ida berdering. Ia mengangkatnya, namun tak lama kemudian, menutupnya.
“Zen, nontonnya nggak jadi. Nyalakan mobil kamu,” ucapnya.