Kisah Seorang Zen / Enam
4 Juni, 2006
Akan
Tin tin! Bunyi klakson Camry milik Iben, yang menyerupai nama seorang tokoh kartun, mempercepat detak jantung Sinta dalam seketika.
“Sebentar!”
Sinta terburu-buru membetulkan sepatunya dan mengambil tasnya. Setelah pamitan kepada kedua orangtuanya, Sinta bergegas menuju sedan merah yang telah menunggunya. Saat ia baru hendak membuka pagar rumahnya, lampu sorot mobil kekasihnya tiba-tiba menyala begitu terang, hingga yang dapat ia lihat hanyalah sebuah siluet. Siluet itu mendekat hingga pada jarak satu meter dari Sinta, lampu sorot dimatikan.
Sinta berada antara terkejut, terkagum-kagum, dan… rasa ingin muntah. Iben memakai celana jeans biru, t-shirt distro putih, dan blus merah. Dengan kacamata serta gaya rambut baru, ia menggigit sebuah mawar merah.
“Selamat malam, Sinta.”
“Malam juga, dasar penjajah. ”
Warna-warna pakaian Iben memang tampak seperti bendera Belanda. Sedangkan t-shirt merah Sinta dengan rok putih berempel sepahanya, menyerupai bendera Indonesia.
“Aku tidak ada maksud untuk menjajah dirimu kok, wahai patriot cantikku.”
“Eh?”
Iben tersenyum lebar dan menarik tangan lembut orang yang disayanginya ke dalam mobil. Mobil melaju menuju jalan raya, tanpa tujuan. Benar, tanpa tujuan. Keduanya lupa akan tujuan mereka malam itu. Betapa konyolnya sepasang kekasih saat sedang dimabuk cinta.
“Kita mau kemana sih?” tanya Sinta geli.
“Nggak tau ya. Ngomong-ngomong, ini udah dua putaran keliling Jakarta, lho,” jawab Iben.
“Gimana kalo kita ke Puncak? Aku udah ijin kemana aja kok.”
“Boleh, tapi…”
“Ya?”
“Satu putaran lagi ya?”
***
Perjalanan ke puncak malam minggu itu tergolong lama. Banyak sekali mobil asal Jakarta di jalanan membuat perjalanan semakin lama saja. Dengan hawa yang dingin, akhirnya Sinta tertidur lelap di sebelah Iben yang menyetir. Takut kekasihnya kedinginan, Iben mengambil baju hangat miliknya di jok belakang dan meletakkannya di atas tubuh Sinta. Di balik seatbeltnya, Sinta tersenyum, namun Iben tidak melihatnya. Pandangannya terfokus ke jalanan Puncak Pass. Akhirnya mobil berhenti di sebuah villa biru muda. Villa kepunyaan keluarga Iben. Sinta terbangun.
“Udah sampai, nih?”
“Guess. Tapi, tutup mata dulu!”
Penasaran, Sinta membiarkan kedua bola matanya tertutup oleh bandana hitam Iben. Iben membawa perempuan itu ke lantai dua, di balkon sebuah kamar di villa tersebut.
“Sabar, ya, bentar lagi kok,” ucap Iben dengan nada romantis.
Sinta merasa malu sekaligus penasaran. Ketika matanya terbuka, dia memandang pemandangan di depannya dengan takjub. Sungguh indah, kemilau bintang-bintang malam yang berkerlip-kerlip, saat dilihat dari sebuah tempat yang bernama Puncak. Selain itu, Iben sudah menyiapkan sebuah candlelight dinner untuk dirinya. Ia tersipu melihat kekasihnya begitu romantis.
“Terima kasih, Iben,” kata Sinta, “dari dulu aku pengen banget candlelight dinner kayak gini.”
“Sama-sama,” jawab Iben. Melihat mata perempuan di hadapannya berkaca-kaca, ia refleks mengusap setetes air mata yang baru saja keluar. “Hei, kok nangis sih? Bukannya seneng?”
“Nggak, bukannya sedih, tapi…”
“Kenapa? Ada yang kurangkah?”
“Bagaimana kamu bisa tahu kalau kita bakal kesini?”
“Tahu dong, aku kan cowokmu yang selalu setia mendampingimu, dimanapun engkau berada.”
“Thanks, dear.”
Iben hanya tersenyum sekilas.
“Eh, ngomong-ngomong, kita mau makan apa nih?”
“Let’s see… untuk appetizer ada Zupa Zupa, main course ada steak tenderloin, terus ada jagung bakar kesukaanmu, dan buat dessert… banana split dengan es krim coklat dan vanila.”
“Wah… tahu aja kamu!”
“Gue gitu!”
Mereka berdua tertawa, sampai Iben mengambil sebuah bun dan menyumbat mulut Sinta.
“Ah, kamu ih!” Sinta mencubit keras kedua pipi Iben hingga membiru.
“Pasti sakit ya?”
Iben hanya mengerang kesakitan.
***
Ida sudah kembali sehat. Untuk merayakan kesembuhannya sekaligus ulang tahun kita berdua, aku ajak dia untuk belajar menyetir. Aku sebagai pemandunya, dan Tante Nana sebagai korbannya. Pertama, aku menghitung mundur dari angka lima, dan setelah aku selesai menghitung, Ida akan menancap pedal gas.
“Lima”
“Empat”
“Tiga”
“Dua”
“Satu. Pelan-pelan dulu ya.”
VRUM! BMW perak Ida dengan cepat sudah melaju pada kecepatan 180 kilometer per jam. Kemampuan akselerasi mobilnya benar-benar bagus.
“PELAN-PELAN DULU!!!”
Bukannya melambat, mobil malah melaju lebih cepat. Ketika aku melihat ada seorang kakek-kakek tua di depan, aku langsung ambil kendali. Kubanting setir ke kanan sambil menginjak rem kuat-kuat. Ban mobil terbakar saat mobilnya berputar-putar di tengah jalan. Tante Nana puyeng, ingin muntah, tapi Ida justru bertepuk tangan. Aku bernapas lega. Sementara kakek tua yang nyaris kami tabrak tidak tahu menahu apa-apa. Untung saja ia selamat.
***
Seorang pelayan berpakaian a la butler Inggris datang saat Iben menjentikkan jarinya. Pelayan itu mengambil dua mangkok Zupa Zupa. Setelah berdoa, Iben dan Sinta saling menyuapkan sesendok sup krim hangat itu. Panas! Keduanya langsung meminum air minum bersamaan, seolah mereka berdua sinkron.
Sinta tertawa geli.
Setelah berkali-kali meniup makanan masing-masing agar cepat dingin, mereka lelah.
“Sin, coba dulu, udah dingin belum?”
“Gak mauuuuu!!!” kata Sinta, ngambek.
“Ladies first.”
“Kalo lidah aku kebakar, gimana, ayo? Mau nggak?”
Iben mengalah dan mencicipi Zupa Zupanya.
“Enak.”
“Bener?”
“Coba aja sendiri!”
Sinta mengikuti entah perintah atau ajakan kekasihnya.
“Enak juga. Siapa yang buat? Pembantumu? Koki sewaan?”
“Yee… enak aja! Aku sendiri yang buat tau!”
“Masa’?”
“Bener. Kalo bohong, aku rela dicium kamu.”
Sinta menjambak-jambak rambut Iben hingga Iben meminta ampun. Setelah itu mereka memakan makanan masing-masing. Dilanjutkan dengan hidangan-hidangan selanjutnya, hingga keduanya puas. Tepatnya, hingga Iben puas dan kenyang.
“Bagaimana, puas?”
“Belum. Kita jalan-jalan yuk!”
“Serius? Nggak kedinginan?”
“Kan ada kamu! Aku bawa jaket kok!”
“Tapi, rok kamu? Entar kedinginan!”
Sinta senang melihat Iben begitu perhatian kepadanya. “Jangan alasan gitu deh, aku tahu kamu beliin aku celana panjang baru.”
Iben tertangkap basah, hanya bisa diam.
***
“Eh, Zen, kok les nyetirnya malam-malam sih?”
“Habis, kamu tidur seharian dari pagi!”
“Kamu juga!”
Aku yang manyun membuat Ida tertawa.
“Nonton yuk!”
“Nonton apaan?”
“Entar lah, kita pilih filmnya disana!”
Tante Nana angkat bicara, “Boleh, Tante juga pengen shopping!”
“Shopping sama siapa, Tante?” tanyaku.
“Om Heru! Iya kan, Pah?”
Om Heru yang baru pulang dari Medan tersedak kopi panasnya.
“Sebentar, aku ganti baju dulu,” ucapnya malas.
Om Heru ternyata tidak bisa menyetir, maka jadilah aku supirnya.
“Mau pake BMW Ida atau mobil kamu, nak?”
Mengingat ban BMW Ida yang aus terbakar, aku putuskan untuk memakai Kijang Innovaku.
***
Iben mengunci pintu villanya. Ia dan Sinta berjalan kaki mengarungi tanaman-tanaman teh yang ditanam di tanah berhektar-hektar luasnya. Mereka berdua berjalan, bergandengan tangan dengan mesranya diiringi cahaya lembut bulan purnama dan kerlap-kerlip bintang malam. Syal pemberian Iben yang dikenakan Sinta terbang ditiup sepoi-sepoi angin malam, tapi Iben langsung menangkapnya. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah batu nisan.
Iben meletakkan setangkai mawar putih di atas makam itu. “Apa kabar, Papah?”
“Iben… kamu…?”
“Sudahlah. Ayo, kita jalan lagi!”
***
“Mau nonton apa?” tanya Ida.
“Heart,” jawabku. Aku ingin nonton film romantis, biar suasananya… gitu lah!
“Nggak mau ah, aku pengennya X-Men!”
“Heart!”
“X-Men”
“Heart!”
“X-Men atau kita putus!” tegas Ida.
Aku heran. Putus? Pacaran aja belum!
“Kidding. Tapi pokoknya saya mau nonton X-Men!” Ida bergegas menuju antrian.
“Eh eh eh, ya udah, tapi aku yang ngantri!”
Ida tersenyum, kemudian pergi.
“Be right back!”
“Hati-hati ya!”
Aku terpaksa mengalah. Antriannya cukup panjang. Baru sekitar lima menit kemudian, Ida kembali dan memberiku sebuah es krim. Kemudian ia ikut mengantri.
Setelah seperempat jam menunggu, kita dapat tiketnya. Sambil menunggu film, aku ajak Ida ke lantai 2. Kemudian aku minta dia menungguku di luar Toys City, dan raut wajahnya berubah cuek. Cuek. Bukan penasaran, bukan sebal, tapi cuek. Tiga menit kemudian aku keluar dengan memeluk sebuah boneka sapi yang bujubune besarnya, kira-kira sebesar tubuh Ida, yaitu 160cm tinggi. Wajah Ida tampak senang, tapi kemudian…
“Kurang besar,” komentarnya.
Aku terkejut mendengarnya. Kurang besar? Masa’ segede gaban gini kurang besar?
Aku taruh bonekanya di dekat pintu keluar, bingung.
“Sebentar…”
Setelah aku tanyakan, boneka yang kubeli sudah yang paling besar, baik dari segi harga maupun ukuran. Itu pun harus kupesan dari saat Ida masih di rumah sakit. Bagaimana dong? Bingung, aku kembali ke Ida, yang kini sedang berfoto-foto narsis bersama boneka barunya.
“Maaf saudari Ida, tapi tampaknya tidak ada boneka yang lebih besar daripada yang sedang Anda foto.”
Ida tertawa. “Nggak apa-apa kok. Tapi ini beneran, ini buat aku?”
“Andai saja ada perempuan cantik lain yang aku kenal di gedung ini…”
Ida tersipu.
Aku menghela nafas sejenak.
“Nur Fa’idah, aku sayang kamu. Aku tidak ingin pergi jauh darimu, dan paras cantikmu hilang dari pandanganku. Maukah kau jadi pacarku?” kataku mantap.
Dari kejauhan, terdengar suara tepuk tangan. Kemudian suara itu mendekat. Ternyata Ida.
Kalau begitu, siapa yang barusan aku tembak?
Perempuan di sampingku berubah wujud menjadi Benny.
“Hai boo… Eike mau kok, jadi pacar situ.”
Mukaku memerah. Ida tertawa.
“Kaizen Malik, simpan dulu boneka itu ke dalam mobilmu dan kita bicara.”
Aku memanggil seorang pria untuk membawa boneka Ida, tapi Ida melarangku.
“Nggak boleh, harus kamu yang bawa.”
Aku pasrah, sekaligus optimis akan jawaban Ida.
***
Iben dan Sinta berhenti di sebuah warung di pinggir Puncak Pass. Iben memesan dua porsi poffertjes saat Sinta sibuk memandang langit malam di tepi bukit. Matanya terfokus pada satu rasi bintang terang.
“Orion,” ujar Benny.
“Sang Pemburu.”
“Betul.”
“Darimana kau datang?”
“Rahasia perusahaan.”
Benny menghilang lagi, digantikan oleh Iben yang berdiri di samping kanan Sinta.
“Poffertjes?” tawar Iben.
“Makasih, Ben,” jawab Sinta, mengambil sebiji poffertjes.
“Bintang kalau dilihat dari sini memang lebih terang daripada Jakarta.”
Sinta dengan lahap memakan poffertjesnya.
“Kamu bisa nggak, bikin poffertjes kayak gini?” tanya Sinta
“Bisa aja, kamu mau?”
“Mau deh, nanti pas kita balik ke villa kamu ya.”
“Oke. Aku janji aku bakalan bikin poffertjes yang terlezat yang pernah kamu coba.”
“Bener?”
“Aku usahain.”
Terdengar bunyi klakson panjang disertai cahaya lampu sorot di sebelah kiri Sinta. Sebuah truk yang remnya blong tengah melaju kencang ke arah mereka.
“Selamat tinggal, bintang kejoraku,” Iben memeluk erat kekasihnya dan mencium keningnya. Kemudian Iben mendorong Sinta menuju keselamatan.
***
“IBEEEEEEEEN!!!!!!!!!!” Sinta terbangun di kamarnya.
“Tenang, tenang, aku ada disini,” kata Iben mengusap kening Sinta, “kamu tadi pingsan pas pelajaran olahraga, jadi aku antar pulang.”
Mendengar itu, Sinta bernapas lega. Ia meneguk air putih yang disodorkan Iben.
Mimpi tadi begitu nyata, pikir Sinta. Kepalanya sedikit pusing.
Sosok Iben di sampingnya hilang.
***
Aku mengunci kembali mobilku setelah memasukkan boneka baru Ida yang mengambil tempat setengah mobil, termasuk jok tengah.
“Kamu tahu kan, pacaran banyak resikonya?”
Aku menelan ludah.
“Tapi, kamu pingin aku jadi pacarmu, betul?”
Aku mengangguk.
“Kamu janji, tujuan kamu bukan hanya nafsu?”
Aku mengangguk lagi.
“Kamu benar-benar menyayangiku?”
Aku mengangguk lagi, mantap.
“Kamu tahu tidak, kalau aku juga menyayangimu?”
Aku tersenyum.
“Aku bersedia menjadi pacarmu.”
“Terima kasih.”
HP Ida berdering. Ia mengangkatnya, namun tak lama kemudian, menutupnya.
“Zen, nontonnya nggak jadi. Nyalakan mobil kamu,” ucapnya.
choong ! ini KEREEN ! asik ya panjang . itu knp gk jadi nntn ?! pnasaran
ps : critanya jgn stengah2x antara iben sm zen duungssh . hhuhuh . binuun ?!
cpetan lanjutiinn..
tpi alurnya harap rada dinaekin..