Kisah Seorang Zen / Tujuh
23 Juni, 2006
Ada
Iben memandang sekitarnya. Sepertinya seorang ibu sedang bersalin. Iben sempat melihat wajah ibu itu, dan ternyata ibunya. Ia bertanya pada orang-orang di sekitarnya, tapi tidak ada satu pun yang menjawab, bahkan menanggapi. Iben seperti tidak ada bagi mereka. Di sekitar ruangan itu, hanya ibunya saja yang ia kenal. Selain dokter dan asisten-asistennya, mereka berseragam seperti Men in Black dengan kacamata hitam. Pemandangan yang ia rasa tidak lazim untuk sebuah persalinan.
Kemudian satu bayi mungil terlahir ke dunia. Bayi itulah yang kelak akan menjadi Iben. Tapi rupanya belum berakhir. Satu bayi lagi lahir. Ternyata Iben anak kembar. Tapi dimanakah, dan siapakah kembarannya itu?
Bingung, Iben memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Tapi ketika tangannya berusaha memutar gagang pintu, malah tembus bersama tubuhnya. Seperti di bagian flashback pada film. Di luar, ada dua orang penjaga berseragam serupa dengan yang di dalam menjaga pintu. Kemudian ada Benny.
“Benny, siapa sih sebenarnya elo? Elo suka muncul di mana aja, tiba-tiba. Sekarang, disini? Tempat apa juga ini?”
“Oh, tunggu, pertunjukan belum selesai. Mari, kita kembali ke dalam,” ajak Benny.
Iben kembali ke dalam ruang bersalin dengan menembus pintu, begitu pula Benny. Saat itulah, Iben kecil mendapatkan nama Ibenista Triandika. Kemudian bayi yang satu lagi diambil begitu saja oleh pria yang tampak seperti bos.
“Ben, lo bukan bayi itu kan?”
“Betul sekali boo, itu eike.”
Apa itu? Gue kembar sama seorang banci? pikir Iben. Ia sangat ingin muntah sekarang juga.
“Kamu lihat, pria itu?” Iben menunjukkan pria yang dari tadi berlagak misterius.
“Ya?”
“Dia ayah kita. Beliau seorang ninja yang cerai setelah kita tumbuh di rahim Ibu.”
“Ninja, katamu?”
“Kamu pikir darimana aku bisa melakukan hal-hal kayak ninja?”
***
First date aku dan Ida, dan kita tidak jadi nonton. Rencana yang sudah aku impikan, dambakan, inginkan, pupus sudah. Tapi aku harus bisa positive thinking. Aku tinggal ajak lagi Ida nonton, kali ini film romantis.
“Bagus, Zen! Lo bisa nikmati dia habis itu!” goda malaikat jahat dalam diriku.
“Tidak, Zen! Ingat janjimu pada dia? Lagipula, itu curi-curi kesempatan namanya!” balas malaikat baik.
“Zen, ngaku aja, Ida seksi kan?”
“Zen, kalo lo cinta Ida, jangan dengarkan orang jelek ini!” kata malaikat baik sambil menunjuk malaikat jahat.
Kemudian Cupid mampir kencing di toilet hatiku. Biasanya aku tidak akan membiarkan kejadian seperti ini, tapi panahnya sudah menancap dalam hatiku, membuatku jatuh cinta pada perempuan di sampingku, yang menyadarkanku kembali.
“Iben sakit,” jelas Ida.
Penduduk hati mungilku terkejut. Kecuali Cupid tentunya, yang cuman numpang doang.
“Ah, masa’?”
“Iya, tadi Sinta yang nelpon.”
“Sakit apa gitu?”
“Ya meneketehe !”
“Oh, ya udah, kita balik lagi yuk ke PIM, belum telat kok.”
Ida menatapku serius. “Iben koma, Zen.”
Mendengarnya, pedal gas kutancap lebih keras. Vrum vrum vrum dan kita sampai Medistra. Oh betapa bosannya aku mendengar nama rumah sakit ini. Aku, Ida, dan sekarang Iben.
“Tapi, Zen, Iben nggak dirawat disini!”
D’oh!
Malaikat jahat dan malaikat baik tertawa. Cupid baru saja keluar dari toilet, sambil bersiul dengan polos.
“Bilang kek dari tadi!” teriakku sebel.
“Ya kamu nggak nanya apa-apa!” jawab Ida geli.
Benar juga. Akhirnya mobil kembali ke jalan raya.
***
“Benny, ini kayak flashback di film-film gitu ya?”
“Betul.”
“Keren banget! Gue yang asli gimana dong?”
“Lagi koma.”
“Buset dah! gimana dong?”
“Gimana kumaha? Elo koma, dan elo bakal sadar saat waktunya tiba.”
“Emangnya kenapa gitu?”
“Masih inget ngga, pas lo bikin truk yang remnya oleng berhenti di Puncak?”
“Masih.”
“Setelah itu, inget lagi ngga?”
Iben diam. Ia berusaha mengingat apapun setelah kejadian itu, tapi gagal. Ia sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa sampai berhentiin truk yang lajunya amat cepat, dengan tangan kosongnya.
“Lo make jurus ninja, Iben.”
Iben seharusnya sudah pingsan, tapi berhubung ia sedang berada di dalam alam kesadarannya sendiri, sementara ia tidak sadarkan diri. Maksudnya, ia terbata di depan Benny. Ujian Nasional sebentar lagi, dan ia harus masuk perguruan tinggi. Mengapa? Karena harus aja! Emangnya harus ada alasan khusus ya?
Benny menjentikkan jarinya. Kini mereka berdua di kamar Iben, dengan Iben dalam kondisi tidak sadar, namun tubuh tidak terluka sama sekali.
“Sekarang lo bisa keliling-keliling, jalan-jalan, tapi kayak di flashback barusan. Bagi orang lain, kamu tidak ada,” jelas Benny.
“Gila, gue cakep banget kalo tidur!” canda Iben tanpa memperhatikan omongan Benny.
Tapi Benny sudah tidak ada.
“Yah, pergi. Tapi harus gue akui, gue emang cakep.” tegas roh Iben pada tubuh Iben dengan penuh percaya diri. Tentu saja, ia tak mendapatkan jawaban.
***
Sinta hanya diam dimana ia berdiri. Di depannya, seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya sedang terbaring tak sadar. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana Iben melakukannya, yang jelas nyawanya selamat. Perlahan, ia tak dapat menahan tetesan air mata. Tapi ia gadis yang tabah. Ia gadis yang kuat. Iben masih hidup, tidak apa-apa. Di tubuhnya, tidak ada luka sekecil apapun. Hanya saja, ia tidak siuman.
Lalu, untuk apa ia menangis?
Di sudut ruangan, Benny sedang mengiris bawang merah. Untuk mendramatisir, katanya. Tapi bagi Sinta, hal itu sangat tidak penting dan membuat bau ruangan. Benny pun meminta maaf dan menyemprot Glade di sana-sini.
“Iben masih hidup, kok,” kata Benny.
“Iya! Gue masih hidup, Sin!” kata roh Iben, namun tidak ditanggapi.
“Gue tahu kok,” kata Sinta sambil memberi Benny sebuah apel. “Kira-kira bakal berapa lama ya?”
“Meneketehe!” roh Iben mencoba untuk menjawab pertanyaan Sinta.
“Iben, lo diem nape?” ujar Benny. “Eh, komanya nggak tahu sampai kapan, Sinta. Yang jelas ia akan bangun saat waktunya tiba.”
“Makasih, Benny.”
Sinta termenung di samping Iben, mencoba mengingat apa yang terjadi di Puncak. Apakah itu sebuah mimpi atau benar-benar nyata? Kalau mimpi, bagaimana Iben bisa sampai pingsan dan koma?
“Nyata,” kata Benny tiba-tiba. “Iben pingsan karena menghentikan truk yang hampir menabrak kalian.”
Sinta tidak bertanya lagi, karena tahu akan dijawab dengan dua kata: Rahasia Perusahaan. Ia menyalakan televisi dan nonton MTV. Tapi Benny mengambil remotnya dan mengubah saluran ke yang sedang menayangkan berita.
“Sebentar lagi, kalian tampil.”
Meskipun heran, Sinta memandang layar tv. Setelah iklan usai, ternyata benar, berita tentang kejadian di Puncak kemarin malam ditayangkan.
Truk dengan rem blong dihentikan oleh anak muda. Apabila tak ada Iben, warung-warung dan orang di sekitar lokasi kejadian bisa hancur. Termasuk Sinta. Betapa bangganya ia dengan pacarnya.
“Iben, makasih ya,” katanya pada tubuh Iben.
“Sama-sama,” balas roh Iben. “Eh, kok gambar gue nggak ditayangin ya?”
Benny berdehem kemudian pamit. Tinggal Sinta dan Iben di kamar itu.
***
Sebelum menjenguk Iben, aku dan Ida mampir dulu ke sebuah toko buah di daerah Kebayoran. Setelah membeli beberapa buah-buahan untuk Iben, kita berdua bergegas ke kasir. Sampai kasir, saat itulah, aku berantem sedikit sama Ida. Siapa yang bakal bayar? Kita saling ngotot buat bayar, sampai Eno datang.
Eno?
Iya, Eno. Juga Ayah dan Ibu. Mereka bertiga juga mau beli buah. Waduh, bagaimana ini? Mereka bakal tahu kalau aku dan Ida jadian!
Eno berdehem sejenak, kemudian kembali ke mobil.
“Zen, ini buah buat siapa?” tanya Ayah.
“Bu…buat Iben,” jawabku.
“Iben sakit apa?” tanya Ibu.
“Ngga tau tante… tapi dia koma sekarang,” jawab Ida.
“Tapi, Ida, bukannya kalo orang lagi koma nggak bisa ngapa-ngapain?” tanya Ibu lagi.
Ida mengangguk kecil.
Benar juga, kalau si Iben lagi koma, bagaimana dia bisa makan buah? Ida juga bingung mau menjawab apa.
“Formalitas,” bisikku padanya, dan Ida melontarkan kata yang sama pada Ibu.
“Oh, begitu. Ya udah, Tante yang bayarin.”
Ibu memberi kartu kreditnya pada kasir. Akhirnya Ibu yang bayar, sehingga pertikaian pun usai. Aku dan Ida pamitan kemudian keluar dari toko buah itu.
***
Puf! Roh Iben berpindah ke mobil Zen. Keren banget, pikirnya. Zen dan Ida berdua di bagian depan Kijang Innova itu. Buah-buahan dipangku Ida.
“Woi, duaan aje!” katanya, walaupun tak mungkin ditanggap oleh Zen dan Ida. Ia sedikit sebal dengan kenyataan itu, walaupun benar, ia bisa kemana saja tanpa dilihat oleh orang lain. Termasuk kamar ganti wanita dan tempat lain dimana seorang cewek seksi ganti baju. Waktu itu Sinta sedang ganti baju di kamar Iben, namun Iben tidak tega melihatnya, dan pergi kesini. Hanya untuk melihat sepasang kekasih baru.
Lho? Darimana Iben tahu kalau Zen dan Ida jadian? Seperti kata Benny, Rahasia Perusahaan. Oh, betapa ironis dan anehnya dunia ini. Tapi, apabila ditelaah, Benny tahu, dan kemungkinan Iben tahu dari Benny.
Aktivitas di mobil itu tergolong statis. Ida dan Zen tidak melakukan apa-apa, hanya mengobrol ringan dan memandang ke luar jendela masing-masing. Iben pun merasa jenuh dan pergi.
***
Aku tiba di kamar Iben. Di dalam, hanya ada Sinta yang tertidur di sofa. Wajar saja, sudah jam sepuluh malam. Aku sendiri sudah menguap meskipun tadi kami sempat mampir di kafe. Ida membangunkan Sinta dan menyodorkannya apel yang baru saja ia cuci. Bersamaan mereka menggigit apel masing-masing sambil tersenyum.
“Eh, sebentar lagi UNAS ya…”
Ida dan Sinta sinkron diam sejenak, menelan, kemudian mengangguk. “Banget. Gimana ya?”
“Udah pada siap belum?” tanya Sinta.
Aku berniat memamerkan tanda-tanda kesombongan yang memandang rendah Ujian Nasional yang menentukan lulus atau tidaknya kita dari SMA. Gerakan tangan yang bermakna meremehkan akan kutunjukkan pada Sinta, kalu saja Ida tidak memberi sinyal padaku untuk berhenti.
“Lumayan,” kataku kecut.
Ida memelototiku dengan pipi tembem.
“Gue sih bisa aja, tapi Iben ini…” kata Sinta.
“Biarin,” ujarku santai.
Lantas semua mengangguk setuju.
Roh Iben mengacungkan jari tengah pada Zen. Pada Zen seorang, karena walaupun dirinya tak terlihat, ia harus menjaga sopan santun .
“Eh, kalian berdua duaan ni yee? Jangan-jangan pasangan baru nih?”
Aku dan Ida bertatapan dan tersenyum.
“Y-G-D” sahut kami berdua kompak.
***
“Pah, Mamah cantik ngga pake baju ini?”
“Terserah Mamah lah.”
Nana cemberut.
Kemudian Nana berjalan ke counter lainnya, dan mencoba-coba baju di sana. Ia akan meminta komentar, namun,
“Aduh Mah, tadi kan Mamah udah coba yang ini, SEJAM yang lalu!”
Nana mengalah.
“Pulang yuk?” kata Heru seiring dengan bunyi perutnya yang kosong.
Raut muka Nana kembali tersenyum, walaupun sedikit jengkel karena tingkah suaminya yang bisa dibilang memalukan.
Heru mengambil ponselnya dan mencari contact bernama Ida, tanpa menyadari bahwa ia tidak bawa ponsel. Nanalah yang lebih waras dan menelepon Ida dengan ponsel miliknya. Tapi ternyata keduanya tidak cukup waras karena sesungguhnya ponsel mereka berdua tertinggal di mobil Zen.
“Naik taksi?”
Nana kecewa namun sekaligus terhibur, mengangguk pasrah.
***
“Lapor! Sasaran sampai di tempat parkir, menuju BMW hitam!”
“HOMOK! Mobilnya Innova biru!”
“Lapor lagi. Sasaran menuju kandang bebek, nomor dua dari kiri.”
“Posisi lo mane?”
“Kostan elu.”
“Sasaran akan ditembak! Mayday! Mayday!”
“APA KAMUH?”
“Sasaran sedang di tempat parkir, menuju toilet.”
“Sumpe lo?”
“Bener.”
“Cuci muka dulu sono.”
“Oh, tidak, persembunyianku bisa terbuka! AKU TERNOOODAAAA! ”
“Gak ada yang tega menodari homok sejati seperti lo.”
“Lega.”
“HOMOK KELIEN! SING BENER NAPEH?”
“Elo sendiri ngapain ngutus kita buat mbuntutin si Zen iki? Elo kan ninja!”
“Formalitas. Lagipula, ada di skrip. ”
“Yo wis.”
“Batalyon 4 segera belok kanan!”
BRUK!
“Lapor, batalyon empat tak sadarkan diri.”
“FMPMPOPD. ”
Lemparan kaleng Zen tepat mengenai seorang homok.
***
“Hei, jangan buang sampah sembarangan!” Ida mulai marah.
“Tenang kok, itu masuk tempat sampah!” tapi bohong.
Kupencet tombol pada remot dan mobil terbuka. Aku mendengar suara aplaus di kejauhan tapi tak kuacuhkan.
Vrum! Mobil meluncur di jalan-jalan Jakarta.
“Eh, kalian pada mau ambil jurusan apa nih ntar?”
“Seni Rupa di ITB,” jawab Ida.
“Gue belum milih jurusan, tapi yang jelas di UI.”
“Elo, Zen?” tanya Ida.
“Oh, ehm… Informatika di…”
“Kok gak nyambung sih sama Bahasa?” tanya Sinta.
“Dimana? ITB?”
“Aussie.”
Kedua cewek itu bersorak kagum. Aku mendengar pula suara sorakan di bagasi mobil.
“Beasiswa?”
“Iya… doain biar diterima ya!” sahutku optimis.
“Sip!” Sinta tampak bersemangat.
Ida tersenyum tapi terdiam.
“Eh, ngomong-ngomong, kalian bener nih jadian?”
Dengan cepata aku lontarkan 3 huruf: “YGD”
“Iya,” jawab Ida. Kalau dia yang ngomong, biarlah. Tapi?
Sorak-sorai terdengar samar lagi dari bagasi.
“Itu bagasi lo kenapa sih, Zen?”
Aku mengangkat bahu, tak tahu.
“Comro?” tawar Benny tiba-tiba.
“Lo jangan muncul tiba-tiba kenapa?”
“Sorry bo’. Mau comro gak nih?”
Cewek-cewek yang di belakang menatap Benny penuh amarah.
“Mau,” kata Ida.
Kalau saja tempatnya memungkinkan, mungkin sudah terjadi adegan GUBRAK! seperti di film anime.
“Meong,” begitulah suara yang terdengar dari bagasi.
“RESEK BANGET SIH?” teriakku sebel.
Sekarang giliran suara jangkrik menjajah keheningan.
“So… Sinta rumahnya di mana?”
“Cipete.”
“Ok, berarti belok kiri ya?”
“Meneketehe.”
“Atau belok kanan?”
“Lurus, bego!” Benny sepertinya sudah hapal hiruk-pikuk jalanan kota. Bagaimana tidak? Dia selalu bisa pergi ke mana aja dengan ilmu ninjanya.
“Oh, right.”
“Bukan right, bego! Straight!”
Benny agaknya tidak mengerti maksudku.
“Yo wis, yo wis.”
15 menit berlalu dan kita sampai di daerah Cipete. Ya, paling tidak begitulah kata Benny. Sementara Sinta, empu dari rumah yang kita tuju, tertidur pulas di belakang.
“Houston, we have a problem.”
“Gue bukan Houston.”
“Kan mendramatisir.”
“Ya udah, problem sampeyan opo?”
“Rumahnya yang mana ya?”
“Belok kiri, belok kanan, di sana ada bundaran, masuk!”
“Copy that, Houston.”
“Kopi? Lo suka kopi apa? Kopi Brazil?”
“…”
“Eh, ngomong-ngomong soal Brazil, aku pernah tersesat di hutan Amazon!”
“Terus?”
“Gila bo, banyak banget cewek aduhai di sana!”
“Lo bukannya waria?”
“Oh iya, lupa.”
Sinta terbangun mendengar percakapan aku dan Benny yang konyol.
“Oh, makasih ya, ini rumah gue.”
Ternyata rumah di mana kita parkir adalah rumah Sinta.
D’oh!
“Eh, cewek situ tuw kedinginan di belakang!”
Menyadari itu, aku ambil jaketku dan kuletakkan di atas tubuh Ida.
“Thanks, dear,” igaunya.
“Five”
“For”
“Four, bukan For.”
“Oh, maaf”
“Two”
“Lho, bukannya tadi baru empat?”
“Elonya sih lelet!”
Aku tancap gas, dan…
Kita sampai di rumah Ida! Perjalanan ke sana kurang menarik, jadi kurasa agaknya tidak usah diceritakan.
“Wah, udah sampai lagi nih?” Ya iya lah. Emang di mana lagi?
“Mimpiin aku ya,” kataku pada Ida.
“Sip.”
Ida sudah sampai di teras rumahnya ketika ia kembali ke mobil.
“Zen, Om Heru sama Tante mana?”
“Bruk!” sebuah taksi menabrak mobilku.
“Panjang umur,” cetus Benny melirik ke luar jendela.
“MOBILKUUU!” penuh pendramatisiran.
“Ups,” supir taksi bertampang cengo.
“Adaow!” bagasiku berteriak lagi.
“Keren!” Ida bersorak.
Tante Nana pingsan.
Om Heru tertidur lelap.
Kemudian aku keluar untuk melihat kondisi bagian belakang mobil.
“Mayday! Mayday!”
“Saturday! Saturday!”
“Siomay, siomay, siomay…”
“Bang siomay! Tunggu!” Tante Nana yang baru bangun dari pingsannya memanggil… – tentunya – tukang siomay.
Tukang siomay itu memarkirkan sepedanya di halaman rumah Ida.
“Bentar ya, Bang.”
Kembali ke mobil, mobilku tidak apa-apa. Taksinya juga tidak apa-apa. Singkat kata, nggak ada kerusakan. Setelah supir taksi memundurkan taksinya, aku buka pintu bagasi mobilku untuk melihat sebetulnya ada apa di dalamnya.
“HOMOK JUGA MANUSIA”
Sebuah spanduk, rupanya.
jadi rada garing uy..
bojeegghh
ancuuur !!!
inget yg ke-8 must be published !!
( tau kan maksudnya )
-_-”..
Omon2..
Mana yang ke 8?
ceritanya ngaco!
aku gak ngerti maksudnya apa…………….