Ada

Iben memandang sekitarnya. Sepertinya seorang ibu sedang bersalin. Iben sempat melihat wajah ibu itu, dan ternyata ibunya. Ia bertanya pada orang-orang di sekitarnya, tapi tidak ada satu pun yang menjawab, bahkan menanggapi. Iben seperti tidak ada bagi mereka. Di sekitar ruangan itu, hanya ibunya saja yang ia kenal. Selain dokter dan asisten-asistennya, mereka berseragam seperti Men in Black dengan kacamata hitam. Pemandangan yang ia rasa tidak lazim untuk sebuah persalinan.

Kemudian satu bayi mungil terlahir ke dunia. Bayi itulah yang kelak akan menjadi Iben. Tapi rupanya belum berakhir. Satu bayi lagi lahir. Ternyata Iben anak kembar. Tapi dimanakah, dan siapakah kembarannya itu?

Bingung, Iben memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Tapi ketika tangannya berusaha memutar gagang pintu, malah tembus bersama tubuhnya. Seperti di bagian flashback pada film. Di luar, ada dua orang penjaga berseragam serupa dengan yang di dalam menjaga pintu. Kemudian ada Benny.

“Benny, siapa sih sebenarnya elo? Elo suka muncul di mana aja, tiba-tiba. Sekarang, disini? Tempat apa juga ini?”

“Oh, tunggu, pertunjukan belum selesai. Mari, kita kembali ke dalam,” ajak Benny.

Iben kembali ke dalam ruang bersalin dengan menembus pintu, begitu pula Benny. Saat itulah, Iben kecil mendapatkan nama Ibenista Triandika. Kemudian bayi yang satu lagi diambil begitu saja oleh pria yang tampak seperti bos.

“Ben, lo bukan bayi itu kan?”

“Betul sekali boo, itu eike.”

Apa itu? Gue kembar sama seorang banci? pikir Iben. Ia sangat ingin muntah sekarang juga.

“Kamu lihat, pria itu?” Iben menunjukkan pria yang dari tadi berlagak misterius.

“Ya?”

“Dia ayah kita. Beliau seorang ninja yang cerai setelah kita tumbuh di rahim Ibu.”

“Ninja, katamu?”

“Kamu pikir darimana aku bisa melakukan hal-hal kayak ninja?”

***

First date aku dan Ida, dan kita tidak jadi nonton. Rencana yang sudah aku impikan, dambakan, inginkan, pupus sudah. Tapi aku harus bisa positive thinking. Aku tinggal ajak lagi Ida nonton, kali ini film romantis.

“Bagus, Zen! Lo bisa nikmati dia habis itu!” goda malaikat jahat dalam diriku.

“Tidak, Zen! Ingat janjimu pada dia? Lagipula, itu curi-curi kesempatan namanya!” balas malaikat baik.

“Zen, ngaku aja, Ida seksi kan?”

“Zen, kalo lo cinta Ida, jangan dengarkan orang jelek ini!” kata malaikat baik sambil menunjuk malaikat jahat.

Kemudian Cupid mampir kencing di toilet hatiku. Biasanya aku tidak akan membiarkan kejadian seperti ini, tapi panahnya sudah menancap dalam hatiku, membuatku jatuh cinta pada perempuan di sampingku, yang menyadarkanku kembali.

“Iben sakit,” jelas Ida.

Penduduk hati mungilku terkejut. Kecuali Cupid tentunya, yang cuman numpang doang.

“Ah, masa’?”

“Iya, tadi Sinta yang nelpon.”

“Sakit apa gitu?”

“Ya meneketehe !”

“Oh, ya udah, kita balik lagi yuk ke PIM, belum telat kok.”

Ida menatapku serius. “Iben koma, Zen.”

Mendengarnya, pedal gas kutancap lebih keras. Vrum vrum vrum dan kita sampai Medistra. Oh betapa bosannya aku mendengar nama rumah sakit ini. Aku, Ida, dan sekarang Iben.

“Tapi, Zen, Iben nggak dirawat disini!”

D’oh!

Malaikat jahat dan malaikat baik tertawa. Cupid baru saja keluar dari toilet, sambil bersiul dengan polos.

“Bilang kek dari tadi!” teriakku sebel.

“Ya kamu nggak nanya apa-apa!” jawab Ida geli.

Benar juga. Akhirnya mobil kembali ke jalan raya.

***

“Benny, ini kayak flashback di film-film gitu ya?”

“Betul.”

“Keren banget! Gue yang asli gimana dong?”

“Lagi koma.”

“Buset dah! gimana dong?”

“Gimana kumaha? Elo koma, dan elo bakal sadar saat waktunya tiba.”

“Emangnya kenapa gitu?”

“Masih inget ngga, pas lo bikin truk yang remnya oleng berhenti di Puncak?”

“Masih.”

“Setelah itu, inget lagi ngga?”

Iben diam. Ia berusaha mengingat apapun setelah kejadian itu, tapi gagal. Ia sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa sampai berhentiin truk yang lajunya amat cepat, dengan tangan kosongnya.

“Lo make jurus ninja, Iben.”

Iben seharusnya sudah pingsan, tapi berhubung ia sedang berada di dalam alam kesadarannya sendiri, sementara ia tidak sadarkan diri. Maksudnya, ia terbata di depan Benny. Ujian Nasional sebentar lagi, dan ia harus masuk perguruan tinggi. Mengapa? Karena harus aja! Emangnya harus ada alasan khusus ya?

Benny menjentikkan jarinya. Kini mereka berdua di kamar Iben, dengan Iben dalam kondisi tidak sadar, namun tubuh tidak terluka sama sekali.

“Sekarang lo bisa keliling-keliling, jalan-jalan, tapi kayak di flashback barusan. Bagi orang lain, kamu tidak ada,” jelas Benny.

“Gila, gue cakep banget kalo tidur!” canda Iben tanpa memperhatikan omongan Benny.

Tapi Benny sudah tidak ada.

“Yah, pergi. Tapi harus gue akui, gue emang cakep.” tegas roh Iben pada tubuh Iben dengan penuh percaya diri. Tentu saja, ia tak mendapatkan jawaban.

***

Sinta hanya diam dimana ia berdiri. Di depannya, seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya sedang terbaring tak sadar. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana Iben melakukannya, yang jelas nyawanya selamat. Perlahan, ia tak dapat menahan tetesan air mata. Tapi ia gadis yang tabah. Ia gadis yang kuat. Iben masih hidup, tidak apa-apa. Di tubuhnya, tidak ada luka sekecil apapun. Hanya saja, ia tidak siuman.

Lalu, untuk apa ia menangis?

Di sudut ruangan, Benny sedang mengiris bawang merah. Untuk mendramatisir, katanya. Tapi bagi Sinta, hal itu sangat tidak penting dan membuat bau ruangan. Benny pun meminta maaf dan menyemprot Glade di sana-sini.

“Iben masih hidup, kok,” kata Benny.

“Iya! Gue masih hidup, Sin!” kata roh Iben, namun tidak ditanggapi.

“Gue tahu kok,” kata Sinta sambil memberi Benny sebuah apel. “Kira-kira bakal berapa lama ya?”

“Meneketehe!” roh Iben mencoba untuk menjawab pertanyaan Sinta.

“Iben, lo diem nape?” ujar Benny. “Eh, komanya nggak tahu sampai kapan, Sinta. Yang jelas ia akan bangun saat waktunya tiba.”

“Makasih, Benny.”

Sinta termenung di samping Iben, mencoba mengingat apa yang terjadi di Puncak. Apakah itu sebuah mimpi atau benar-benar nyata? Kalau mimpi, bagaimana Iben bisa sampai pingsan dan koma?

“Nyata,” kata Benny tiba-tiba. “Iben pingsan karena menghentikan truk yang hampir menabrak kalian.”

Sinta tidak bertanya lagi, karena tahu akan dijawab dengan dua kata: Rahasia Perusahaan. Ia menyalakan televisi dan nonton MTV. Tapi Benny mengambil remotnya dan mengubah saluran ke yang sedang menayangkan berita.

“Sebentar lagi, kalian tampil.”

Meskipun heran, Sinta memandang layar tv. Setelah iklan usai, ternyata benar, berita tentang kejadian di Puncak kemarin malam ditayangkan.

Truk dengan rem blong dihentikan oleh anak muda. Apabila tak ada Iben, warung-warung dan orang di sekitar lokasi kejadian bisa hancur. Termasuk Sinta. Betapa bangganya ia dengan pacarnya.

“Iben, makasih ya,” katanya pada tubuh Iben.

“Sama-sama,” balas roh Iben. “Eh, kok gambar gue nggak ditayangin ya?”

Benny berdehem kemudian pamit. Tinggal Sinta dan Iben di kamar itu.

***

Sebelum menjenguk Iben, aku dan Ida mampir dulu ke sebuah toko buah di daerah Kebayoran. Setelah membeli beberapa buah-buahan untuk Iben, kita berdua bergegas ke kasir. Sampai kasir, saat itulah, aku berantem sedikit sama Ida. Siapa yang bakal bayar? Kita saling ngotot buat bayar, sampai Eno datang.

Eno?

Iya, Eno. Juga Ayah dan Ibu. Mereka bertiga juga mau beli buah. Waduh, bagaimana ini? Mereka bakal tahu kalau aku dan Ida jadian!

Eno berdehem sejenak, kemudian kembali ke mobil.

“Zen, ini buah buat siapa?” tanya Ayah.

“Bu…buat Iben,” jawabku.

“Iben sakit apa?” tanya Ibu.

“Ngga tau tante… tapi dia koma sekarang,” jawab Ida.

“Tapi, Ida, bukannya kalo orang lagi koma nggak bisa ngapa-ngapain?” tanya Ibu lagi.

Ida mengangguk kecil.

Benar juga, kalau si Iben lagi koma, bagaimana dia bisa makan buah? Ida juga bingung mau menjawab apa.

“Formalitas,” bisikku padanya, dan Ida melontarkan kata yang sama pada Ibu.

“Oh, begitu. Ya udah, Tante yang bayarin.”

Ibu memberi kartu kreditnya pada kasir. Akhirnya Ibu yang bayar, sehingga pertikaian pun usai. Aku dan Ida pamitan kemudian keluar dari toko buah itu.

***

Puf! Roh Iben berpindah ke mobil Zen. Keren banget, pikirnya. Zen dan Ida berdua di bagian depan Kijang Innova itu. Buah-buahan dipangku Ida.

“Woi, duaan aje!” katanya, walaupun tak mungkin ditanggap oleh Zen dan Ida. Ia sedikit sebal dengan kenyataan itu, walaupun benar, ia bisa kemana saja tanpa dilihat oleh orang lain. Termasuk kamar ganti wanita dan tempat lain dimana seorang cewek seksi ganti baju. Waktu itu Sinta sedang ganti baju di kamar Iben, namun Iben tidak tega melihatnya, dan pergi kesini. Hanya untuk melihat sepasang kekasih baru.

Lho? Darimana Iben tahu kalau Zen dan Ida jadian? Seperti kata Benny, Rahasia Perusahaan. Oh, betapa ironis dan anehnya dunia ini. Tapi, apabila ditelaah, Benny tahu, dan kemungkinan Iben tahu dari Benny.

Aktivitas di mobil itu tergolong statis. Ida dan Zen tidak melakukan apa-apa, hanya mengobrol ringan dan memandang ke luar jendela masing-masing. Iben pun merasa jenuh dan pergi.

***

Aku tiba di kamar Iben. Di dalam, hanya ada Sinta yang tertidur di sofa. Wajar saja, sudah jam sepuluh malam. Aku sendiri sudah menguap meskipun tadi kami sempat mampir di kafe. Ida membangunkan Sinta dan menyodorkannya apel yang baru saja ia cuci. Bersamaan mereka menggigit apel masing-masing sambil tersenyum.

“Eh, sebentar lagi UNAS ya…”

Ida dan Sinta sinkron diam sejenak, menelan, kemudian mengangguk. “Banget. Gimana ya?”

“Udah pada siap belum?” tanya Sinta.

Aku berniat memamerkan tanda-tanda kesombongan yang memandang rendah Ujian Nasional yang menentukan lulus atau tidaknya kita dari SMA. Gerakan tangan yang bermakna meremehkan akan kutunjukkan pada Sinta, kalu saja Ida tidak memberi sinyal padaku untuk berhenti.

“Lumayan,” kataku kecut.

Ida memelototiku dengan pipi tembem.

“Gue sih bisa aja, tapi Iben ini…” kata Sinta.

“Biarin,” ujarku santai.

Lantas semua mengangguk setuju.

Roh Iben mengacungkan jari tengah pada Zen. Pada Zen seorang, karena walaupun dirinya tak terlihat, ia harus menjaga sopan santun .

“Eh, kalian berdua duaan ni yee? Jangan-jangan pasangan baru nih?”

Aku dan Ida bertatapan dan tersenyum.

“Y-G-D” sahut kami berdua kompak.

***

“Pah, Mamah cantik ngga pake baju ini?”

“Terserah Mamah lah.”

Nana cemberut.

Kemudian Nana berjalan ke counter lainnya, dan mencoba-coba baju di sana. Ia akan meminta komentar, namun,

“Aduh Mah, tadi kan Mamah udah coba yang ini, SEJAM yang lalu!”

Nana mengalah.

“Pulang yuk?” kata Heru seiring dengan bunyi perutnya yang kosong.

Raut muka Nana kembali tersenyum, walaupun sedikit jengkel karena tingkah suaminya yang bisa dibilang memalukan.

Heru mengambil ponselnya dan mencari contact bernama Ida, tanpa menyadari bahwa ia tidak bawa ponsel. Nanalah yang lebih waras dan menelepon Ida dengan ponsel miliknya. Tapi ternyata keduanya tidak cukup waras karena sesungguhnya ponsel mereka berdua tertinggal di mobil Zen.

“Naik taksi?”

Nana kecewa namun sekaligus terhibur, mengangguk pasrah.

***

“Lapor! Sasaran sampai di tempat parkir, menuju BMW hitam!”

“HOMOK! Mobilnya Innova biru!”

“Lapor lagi. Sasaran menuju kandang bebek, nomor dua dari kiri.”

“Posisi lo mane?”

“Kostan elu.”

“Sasaran akan ditembak! Mayday! Mayday!”

“APA KAMUH?”

“Sasaran sedang di tempat parkir, menuju toilet.”

“Sumpe lo?”

“Bener.”

“Cuci muka dulu sono.”

“Oh, tidak, persembunyianku bisa terbuka! AKU TERNOOODAAAA! ”

“Gak ada yang tega menodari homok sejati seperti lo.”

“Lega.”

“HOMOK KELIEN! SING BENER NAPEH?”

“Elo sendiri ngapain ngutus kita buat mbuntutin si Zen iki? Elo kan ninja!”

“Formalitas. Lagipula, ada di skrip. ”

“Yo wis.”

“Batalyon 4 segera belok kanan!”

BRUK!

“Lapor, batalyon empat tak sadarkan diri.”

“FMPMPOPD. ”

Lemparan kaleng Zen tepat mengenai seorang homok.

***

“Hei, jangan buang sampah sembarangan!” Ida mulai marah.

“Tenang kok, itu masuk tempat sampah!” tapi bohong.

Kupencet tombol pada remot dan mobil terbuka. Aku mendengar suara aplaus di kejauhan tapi tak kuacuhkan.

Vrum! Mobil meluncur di jalan-jalan Jakarta.

“Eh, kalian pada mau ambil jurusan apa nih ntar?”

“Seni Rupa di ITB,” jawab Ida.

“Gue belum milih jurusan, tapi yang jelas di UI.”

“Elo, Zen?” tanya Ida.

“Oh, ehm… Informatika di…”

“Kok gak nyambung sih sama Bahasa?” tanya Sinta.

“Dimana? ITB?”

“Aussie.”

Kedua cewek itu bersorak kagum. Aku mendengar pula suara sorakan di bagasi mobil.

“Beasiswa?”

“Iya… doain biar diterima ya!” sahutku optimis.

“Sip!” Sinta tampak bersemangat.

Ida tersenyum tapi terdiam.

“Eh, ngomong-ngomong, kalian bener nih jadian?”

Dengan cepata aku lontarkan 3 huruf: “YGD”

“Iya,” jawab Ida. Kalau dia yang ngomong, biarlah. Tapi?

Sorak-sorai terdengar samar lagi dari bagasi.

“Itu bagasi lo kenapa sih, Zen?”

Aku mengangkat bahu, tak tahu.

“Comro?” tawar Benny tiba-tiba.

“Lo jangan muncul tiba-tiba kenapa?”

“Sorry bo’. Mau comro gak nih?”

Cewek-cewek yang di belakang menatap Benny penuh amarah.

“Mau,” kata Ida.

Kalau saja tempatnya memungkinkan, mungkin sudah terjadi adegan GUBRAK! seperti di film anime.

“Meong,” begitulah suara yang terdengar dari bagasi.

“RESEK BANGET SIH?” teriakku sebel.

Sekarang giliran suara jangkrik menjajah keheningan.

“So… Sinta rumahnya di mana?”

“Cipete.”

“Ok, berarti belok kiri ya?”

“Meneketehe.”

“Atau belok kanan?”

“Lurus, bego!” Benny sepertinya sudah hapal hiruk-pikuk jalanan kota. Bagaimana tidak? Dia selalu bisa pergi ke mana aja dengan ilmu ninjanya.

“Oh, right.”

“Bukan right, bego! Straight!”

Benny agaknya tidak mengerti maksudku.

“Yo wis, yo wis.”

15 menit berlalu dan kita sampai di daerah Cipete. Ya, paling tidak begitulah kata Benny. Sementara Sinta, empu dari rumah yang kita tuju, tertidur pulas di belakang.

“Houston, we have a problem.”

“Gue bukan Houston.”

“Kan mendramatisir.”

“Ya udah, problem sampeyan opo?”

“Rumahnya yang mana ya?”

“Belok kiri, belok kanan, di sana ada bundaran, masuk!”

“Copy that, Houston.”

“Kopi? Lo suka kopi apa? Kopi Brazil?”

“…”

“Eh, ngomong-ngomong soal Brazil, aku pernah tersesat di hutan Amazon!”

“Terus?”

“Gila bo, banyak banget cewek aduhai di sana!”

“Lo bukannya waria?”

“Oh iya, lupa.”

Sinta terbangun mendengar percakapan aku dan Benny yang konyol.

“Oh, makasih ya, ini rumah gue.”

Ternyata rumah di mana kita parkir adalah rumah Sinta.

D’oh!

“Eh, cewek situ tuw kedinginan di belakang!”

Menyadari itu, aku ambil jaketku dan kuletakkan di atas tubuh Ida.

“Thanks, dear,” igaunya.

“Five”

“For”

“Four, bukan For.”

“Oh, maaf”

“Two”

“Lho, bukannya tadi baru empat?”

“Elonya sih lelet!”

Aku tancap gas, dan…

Kita sampai di rumah Ida! Perjalanan ke sana kurang menarik, jadi kurasa agaknya tidak usah diceritakan.

“Wah, udah sampai lagi nih?” Ya iya lah. Emang di mana lagi?

“Mimpiin aku ya,” kataku pada Ida.

“Sip.”

Ida sudah sampai di teras rumahnya ketika ia kembali ke mobil.

“Zen, Om Heru sama Tante mana?”

“Bruk!” sebuah taksi menabrak mobilku.

“Panjang umur,” cetus Benny melirik ke luar jendela.

“MOBILKUUU!” penuh pendramatisiran.

“Ups,” supir taksi bertampang cengo.

“Adaow!” bagasiku berteriak lagi.

“Keren!” Ida bersorak.

Tante Nana pingsan.

Om Heru tertidur lelap.

Kemudian aku keluar untuk melihat kondisi bagian belakang mobil.

“Mayday! Mayday!”

“Saturday! Saturday!”

“Siomay, siomay, siomay…”

“Bang siomay! Tunggu!” Tante Nana yang baru bangun dari pingsannya memanggil… – tentunya – tukang siomay.

Tukang siomay itu memarkirkan sepedanya di halaman rumah Ida.

“Bentar ya, Bang.”

Kembali ke mobil, mobilku tidak apa-apa. Taksinya juga tidak apa-apa. Singkat kata, nggak ada kerusakan. Setelah supir taksi memundurkan taksinya, aku buka pintu bagasi mobilku untuk melihat sebetulnya ada apa di dalamnya.

“HOMOK JUGA MANUSIA”

Sebuah spanduk, rupanya.

Akan

Tin tin! Bunyi klakson Camry milik Iben, yang menyerupai nama seorang tokoh kartun, mempercepat detak jantung Sinta dalam seketika.

“Sebentar!”

Sinta terburu-buru membetulkan sepatunya dan mengambil tasnya. Setelah pamitan kepada kedua orangtuanya, Sinta bergegas menuju sedan merah yang telah menunggunya. Saat ia baru hendak membuka pagar rumahnya, lampu sorot mobil kekasihnya tiba-tiba menyala begitu terang, hingga yang dapat ia lihat hanyalah sebuah siluet. Siluet itu mendekat hingga pada jarak satu meter dari Sinta, lampu sorot dimatikan.

Sinta berada antara terkejut, terkagum-kagum, dan… rasa ingin muntah. Iben memakai celana jeans biru, t-shirt distro putih, dan blus merah. Dengan kacamata serta gaya rambut baru, ia menggigit sebuah mawar merah.

“Selamat malam, Sinta.”

“Malam juga, dasar penjajah. ”

Warna-warna pakaian Iben memang tampak seperti bendera Belanda. Sedangkan t-shirt merah Sinta dengan rok putih berempel sepahanya, menyerupai bendera Indonesia.

“Aku tidak ada maksud untuk menjajah dirimu kok, wahai patriot cantikku.”

“Eh?”

Iben tersenyum lebar dan menarik tangan lembut orang yang disayanginya ke dalam mobil. Mobil melaju menuju jalan raya, tanpa tujuan. Benar, tanpa tujuan. Keduanya lupa akan tujuan mereka malam itu. Betapa konyolnya sepasang kekasih saat sedang dimabuk cinta.

“Kita mau kemana sih?” tanya Sinta geli.

“Nggak tau ya. Ngomong-ngomong, ini udah dua putaran keliling Jakarta, lho,” jawab Iben.

“Gimana kalo kita ke Puncak? Aku udah ijin kemana aja kok.”

“Boleh, tapi…”

“Ya?”

“Satu putaran lagi ya?”

***

Perjalanan ke puncak malam minggu itu tergolong lama. Banyak sekali mobil asal Jakarta di jalanan membuat perjalanan semakin lama saja. Dengan hawa yang dingin, akhirnya Sinta tertidur lelap di sebelah Iben yang menyetir. Takut kekasihnya kedinginan, Iben mengambil baju hangat miliknya di jok belakang dan meletakkannya di atas tubuh Sinta. Di balik seatbeltnya, Sinta tersenyum, namun Iben tidak melihatnya. Pandangannya terfokus ke jalanan Puncak Pass. Akhirnya mobil berhenti di sebuah villa biru muda. Villa kepunyaan keluarga Iben. Sinta terbangun.

“Udah sampai, nih?”

“Guess. Tapi, tutup mata dulu!”

Penasaran, Sinta membiarkan kedua bola matanya tertutup oleh bandana hitam Iben. Iben membawa perempuan itu ke lantai dua, di balkon sebuah kamar di villa tersebut.

“Sabar, ya, bentar lagi kok,” ucap Iben dengan nada romantis.

Sinta merasa malu sekaligus penasaran. Ketika matanya terbuka, dia memandang pemandangan di depannya dengan takjub. Sungguh indah, kemilau bintang-bintang malam yang berkerlip-kerlip, saat dilihat dari sebuah tempat yang bernama Puncak. Selain itu, Iben sudah menyiapkan sebuah candlelight dinner untuk dirinya. Ia tersipu melihat kekasihnya begitu romantis.

“Terima kasih, Iben,” kata Sinta, “dari dulu aku pengen banget candlelight dinner kayak gini.”

“Sama-sama,” jawab Iben. Melihat mata perempuan di hadapannya berkaca-kaca, ia refleks mengusap setetes air mata yang baru saja keluar. “Hei, kok nangis sih? Bukannya seneng?”

“Nggak, bukannya sedih, tapi…”

“Kenapa? Ada yang kurangkah?”

“Bagaimana kamu bisa tahu kalau kita bakal kesini?”

“Tahu dong, aku kan cowokmu yang selalu setia mendampingimu, dimanapun engkau berada.”

“Thanks, dear.”

Iben hanya tersenyum sekilas.

“Eh, ngomong-ngomong, kita mau makan apa nih?”

“Let’s see… untuk appetizer ada Zupa Zupa, main course ada steak tenderloin, terus ada jagung bakar kesukaanmu, dan buat dessert… banana split dengan es krim coklat dan vanila.”

“Wah… tahu aja kamu!”

“Gue gitu!”

Mereka berdua tertawa, sampai Iben mengambil sebuah bun dan menyumbat mulut Sinta.

“Ah, kamu ih!” Sinta mencubit keras kedua pipi Iben hingga membiru.

“Pasti sakit ya?”

Iben hanya mengerang kesakitan.

***

Ida sudah kembali sehat. Untuk merayakan kesembuhannya sekaligus ulang tahun kita berdua, aku ajak dia untuk belajar menyetir. Aku sebagai pemandunya, dan Tante Nana sebagai korbannya. Pertama, aku menghitung mundur dari angka lima, dan setelah aku selesai menghitung, Ida akan menancap pedal gas.

“Lima”

“Empat”

“Tiga”

“Dua”

“Satu. Pelan-pelan dulu ya.”

VRUM! BMW perak Ida dengan cepat sudah melaju pada kecepatan 180 kilometer per jam. Kemampuan akselerasi mobilnya benar-benar bagus.

“PELAN-PELAN DULU!!!”

Bukannya melambat, mobil malah melaju lebih cepat. Ketika aku melihat ada seorang kakek-kakek tua di depan, aku langsung ambil kendali. Kubanting setir ke kanan sambil menginjak rem kuat-kuat. Ban mobil terbakar saat mobilnya berputar-putar di tengah jalan. Tante Nana puyeng, ingin muntah, tapi Ida justru bertepuk tangan. Aku bernapas lega. Sementara kakek tua yang nyaris kami tabrak tidak tahu menahu apa-apa. Untung saja ia selamat.

***

Seorang pelayan berpakaian a la butler Inggris datang saat Iben menjentikkan jarinya. Pelayan itu mengambil dua mangkok Zupa Zupa. Setelah berdoa, Iben dan Sinta saling menyuapkan sesendok sup krim hangat itu. Panas! Keduanya langsung meminum air minum bersamaan, seolah mereka berdua sinkron.

Sinta tertawa geli.

Setelah berkali-kali meniup makanan masing-masing agar cepat dingin, mereka lelah.

“Sin, coba dulu, udah dingin belum?”

“Gak mauuuuu!!!” kata Sinta, ngambek.

“Ladies first.”

“Kalo lidah aku kebakar, gimana, ayo? Mau nggak?”

Iben mengalah dan mencicipi Zupa Zupanya.

“Enak.”

“Bener?”

“Coba aja sendiri!”

Sinta mengikuti entah perintah atau ajakan kekasihnya.

“Enak juga. Siapa yang buat? Pembantumu? Koki sewaan?”

“Yee… enak aja! Aku sendiri yang buat tau!”

“Masa’?”

“Bener. Kalo bohong, aku rela dicium kamu.”

Sinta menjambak-jambak rambut Iben hingga Iben meminta ampun. Setelah itu mereka memakan makanan masing-masing. Dilanjutkan dengan hidangan-hidangan selanjutnya, hingga keduanya puas. Tepatnya, hingga Iben puas dan kenyang.

“Bagaimana, puas?”

“Belum. Kita jalan-jalan yuk!”

“Serius? Nggak kedinginan?”

“Kan ada kamu! Aku bawa jaket kok!”

“Tapi, rok kamu? Entar kedinginan!”

Sinta senang melihat Iben begitu perhatian kepadanya. “Jangan alasan gitu deh, aku tahu kamu beliin aku celana panjang baru.”

Iben tertangkap basah, hanya bisa diam.

***

“Eh, Zen, kok les nyetirnya malam-malam sih?”

“Habis, kamu tidur seharian dari pagi!”

“Kamu juga!”

Aku yang manyun membuat Ida tertawa.

“Nonton yuk!”

“Nonton apaan?”

“Entar lah, kita pilih filmnya disana!”

Tante Nana angkat bicara, “Boleh, Tante juga pengen shopping!”

“Shopping sama siapa, Tante?” tanyaku.

“Om Heru! Iya kan, Pah?”

Om Heru yang baru pulang dari Medan tersedak kopi panasnya.

“Sebentar, aku ganti baju dulu,” ucapnya malas.

Om Heru ternyata tidak bisa menyetir, maka jadilah aku supirnya.

“Mau pake BMW Ida atau mobil kamu, nak?”

Mengingat ban BMW Ida yang aus terbakar, aku putuskan untuk memakai Kijang Innovaku.

***

Iben mengunci pintu villanya. Ia dan Sinta berjalan kaki mengarungi tanaman-tanaman teh yang ditanam di tanah berhektar-hektar luasnya. Mereka berdua berjalan, bergandengan tangan dengan mesranya diiringi cahaya lembut bulan purnama dan kerlap-kerlip bintang malam. Syal pemberian Iben yang dikenakan Sinta terbang ditiup sepoi-sepoi angin malam, tapi Iben langsung menangkapnya. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah batu nisan.

Iben meletakkan setangkai mawar putih di atas makam itu. “Apa kabar, Papah?”

“Iben… kamu…?”

“Sudahlah. Ayo, kita jalan lagi!”

***

“Mau nonton apa?” tanya Ida.

“Heart,” jawabku. Aku ingin nonton film romantis, biar suasananya… gitu lah!

“Nggak mau ah, aku pengennya X-Men!”

“Heart!”

“X-Men”

“Heart!”

“X-Men atau kita putus!” tegas Ida.

Aku heran. Putus? Pacaran aja belum!

“Kidding. Tapi pokoknya saya mau nonton X-Men!” Ida bergegas menuju antrian.

“Eh eh eh, ya udah, tapi aku yang ngantri!”

Ida tersenyum, kemudian pergi.

“Be right back!”

“Hati-hati ya!”

Aku terpaksa mengalah. Antriannya cukup panjang. Baru sekitar lima menit kemudian, Ida kembali dan memberiku sebuah es krim. Kemudian ia ikut mengantri.

Setelah seperempat jam menunggu, kita dapat tiketnya. Sambil menunggu film, aku ajak Ida ke lantai 2. Kemudian aku minta dia menungguku di luar Toys City, dan raut wajahnya berubah cuek. Cuek. Bukan penasaran, bukan sebal, tapi cuek. Tiga menit kemudian aku keluar dengan memeluk sebuah boneka sapi yang bujubune besarnya, kira-kira sebesar tubuh Ida, yaitu 160cm tinggi. Wajah Ida tampak senang, tapi kemudian…

“Kurang besar,” komentarnya.

Aku terkejut mendengarnya. Kurang besar? Masa’ segede gaban gini kurang besar?

Aku taruh bonekanya di dekat pintu keluar, bingung.

“Sebentar…”

Setelah aku tanyakan, boneka yang kubeli sudah yang paling besar, baik dari segi harga maupun ukuran. Itu pun harus kupesan dari saat Ida masih di rumah sakit. Bagaimana dong? Bingung, aku kembali ke Ida, yang kini sedang berfoto-foto narsis bersama boneka barunya.

“Maaf saudari Ida, tapi tampaknya tidak ada boneka yang lebih besar daripada yang sedang Anda foto.”

Ida tertawa. “Nggak apa-apa kok. Tapi ini beneran, ini buat aku?”

“Andai saja ada perempuan cantik lain yang aku kenal di gedung ini…”

Ida tersipu.

Aku menghela nafas sejenak.

“Nur Fa’idah, aku sayang kamu. Aku tidak ingin pergi jauh darimu, dan paras cantikmu hilang dari pandanganku. Maukah kau jadi pacarku?” kataku mantap.

Dari kejauhan, terdengar suara tepuk tangan. Kemudian suara itu mendekat. Ternyata Ida.

Kalau begitu, siapa yang barusan aku tembak?

Perempuan di sampingku berubah wujud menjadi Benny.

“Hai boo… Eike mau kok, jadi pacar situ.”

Mukaku memerah. Ida tertawa.

“Kaizen Malik, simpan dulu boneka itu ke dalam mobilmu dan kita bicara.”

Aku memanggil seorang pria untuk membawa boneka Ida, tapi Ida melarangku.

“Nggak boleh, harus kamu yang bawa.”

Aku pasrah, sekaligus optimis akan jawaban Ida.

***

Iben dan Sinta berhenti di sebuah warung di pinggir Puncak Pass. Iben memesan dua porsi poffertjes saat Sinta sibuk memandang langit malam di tepi bukit. Matanya terfokus pada satu rasi bintang terang.

“Orion,” ujar Benny.

“Sang Pemburu.”

“Betul.”

“Darimana kau datang?”

“Rahasia perusahaan.”

Benny menghilang lagi, digantikan oleh Iben yang berdiri di samping kanan Sinta.

“Poffertjes?” tawar Iben.

“Makasih, Ben,” jawab Sinta, mengambil sebiji poffertjes.

“Bintang kalau dilihat dari sini memang lebih terang daripada Jakarta.”

Sinta dengan lahap memakan poffertjesnya.

“Kamu bisa nggak, bikin poffertjes kayak gini?” tanya Sinta

“Bisa aja, kamu mau?”

“Mau deh, nanti pas kita balik ke villa kamu ya.”

“Oke. Aku janji aku bakalan bikin poffertjes yang terlezat yang pernah kamu coba.”

“Bener?”

“Aku usahain.”

Terdengar bunyi klakson panjang disertai cahaya lampu sorot di sebelah kiri Sinta. Sebuah truk yang remnya blong tengah melaju kencang ke arah mereka.

“Selamat tinggal, bintang kejoraku,” Iben memeluk erat kekasihnya dan mencium keningnya. Kemudian Iben mendorong Sinta menuju keselamatan.

***

“IBEEEEEEEEN!!!!!!!!!!” Sinta terbangun di kamarnya.

“Tenang, tenang, aku ada disini,” kata Iben mengusap kening Sinta, “kamu tadi pingsan pas pelajaran olahraga, jadi aku antar pulang.”

Mendengar itu, Sinta bernapas lega. Ia meneguk air putih yang disodorkan Iben.

Mimpi tadi begitu nyata, pikir Sinta. Kepalanya sedikit pusing.

Sosok Iben di sampingnya hilang.

***

Aku mengunci kembali mobilku setelah memasukkan boneka baru Ida yang mengambil tempat setengah mobil, termasuk jok tengah.

“Kamu tahu kan, pacaran banyak resikonya?”

Aku menelan ludah.

“Tapi, kamu pingin aku jadi pacarmu, betul?”

Aku mengangguk.

“Kamu janji, tujuan kamu bukan hanya nafsu?”

Aku mengangguk lagi.

“Kamu benar-benar menyayangiku?”

Aku mengangguk lagi, mantap.

“Kamu tahu tidak, kalau aku juga menyayangimu?”

Aku tersenyum.

“Aku bersedia menjadi pacarmu.”

“Terima kasih.”

HP Ida berdering. Ia mengangkatnya, namun tak lama kemudian, menutupnya.

“Zen, nontonnya nggak jadi. Nyalakan mobil kamu,” ucapnya.

Tatapan

“Ida, kamu suka ya, sama cowok yang kemarin?” tanya Tante Nana.

Ida hanya bersiul sembari meneruskan masakannya.

“Gitu ih! Eh, masak apa nih?”

“Ada deh…”

Sebal, Tante Nana meninggalkan Ida, menuju ruang keluarga. Ia menyalakan televisi dan menonton berita. Tante Nana terpaku pada layar televisi itu. Hingga keluarlah air mata, dan sebuah teriakan keras:

“IDA!”

“Ya?”

“Ada gempa di Jogja!”

“Wah?”

“Cepat, telepon Om Heru!”

“Ngga ada pulsa, ih!” Emangnya kenapa dengan Om Heru?

“Ya pake telepon rumah, atuh!”

“Itu, di tangan Tante apaan?”

“Handset telepon.”

Muka Tante Nana berubah merah. Dengan cepat ia menekan nomor ponsel Om Heru, dengan harapan bakal diangkat.

Sibuk.

Tante Nana terus mendial nomor itu berkali-kali, hingga akhirnya berhasil. Om Heru selamat, karena kebetulan lagi minum kopi di kafe. Tentu saja, karena Om Heru masih di Jakarta, bukan Jogja.

“Di sini nggak ada gempa kok, say. Aku kan masih di Jakarta! Kok bisa lupa sih?” cetus Om Heru, tertawa.

Muka Tante Nana bertambah merah. Hingga akhirnya pingsan. Aku mengambil handset itu dan melanjutkan percakapan.

“Halo Om, ini Ida, Tante pingsan.”

“Aku tahu. Itu kebiasaan dia. Bentar lagi juga bangun, kok. Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam.”

Ida kembali memasak, hingga kemudian badannya terasa tak enak.

Sampai saat Tante Nana bangun, saat itulah Ida yang giliran pingsan. Tubuhnya sangat panas. Tante Nana langsung memanggil Dono, supir keluarga, untuk mengantar Ida ke rumah sakit.

Starbucks, Cilandak Town Square

“Hai Ben” kataku sambil menyeruput capuccinoku.

“Hei,” jawab Iben, “ Film bentar lagi udah mulai nih!”

“Nyantai…”

Hari ini aku sedang tidak mood. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk nonton film di XXI bareng SCT. Film action katanya, tapi aku tidak begitu peduli, yang penting bisa bikin mood lagi. Sebentar lagi UNAS, dan kita butuh refreshing. Namanya juga ‘hari tenang’.

Ternyata aku ditipu. Filmnya bukan action sama sekali, malah justru film drama romantis. Katanya, buat dua pria yang sedang dimabuk cinta. Ya, nggak apa-apa. Menonton film itu aku jadi teringat Ida… sedang apa ya, dia?

Setelah film selesai, kita punya acara masing-masing. Iben harus menjemput Sinta, Terry harus menjemput Santi, sementara Anto, Arie, dan Adri berencana untuk ke ‘panti pijat’. Paling tidak begitu katanya. Kata mereka, tubuh mereka lagi pegal, tapi entah apa maksud mereka sebenarnya. Aku ada urusan administrasi rumah sakit yang harus diselesaikan dulu. Maka bergegaslah aku ke Medistra.

Di jalan, perasaanku berubah menjadi tidak enak. Tanpa kusadari, tahu-tahu aku sudah mengambil ponselku dan menekan nomor Ida, dan ponsel itu sudah tertempel di telinga. Terdengar beberapa kali nada sambung, tapi akhirnya masuk mailbox. Ida tidak mengangkat telepon. Apa artinya? Seorang Ida tidak pernah menolak telepon dariku. Karena aku makin cemas saja, aku telepon Tante Nana.

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam.”

“Ida dimana, Tante?”

“Ida…”

“Kenapa?”

“Ida masuk rumah sakit, Zen. Tubuhnya panas banget.”

Aku tidak percaya.

“Rumah sakit mana, tante?”

“Medistra”

“Ya udah, aku ke sana ya!”

Kutancap gas, melewati begitu banyak mobil, bahkan polisi yang mencegatku karena melanggar 3in1. Aku tidak peduli. Yang aku pikirkan saat ini hanyalah Ida seorang. Aku hanya berhenti saat berada di pintu masuk Medistra. Aku parkirkan mobilku dan menuju meja resepsionis.

“Mbak, boleh tanya, pasien Nur Fa’idah ka—“

“Tiga Kosong Empatbelas”

Tiga kata itu dan aku melesat menuju lift. Lantai tiga, aku keluar. Mencari-cari kamar 314. Aku sudah lumayan hapal rumah sakit ini, karena aku sendiri pernah dirawat disini.

Ketemu!

Aku ketok pintunya. “Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam,” Tante Nana membuka pintunya.

“Ida gimana, Tante?”

“Baik, jumlah trombositnya tidak terlalu drastis.”

“Trombosit? Ida kena DB, Tante?”

“Iya. Tante khawatir, minggu depan kan latihan UNAS…”

“Nanti saya atur susulannya, Tante.”

“Makasih ya Zen. Tante mau pulang dulu sekarang, Assalamu’alaikum.”

Dan Tante Nana pergi meninggalkan Ida denganku seorang. Aku terus berdo’a agar Ida diberi kesembuhan.

***

Ida siuman. Zen tertidur lelap di sebelah kanannya. Ida tersenyum. Dia lucu kalau lagi tidur. Ida membetulkan jaket yang menutupi Zen, kemudian menonton TV.

“Acara gosip. Bosen ah!”

Zen tiba-tiba mengigau, “MTV aje…”

“Bener juga ya.”

Ida mengganti saluran TV menjadi MTV, namun ia lebih memilih untuk hanya mendengarkan lagu-lagunya saja. Ia lebih suka membaca sebuah novel bertema filsafat islami sambil minum jus jambu ketimbang nonton TV. Selesai beberapa chapter, pandangannya beralih ke Zen.

Imut juga ni anak.

“Dor,” cetusku tiba-tiba, namun dengan nada datar.

“Hei Zen, udah bangun ya? Udah shalat subuh belum?”

“Enak aja, orang gue baru tidur jam empat… setelah shalat malam sama subuh.”

“Alhamdulillah.”

Zen angkat kaki ke wastafel dan mencuci muka, kemudian mengambil sebuah roti untuk sarapan.

“Mau?”

“Nggak, makasih. Perutku masih belum bisa mencerna.”

“Maksudku, jambu biji, o’on,” balas Zen gemas.

Muka Ida memerah saat Zen mengambil pisau dan mengiris sebuah jambu biji dengan lihai. Terbagilah jambu itu menjadi delapan irisan sama besar. Ida bertepuk sebelah tangan, karena tangan yang satu lagi diinfus.

***

“Sinta…”

“Iben…”

“Sinta…”

“Iben…”

“Sinta…”

Sinta mengambil sebuah roti ukuran besar dan memasukkannya kepada mulut Iben.

***

“Aku pulang dulu ya, ambil baju sama makanan dikit-dikitan. Mau nitip ngga?” tanyaku pada Ida.

“Yaah… jangan pergi dulu…” jawab Ida pelan.

“Apa?”

“Oh, nggak, nggak, nggak mau nitip.”

“Oke… aku kembali nanti siang, ya.”

“Oks. Jazakallah.”

“Amin. Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”

Aku memutar gagang pintu, tapi Ida memanggilku.

“Eh, Iben, selamat ulang tahun!”

“Tadinya sih aku mau bikin surprise, tapi karena kamu kayak gini… happy birthday juga.”

“Terima kasih.”

Arti

Huaaah… aku bangun. Ibu dan Ida sudah bangun dari tadi. Ibu sedang di kamar mandi, sementara Ida sedang menyikat gigi. Terdengar suara Ida sedang bersenandung samar-samar di balik busa pasta gigi. Lucu. Ini pertama kali aku melihatnya menggosok gigi. Tak lama kemudian, Ibu keluar dari kamar mandi.

“Pagi, Zen. Baru bangun?”

“Pagi, Bu. Ya iya lah… susternya belum dateng? Infusnya hampir habis nih…”

“Bentar lagi kok. Sekarang baru jam 6 kurang seperempat.”

Ida tampaknya sudah selesai menggosok gigi.

“Eh, Zen, Ibu sama Ida mau ke bawah dulu ya, cari makan.”

Aku hanya mengangguk. Aku juga sudah lapar, tapi sarapan paginya belum diantar.

Walau aku di rumah sakit, aku cukup bahagia. Ibu dan Ida tampak sangat akrab, entah kenapa.

Tiba-tiba terdengar suara kaki-kaki yang berjalan di koridor. Mungkin itu suster, pikirku. Tapi lama-lama aku sadar bahwa kaki kecil suster-suster disini tidak seperti itu suaranya. Aku mulai cemas. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, sedikit demi sedikit. Terlihat seseorang, berpakaian serba tertutup, seperti pencuri yang akan menyusup. Tapi, tidak seperti layaknya seorang penyusup, orang ini pakaiannya begitu… rapih, dan… matching! Mana warna-warna yang dipakainya sangat ‘in’ untuk bulan ini. At least, begitu kata Sheila. Kemudian dia memberi aba-aba seperti menyuruh aku diam. Kalau dia benar-benar preman, aku dalam posisi sangat terdesak. Kalau ia benar-benar preman.

Kemudian ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya padaku. Setelah kuamati lagi, pistol itu hanyalah pistol mainan. Aku dikerjai. Maka aku berusaha menahan tawa, biar rencana berjalan seperti yang ia inginkan.

Dor! Pistol itu mengeluarkan bunga. Aku tertawa. Aku bosan dengan trik ini. Tapi, dia menarik pelatuknya sekali lagi. Bunga-bunga plastik tadi menyemprotkan air ke mukaku. Kali ini ‘preman’nya yang tertawa. Tapi ia tidak membuka balaclava nya.

“Benny, lo ngapain pake itu? Lepasin dong!”

Benny. Salah satu ‘mitra’ geng SCT, dan seorang ninja penganut aliran transvestisme, alias ‘bencong’. Hingga kini, orientasi seksualnya masih diperdebatkan.

“Ih, ogah deh, situ pasti ngga mau lihat yang dibawah indang! Menyeramkan, bow!”

Aku hanya tertawa. “Ngomong-ngomong, lo begimana bisa ngelewatin satpam di bawah?”

“Rahasia perusahaan.”

Benny menghilang, meninggalkan dompetnya.

***

Suster akhirnya datang, membawa sekantong penuh cairan infus. Ia mengganti kantong yang sudah kosong dengan yang penuh, mencatatnya, mengambilnya, kemudian pergi. Tanpa sepatah kata pun. Dingin sekali. Suhu ACnya aku ubah menjadi sedikit lebih tidak dingin (alias sedikit lebih panas). Kemudian datang seorang ibu yang membawakanku sarapan. Akhirnya perutku berhenti berteriak.

Makan!

Akan tetapi, saat sendoknya sudah berada di depan mulutku, aku malah berkhayal. Andaikan Ida yang menyuapku pagi ini. Andai saja. Semua orang tahu itu tidak mungkin! Lagipula, aku bukan bayi.

Ibu dan Ida kembali, bersama seorang ibu berkerudung.

“Assalamu’alaikum,” salam Ibu.

“Wa’alaikum salam,” jawabku, mulut masih penuh dengan bubur.

“Perkenalkan, ini Tante Nana,” kata Ida, “Beliau tante saya.”

Aku dan Tante Nana berkenalan.

“Cepat sembuh ya, Zen. Aku pulang dulu, Assalamu’alaikum,” pamit Ida.

“Wa’alaikum salam.”

Setelah Ida pergi, aku ngobrol dengan Ibu. Ternyata, Ibu telah lama kenal dengan Tante Nana, juga ibu dan bapaknya Ida. Tapi, mereka menghilang dalam bencana Tsunami Desember 2004 silam. Ida dan keluarga besarnya sudah berusaha mencari informasi tentang kedua orang tua Ida, tapi gagal. Ida sendiri pada saat itu sedang di Jakarta, dan selamat. Sejak peristiwa itulah, Tante Nana beserta suaminya, Om Heru, yang mengasuh Ida, dengan tabungan keluarga Ida yang bujubune besarnya. BMW peraknya? Oh, bukan, itu hadiah dari sebuah lomba yang ia menangkan.

Ida yatim piatu. Siapa yang menyangka? Jelas bukan aku.

***

Seminggu kemudian…

Akhirnya aku keluar dari rumah sakit dan kembali sekolah. Tidak banyak temanku yang datang menjengukku saat aku di rumah sakit. Ketika aku bertanya kepada mereka, ternyata kebanyakan tidak tahu bahwa aku masuk rumah sakit.

“Ben, kenapa gak lo kasih tau kalo gue masuk rumah sakit?”

“Lo sendiri ngapain ngunci gue di dalem UKS bareng Sinta?”

Aku tidak dapat menjawab, dan Iben pergi menuju kantin sambil bersiul. Aku menyusulnya. Tanpa berpikir panjang, kita berdua memesan menu favorit kita, nasi timbel dengan teh botol. Sambil menunggu, aku menanyakannya soal bagaimana ia bisa jadian sama Sinta.

Dan aku berhasil membujuknya untuk menceritakannya. Dengan syarat, aku membayar semua makanan dia.

Iben bersiap-siap

Hari Kamis, tanggal 24 Januari. Angin sepoi-sepoi. Cuaca cerah, temperatur 24 derajat Celsius. Kelembapan udara… kurang tahu.

Toilet Pria alias Kamar Mandi Cowok. Iben sedang menyiapkan strategi. Berkali-kali ia berlatih di depan cermin.

“Ketahuilah bahwa aku mencintaimu, sayangku.”

Tidak, tidak, tidak. Itu masih kurang untuk mendapatkan hati seorang bidadari yang bernama Sinta.

“Aku cinta kamu! Maukah kau jadi kekasihku?”

Terlalu mendramatisir. Kurang cuco.

“Gue suka elo.”

Apa itu?

“Kamu cantik, deh.”

Itu sih cuman memuji!

“Sudah beribu-ribu cewek yang aku temui, tapi baru kali ini aku lihat seorang bidadari.”

Lumayan. Tapi masih kurang.

Iben sempat terpikir untuk membuat sebuah puisi. Tapi ia tidak berbakat.

Bagaimana kalau ia ajak Sinta untuk jalan-jalan? Tidak.

Bagaimana kalau ia beri hadiah, dan hal-hal lainnya yang membutuhkan duit? Berat di ongkos. Dompet Iben diambil Benny, dengan jurus ninjanya.

Akhirnya Iben memutuskan untuk pergi apa adanya, dengan sisa hayat yang masih dikandung badan.

Iben bertemu Sinta

Agak deg-degan memang, tapi ia harus melakukannya.

Akhirnya ia ketemu Sinta, di dekat mading. Iben berusaha menenangkan diri.

Iben mulai membuka mulutnya, berniat untuk mengungkapkan perasaannya, saat itu juga.

“A…”

Sinta tertawa sedikit. “Tenang, aku menerimamu, kok.”

Kemudian datang saja Benny dari langit dan menampar Iben.

“Selamat, ya!” katanya.

Tanpa satu patah kata (oke, ada satu huruf yang dikorbankan) pun, Iben mendapatkan seorang pacar.

Kembali ke Kantin…

“Begitulah,” kata Iben.

Tapi aku sudah melahap habis nasi timbelku, dan kembali ke kelas.

Farfetched

Iben mendatangiku dengan muka yang merah sekali, seperti ditampar.

“Ben, kenapa muka lo?”

“Habis ditampar anak-anak seangkatan. Hampir semuanya.”

Wah, ternyata ramalanku benar. Jangan-jangan aku bakat peramal? Tidak! Aku tidak sudi

menjadi peramal! Apalagi dukun!

“Wah, emangnya lo ngapain?”

“Oh iya, gue belum ngasih tahu elo. Sorry, man. Gue baru jadian.”

“Sama siapa?”

“Sinta. XII Sos-2”

Aku tidak mau menampar dia. Itu sudah pasaran. Kujambak rambutnya, dan kucabut sehelai

rambut — putih. Iben, sahabatku, ubanan.

“Apa ini? Lo ubanan, Ben!”

Mata Iben menunjukkan ketidakpercayaan. Aku hanya tertawa sedikit.

“Ibeeen… Ibeeen… ini sih bukan uban.”

“Apa, dong?”

“Ada burung pup di rambut lo.”

Bruk! Iben, sahabatku, pingsan. Aku berniat menggotong tubuh ceking dia ke UKS, tapi tibatiba

datang beberapa anak PMR dengan stretcher. Sebelum mengangkut Iben, mereka melihatku

dengan tampang menggoda dulu. Sekalian say hi, kali ya. Aku hanya membalas dengan

senyuman, itu pun dipaksa. Walaupun Iben pingsan, aku tetap cuek. Bagi Iben, hal ini sudah

biasa. Selain di-taik-in burung, tentunya.

***

Aku kembali ke kelas. Pelajaran terakhir di minggu pertamaku di sekolah ini. Bahasa Prancis.

Guru yang mengajarnya tidak diperkenalkan oleh Iben, menandakan bahwa ia disegani. Atau,

Iben saja yang tidak mengerti bahasa Prancis. Dan sepertinya yang kedua. Ternyata gurunya, Pak

Leo, baik-baik saja. Asalkan kamu mengerti bahasa Prancis. Pak Leo ternyata sangat narsis dan

suka makan fish sama buncis. Bagaimana saya tahu? Rahasia perusahaan, my friend.

Setelah pelajaran Bahasa Prancis, bel terakhir berbunyi, menandakan waktu belajar sudah

selesai. Setelah merapihkan tas, aku langsung menuju UKS. Terlihat Sinta sedang bermesraan

dengan Iben. Terlihat pula kunci UKS yang tergantung di pintu. Iseng, aku ambil kunci itu, dan

mengunci ruangan dari luar. Tapi kuncinya aku simpan di bingkai jendela. Aku tak sabar menanti

wajah mereka yang… entah bagaimana ekspresinya.

Ketika aku berbalik, aku terkejut. Ida, rupanya.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” balasku. Sudah mulai terbiasa.

“Ngapain kamu?”

“Oh, ini… si Iben tadi pingsan gara-gara ada burung tiba-tiba pup di kepalanya.”

“Terus, kok dikunci?”

Sebelum menjawab pertanyaan Ida, aku sudah kabur. Menuju tempat parkir. Tapi aku

berhenti di mading dekat ruang serbaguna. Tertempel di situ, sebuah poster tentang lomba

renang antar SMA se-Jakarta Raya.

“Ehem,” cetus Ida, berusaha menarik perhatian.

“Eh, ada Ida. Ini ada lomba renang… kalo gue ikut gimana ya?”

“Emangnya kamu suka renang?”

“Me pardonner… gue dulu atlit renang… pas di Prancis.”

“Tapi itu dulu kan? Berapa tahun yang lalu”

Dengan ragu-ragu dan sedikit rasa malu, aku menjawab, “Tiga.”

Ida tertawa kecil. “Itu sudah kelamaan! Ayo, latihan sana!”

Mukaku memerah. Ida seperti menjadi ibuku.

“Tapi lo temenin gue!”

Namun Ida sudah pergi. Murung, aku angkat kaki menuju mobilku. Ternyata Ida ada di sana,

menghalangi aku. “Nggak solat Jum’at?” tanyanya.

Aku mencari alasan. “Aku mau naro tas dulu,” jawabku terpatah-patah.

“Oh, begitu. Saya duluan ya, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Aku bergegas menuju masjid. Adzan sudah berkumandang.

***

Di UKS

“Iben?”

“Ya?”

“Kita nggak bisa keluar dari sini!”

“Bukannya elo anak PMR?”

“Iya, tapi ini pintu dikunci dari luar!”

“Sin…”

“Ya?”

“Gue cinta elo.”

“Gombal.” Wajah Sinta menjadi sedikit ‘nakal’. Paling tidak, menurut Iben.

“Lo udah cuci rambut belum?”

Muka Iben memerah…. sangat merah… dan ia jatuh pingsan. Lagi.

***

Di Lapangan Parkir

Aku buka kunci mobil dan masuk. Aku buka kaca spion yang terlipat di kiri-kanan mobil.

Kemudian aku nyalakan mobil dan keluar sekolah. Terlihat Ida yang sedang jalan kaki di trotoar,

dan berhenti sejenak untuk memberi — bukan uang, melainkan beberapa bungkus nasi bungkus

untuk seorang ibu-ibu pengemis dan anaknya. Aku sangat kagum dengan ‘ritual’ — tapi bukan

ritual — itu. Sampai-sampai beberapa mobil di belakangku menglaksoniku. Aku tidak berhenti,

melainkan melaju dengan sangat lamban.

Dan aku teringat akan Ibel dan Sinta. UKS belum aku buka kuncinya. Seingatku, Ida juga

tidak membukanya. Aku putarkan mobilku.

BRAK! Itu suara terakhir yang aku dengar.

***

RS Medistra, kamar 302

Mataku membuka, setelah selama lima jam terpejam.

Wajah pertama yang aku lihat… cantik. Manis. Ibu.

“Aku di rumah sakit ya, Bu?”

Biasanya, orang bertanya-tanya dimana mereka berada, tapi aku beda.

“Man, kena karma lo!” sindir Iben.

Aku tertawa sedikit. Kepalaku sedikit pusing.

Pintu terbuka. Ida masuk. “Assalamu’alaikum,” sapanya.

“Wa’alaikum salam,” serentak semua yang berada di ruangan menjawab. Kecuali Iben, dia

atheis. Tapi mata ia tampak berbinar, kagum.

“Wa— selamat malam, Ida.”

Apakah aku salah dengar? Iben seolah-olah ingin menjawab salam Ida.

“Halo Zen. Lain kali, kalo muterin mobil, hati-hati ya!”

“Emangnya aku kenapa?”

“Minor concussion. Sangat ringan, untungnya.” Iben menjawab dengan gaya sok jadi dokter.

“Geger otak. Untungnya, sangat ringan. Tidak ada kerusakan permanen pada otakmu,” jawab

Ida, sembari meletakkan keranjang buah di meja, “tapi kamu harus bedrest selama seminggu

disini.”

“Anehnya, mobilnya nggak rusak,” kata Ibu aku.

Seminggu bedrest… tidak apa-apa, jadi nggak usah belajar di sekolah. Lagipula, kamarnya

pewe. VVIP gitu! Ada TV… AC… lengkap.

Kemudian pak satpam memberitahu, waktu kunjungan sudah selesai. Iben pamit, dan pulang.

Tapi Ida tidak pergi.

“Zen, aku boleh nungguin kamu kan? Kata ibu kamu boleh, kok.”

“Bo-bo-boleh, boleh. Thanks ya.”

“Sama-sama.”

Dan Ida tersenyum manis lagi. Senyumannya seolah dapat menghilangkan rasa sakitku.

Delapan

KRIIIINNGGG! Alarmku berbunyi. Waktu menunjukkan pukul lima pagi. Aku langsung keluar dari tempat tidur, dan… ADAW! Aku terpeleset sebuah kulit pisang, yang terletak tepat di samping tempat tidurku. Entah bagaimana kulit pisang itu bisa sampai di sana. Dengan kesadaran penuh (aku benar-benar terbangun karena terpeleset), aku beranjak ke kamar mandi. Namun aku lupa dimana kamar mandinya. Baru satu hari aku berada di rumah baruku ini. Dan karena kemarin aku sibuk mengurus Eno, mobilku yang rusak, dan tentunya Ida yang manis, aku tidak sempat ke kamar mandi. Bahkan, seingat aku, aku tidak buang air kemarin.

Aku tidak mengerti mengapa Ayah dan Ibu memutuskan untuk memindahkan sekolah aku, sementara Eno tidak. Memang, kita pindah rumah, tapi tetap di kota yang sama! Katanya sih, biar aku lebih pintar, karena sekolahnya lebih ‘bagus’. Padahal tahun ini aku sudah kelas XII, jadi terasa kagok… Tapi biarlah, karena aku tergolong cepat menyesuaikan diri.

Setelah kujelajahi rumah baruku, akhirnya ketemu juga kamar mandinya. Tepatnya, di depan kamarku. Buset. Aku bergegas mandi, buru-buru. Setelah 30 menit, baru aku keluar. Maklum, pintunya bermasalah. Aku langsung makan sarapan dan gosok gigi. Setelah pamit kepada Ayah dan Ibu, aku langsung menyalakan mobil dan berangkat ke sekolahku yang baru. SMA 8. Tidak lupa, aku bawa selembar kertas yang berisi ‘pidato’ singkatku alias perkenalan diri. Formalitas yang kadang memalukan, tapi buat aku, mungkin justru bisa menaikkan pamor. Aku kan keren (™).

***

Sesampainya aku di sekolah, aku langsung disambut oleh satpam dan tukang parkir yang belum pernah melihatku sebelumnya. Juga para adik kelas cewek yang tampak terkagum-kagum melihatku. Itu semua sudah biasa bagiku.

Aku masuk kelasku. Kelas XII Bahasa 1. Mengapa bahasa? Karena aku (sok) tergila-gila dengan filsafat. Terlihat lagi cewek-cewek yang menatapku. Ada pula seorang cowok yang menghampiriku, berkenalan. Namanya Iben. Dia bilang dia akan mengajakku berkeliling sekolah saat istirahat kedua.

Istirahat Kedua

Iben mengajakku keliling sekolah. Ia memperkenalkanku pada kurang lebih semua guru, yang tersenyum padaku. Tepatnya, guru-guru yang tidak ia perkenalkan adalah guru-guru yang kurang asik. Saat kita berdua ke kantin, aku tidak percaya pada apa yang kulihat.

Ida.

Aku sungguh tidak percaya. Ternyata dia sekolah di SMA ini. Aku langsung bertanya pada Iben.

“Ben, lo kenal sama anak itu ngga?”

“Mana? Yang berkerudung itu? Namanya Ida. Kelas Aksel, semester ini dia setara dengan kita, kelas duabelas.”

Aku terpana.

“Hoi, bangun!”

Aku berjalan menuju Ida. Dia terlebih dahulu menyapa aku.

“Assalamu’alaikum,” sapanya.

“Wa’alaikum salam.” Hore! Aku berhasil menjawab salamnya langsung!

“Ternyata kamu sekolah disini juga ya, z… eh, siapa nama kamu? Saya lupa.”

“Zen. Aku murid pindahan. Kamu aksel ya? Berarti nanti kita lulus seangkatan, dong!”

Tampak berpuluh-puluh cewek berbaju indis menatap aku dan Ida, sinis.

“Itu kalau lulus. Kalau kamu lulus.”

“Nyindir nih?”

“Gitu deh.”

“Eh, lo nyetirnya gimana? Udah mendingan?”

“Hehe… belum… sekarang saya terpaksa diantar kemana-mana.”

“Bagaimana kalau gue ajarin?”

“Hehe… lihat saja nanti. Eh, bel sudah bunyi tuh! Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Dia benar-benar cantik. Dan benar. Bel telah berbunyi, menandakan sudah waktunya untuk kembali ke kelas. Tapi suara bel hanya aku dengar samar-samar, karena ada satu bunyi yang mengalahkannya — perutku yang keroncongan. Aku belum makan sedikitpun. Ternyata Iben sudah mendahuluiku, ia duluan ke kelas.

Pulang Sekolah

Aku sungguh lapar. Ingin sekali aku makan banyak-banyak dengan tingkah super rakus, kebalikan 180 derajat dari table manners, tanpa diperhatikan orang lain. Ingiiin sekali. Apabila aku makan di kantin sekolah, pasti bakal banyak yang menertawakan, maka aku ajak lima orang teman (cowok), yang aku pilih secara acak, dan Iben, untuk makan di restoran all-you-can-eat. Borju, katamu? Tidak juga, aku pakai kupon kok. Lagipula, aku bisa lebih mengenal mereka disana.

Di dalam mobil, kita ngobrol sampah. Nama-nama mereka ada Dhimas, Terry, Anto, Arie, dan Adri. Ternyata mereka semua itu anak satu geng, dan mengajak aku untuk masuk. Tapi geng mereka itu geng baik-baik, rajin menabung, dan berbakti kepada orang tua. Jadi, why not? Saat itulah aku resmi masuk geng ‘S.C.T.’. Singkatan dari: Sekumpulan Cowok Tampan. Kenapa harus SCT? Kenapa tidak SLT? ‘Cowok’ dan ‘cewek’ kan sama-sama diawali dengan huruf ‘C’! Bisa saja kan, diterjemahkan sebagai ‘sepuluh cewek tercantik’! Biarlah. Yang penting, MAKAN!

Setelah semuanya selesai, aku urus pembayarannya, dan membuka pintu mobil. Sungguh capek. Aku berniat langsung meloncat ke atas kasur saat sampai di rumah. Tapi jalanan macet. Jakarta, oh Jakarta.

Terpaku

Hari ini panas. Sangat panas. Cuaca yang sangat menyebalkan. Tidak hanya itu, ada saja orang yang bikin tambah ‘panas’ suasana. Eno, adikku, terus mengajakku untuk pergi ke Ancol. Memang, di sana ada beragam wahana yang bisa bikin dingin, tapi aku capek. Sangat capek. Jangan tanya kenapa, pokoknya capek. Biarkan saja dia menangis disitu! Tapi… kakak macam apa aku ini?

Tiba-tiba bel berbunyi. Ayah dan ibuku baru pulang dari supermarket. Aku berniat membuka pintunya duluan, tapi Eno lebih cepat. Begitu pintu dibuka dan Ibu mengucap salam, Eno langsung menangis, complain soal kakaknya yang gak becus ini. Tapi sebelum dia berkata terlalu banyak, langsung kubungkam mulutnya dengan wajah sok polos dan senyum iklan sikat gigi kepada Ibu. Apa boleh buat, akhirnya kita berdua ke Ancol. Yang satu sangat gembira, yang satu lagi terpaksa. Mobil pun melesat menuju jalan raya, dan terjebak disana. Persetan kota Jakarta yang membiarkan penduduknya mati muda di jalanan. Jalan tol tidak jauh berbeda. Macet. Macet…cet…cet… (dengan efek bergema) Setelah berjam-jam berlalu, akhirnya mobil berhasil masuk jalan tol, yang kini lega.

“Siap?”

Eno menelan ludah.

Dan mobil pun melesat dengan kecepatan tinggi! Sangat cepat, saudara-saudara! Tapi itu tidak berlangsung lama. Bruk! Mobilku tertabrak. Atau tidak, melainkan mobilku ditabrak. Oleh BMW pula. Sebagai tipe orang yang tidak suka dengan situasi begini, aku hadapi saja dengan kepala dingin dan gaya secuek-cueknya. Tetapi, orang yang menabrakku ternyata seorang perempuan berkerudung. Cantik. Ekspresiku berubah menjadi seorang fanboy di hadapan idolanya. Mulut menganga, terpesona. Di pinggir bibir ada setetes air liur, tertarik oleh gravitasi. Untung saja itu hanya konotasi, tapi aku sungguh terpesona. Ia meminta maaf berkali-kali dengan wajah yang alangkah gemasnya tapi aku hanya bisa terdiam. Akhirnya saat ia menawarkan ganti rugi, saya tolak, dengan suara yang sedikit canggung. Ia berterima kasih, dan aku membalasnya. Kemudian ia masuk ke mobilnya, dan langsung melesat cepat. Semoga ia selamat di jalan. Lalu aku sadar bahwa aku lupa meminta nomor teleponnya. Sial.

***

Mobil derek berhenti di bengkel. Raut wajah Eno tampak jengkel. Sampai rumah, pasti Ayah bakal ngomel. So what? Aku terus ingat perempuan tadi. Apakah ini cinta? Gitu deh. Tapi kenapa aku tidak minta nomor teleponnya? Bego, bego, bego! Tapi, namanya jodoh tidak akan pergi jauh-jauh kan? Emang bener. Tampak ada mobil derek yang masuk ke penataran bengkel. Mobil itu menderek sebuah sedan mewah — BMW berwarna perak yang menabrakku. Dunia ini memang begitu sempit. Secepat benda kuantum yang tidak bergerak, secepat itulah rasa dendam terkalahkan oleh cinta. Karena memang sebetulnya aku tidak pernah dendam. Begitu perempuan itu keluar dari mobil derek, aku hampiri dia. Aku menawarkan untuk berjabat tangan, tapi ia hanya tersenyum.

“Halo, Anda yang tadi saya tabrak ya? Sekarang saya kena impasnya juga, deh…”

“Oh, eh, iya. Nggak apa-apa kok. Kamu mengemudinya cepet banget! Lain kali, hati-hati ya!”

“Hehehe… maaf, maklum, baru belajar.”

“Oh, begitu. Oh ya, perkenalkan. Nama saya Zen. Lengkapnya Kaizen Malik.”

“Nama saya Nur Fa’idah. Panggil saja Ida. Ngomong-ngomong, nama kamu kok an… eh, unik banget?”

Aku tertawa ringan. Ida ikut tertawa. Kuakui, namaku memang aneh. Beginilah jadinya kalau punya orang tua yang kawin muda. Saat masih kuliah, mereka menikah. Ibuku seorang bintang kampus yang baik-baik dan ayahku seorang geek informatika. Saat itu Ayah sedang tergila-gila akan Jepang. Awalnya dari anime, hingga akhirnya begitu tertarik dengan budaya, bahasa, dan segala tentang mereka. Bahkan Ayah sempat mencoba menelusuri silsilah keluarganya. Ayah percaya bahwa, walaupun sedikit, ia punya hubungan darah dengan warga negara matahari tersebut. Ia terus mencari… dan mencari… dan mencari… hingga Ayah mengenal Ibu. Kata Ibu, Ibu sempat melanjutkan ‘penelitian’ Ayah. Sayang sekali, cerita selengkapnya tidak dapat saya publikasikan. Oh iya, konon, bagaimana Ayah yang begitu kuper bisa mendapatkan hati Ibu yang dambaan cowok-cowok sekampus adalah misteri. Hanya mereka yang tahu.

Kita terus ngobrol, sampai Eno menepuk bahuku, mencubit lenganku, dan menjambak rambutku. Monster! Monster yang kelaparan. Monster itu mengancam akan lapor kepada Ibu bahwa ia kelaparan karena tidak diberi makan oleh kakaknya. Setelah kalimat itu, kucabut julukan ‘monster’, karena apabila Eno adalah monster, berarti kakaknya yang tampan beserta ibunya ini monster juga! Itu penghinaan namanya! Ida tertawa lepas. Mukaku memerah, tapi karena marah, atau malu? Mobil kita rupanya sudah selesai dibetulkan. Adzan Maghrib mulai berkumandang.

“Eh, bol–” tanpa menyelesaikan kalimatku, Ida mendiamkanku. Baru setelah adzan selesai, dia mempersilahkanku berbicara kembali.

“Coba, kau renungkan adzan itu. Suaranya sungguh indah. Mobil kita tampaknya sudah selesai, saya ke masjid dulu ya!”

“Tunggu! Bolehkah saya minta nomor HP kamu?” tanyaku. Aku tak mau melakukan kesalahan dua kali.

“Boleh. Jangan tinggalkan Sholat ya.”

Aku langsung meng-save nomornya, tanpa memperhatikan perkataannya sebelumnya.

Assalamu’alaikum.

Wa’alaikum salam,” jawab Eno. Namun Ida harus mengulang ucapannya sebanyak tiga kali sebelum aku menjawab.

Ida tersenyum manis. Maniiiis sekali. Aku ragu apakah gula dapat menandinginya atau tidak. Kemudian dia menegurku. “Lain kali, kalau orang mengucapkan salam, kamu langsung jawab ya!” seperti seorang Ibu yang memarahi anaknya. Aku pun mengangguk, pasrah. Saat itu juga ekspresiku berubah menjadi tampang fanboy terhadap idolanya, hanya saja kali ini benar-benar terjadi, bukan sekedar konotasi belaka. Senyum itu… sungguh indah.

“EHEM! Earth to Kak Zen!

Dan Eno pun menarik aku kembali ke dunia nyata.

“Kak Zen suka ya, sama Kak Ida?”

Apa itu? Siswa SD kelas 5, masih manja, mengerti tentang cinta? Untuk zaman sekarang sih wajar, tapi tetap saja aku harus mendramatisir, selama hayat masih dikandung badan.

“Hus! Anak kecil nggak akan ngerti! Ayo, kita makan di restoran favorit kamu!”

Mata Eno berbinar, seolah berkata: Mauuuuuu!

Eno memang aneh. Dari kecil dia begitu. Nama lengkap dia sebenarnya Raffi Anwar, tapi entah kenapa saat dia mulai berbicara, dia memanggil dirinya ‘Eno’. Entah dari mana dia dapat nama itu. Orang tua kita selalu menentang dengan memanggilnya Raffi. Tapi tidak berhasil. Eno terus memaksa, hingga akhirnya dia berhasil menaklukkan Ayah dan Ibu, juga aku dan pembantu kita. Betapa dahsyatnya adikku ini.

Dan kini, Kaizen Malik telah berhasil menaklukkan Raffi Anwar.